<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600</id><updated>2012-01-28T21:24:47.364+07:00</updated><category term='review musik'/><category term='review tokoh'/><category term='animasi'/><category term='cerita sebuah foto'/><category term='dialog'/><category term='agenda'/><category term='foto'/><category term='saksi mata'/><category term='review buku'/><category term='spiritual'/><category term='puisi'/><category term='ocehan pagi'/><category term='fiksi'/><category term='review film'/><category term='personal writing'/><category term='opini'/><category term='transenden'/><category term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti</title><subtitle type='html'>Blog berisi tulisan-tulisan yang merepresentasikan diri sebagai badan subjektif--yang belakangan dipakai sebagai jurnal pengingat.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>409</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8002884709753363984</id><published>2012-01-28T21:19:00.000+07:00</published><updated>2012-01-28T21:24:47.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Jumat Kala Itu</title><content type='html'>Jumat kala itu sangat berkesan buat saya. Saya, Andika, Neni (dan teman-temannya) nonton teater boneka bertajuk Spleen: Puisi dalam Prosa.&amp;nbsp;Apa &lt;i&gt;spleen&lt;/i&gt; itu? Arti harfiah dalam bahasa Inggris adalah limpa. Berdasarkan katalognya, dituliskan bahwa dunia intelektual Inggris abad ke-18, sikap melankolis terhadap dunia dinamakan &lt;i&gt;spleen&lt;/i&gt;. Kemudian di abad 19, perempuan yg sedang tidak enak hati dikatakan terserang &lt;i&gt;spleen&lt;/i&gt;. Dalam bahasa Perancis, &lt;i&gt;spleen&lt;/i&gt; menggambarkan hati yang merenung-sedih atau melankolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu &lt;i&gt;Spleen&lt;/i&gt; yang kemarin diadakan adalah kaleidoskop gambar, lagu, dan miniatur yg terinspirasi dari puisi karya Charles Baudelaire&amp;nbsp;(1821-1867). Dalam teater ini mencoba menggambarkan manusia modern yang rindu akan hidup dan kematian, melakukan pencarian akan keabadian dan kesia-siaan brutal. Dipentaskan oleh Wilde dan Vogel, teater keliling profesional yang berdiri dari tahun 1997 ini menghadirkan pertunjukkan yang magis sekaligus aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaunpun saya tidak mengerti dengan puisi berbahasa Inggris yang menjadi latar/narasi pertunjukkan, saya pribadi menyukai teater boneka ini karena pertama kali melihat boneka yang digerakkan pakai benang, cerita yang pahit dan bersifat khayali, serta Vogel dapat membikin boneka-bonekanya berkarakter dan terasa hidup. Belum lagi violin yang mendayu-dayu atau gitar listrik yang bergetar keras&amp;nbsp;yang dimainkan Charlotte. Perkawinan musikal-artistik ini membikin saya hanyut pada pertunjukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mau lihat, saya sudah mendokumentasikan dan mengunggah potongan adegannya di YouTube. Silahkan disantap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/g6DLji6hGd0/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/g6DLji6hGd0&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/g6DLji6hGd0&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Saat pulang, rupanya saya mendapat kejutan lain dari teman saya, Andika dan Neni, yaitu sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan saya yang mereka buat sendiri selama 2 minggu. Dalam rangka ulang tahun saya ke-25, Andika dan Neni mengumpulkan tulisan-tulisan saya yang mereka suka di blog, disortir, kemudian Neni mengawinkan foto dengan tulisan (&lt;i&gt;layout&lt;/i&gt;), menulis berpatah-patah kata tentang saya ... dan terjadilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-dNoRzwp0LNw/TyQCQgv280I/AAAAAAAABSQ/i-DcfDv6zaM/s1600/Birthday+Gift.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-dNoRzwp0LNw/TyQCQgv280I/AAAAAAAABSQ/i-DcfDv6zaM/s400/Birthday+Gift.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Huah! Pada saat itu saya sampai berkaca-kaca karena terharu atas kejutan dan apresiasi teman-teman saya. Menulis adalah hal terpenting untuk saya dan mereka membukukannya. Pantas saja Andika ini aneh sekali tingkah lakunya dan pakai acara deg-degan. Ini salah satu hadiah terbaik yang pernah saya dapatkan. Terima kasih Andika dan Neni, semoga nanti jadi buku betulan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat kala itu, ada pengalaman baru, kejutan yang menyenangkan, serta ulang tahun perak. Kemudian tengadah ke atas langit, Tuhan menghadiahkan langit cerah berhias bintang dan bulan sabit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8002884709753363984?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8002884709753363984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8002884709753363984' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8002884709753363984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8002884709753363984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2012/01/jumat-kala-itu.html' title='Jumat Kala Itu'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dNoRzwp0LNw/TyQCQgv280I/AAAAAAAABSQ/i-DcfDv6zaM/s72-c/Birthday+Gift.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2820947780402545674</id><published>2012-01-25T23:30:00.001+07:00</published><updated>2012-01-25T23:30:58.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ocehan pagi'/><title type='text'>Misjudged: Fashion Interest</title><content type='html'>Secara diam-diam, atau mungkin memang tidak diperbincangkan atau tidak ditunjukkan, saya senang melihat fashion. Selain melihat di website, saya juga sering melihat peragaan busana di YouTube terutama adi busana (&lt;i&gt;haute couture&lt;/i&gt;). Salah satu perancang kesukaan saya adalah John Galliano. Selain itu, saya juga suka sama Alexander McQueen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keindahan dan keanehan, saya suka dengan pria yang berpakaian rapi. Di website yang saya ikuti secara reguler,&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.thesartorialist.com/"&gt;http://www.thesartorialist.com/&lt;/a&gt;, ditampilkan foto perempuan dan laki-laki yang berpakaian dengan jangkauan yang lebih luas. Di bawah ini saya akan menampilkan beberapa foto yang paling saya suka. Semua foto milik The Sartorialist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.thesartorialist.com/wp-content/themes/sartorialist/images/author.jpg" imageanchor="1" style="font-size: 14px; line-height: 21px; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;span style="color: #444444; font-family: Georgia;"&gt;&lt;img border="0" height="497" src="http://www.thesartorialist.com/wp-content/themes/sartorialist/images/author.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #444444; font-family: Georgia; font-size: 14px; line-height: 21px;"&gt;Pendiri, blogger, serta fotografer The Sartorialist:&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: white; color: #444444; font-family: Georgia; font-size: 14px; line-height: 21px; text-align: justify;"&gt;Scott Schuman.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Very well-dressed. Love it.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.thesartorialist.com/thumbnails/2012/01/12212Lan1_0143Web.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://images.thesartorialist.com/thumbnails/2012/01/12212Lan1_0143Web.jpg" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Saya agak kurang ngerti nama-nama pakaiannya. Tapi gaya semi resmi juga cukup mengagumkan.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.thesartorialist.com/thumbnails/2012/01/11712Outer1_7949Web.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://images.thesartorialist.com/thumbnails/2012/01/11712Outer1_7949Web.jpg" width="426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Walk like a boss. Saya juga suka sarung tangannya dan &lt;i&gt;long&amp;nbsp;coat&lt;/i&gt;-nya. &lt;i&gt;Very sophisticated&lt;/i&gt;!&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.thesartorialist.com/thumbnails/2012/01/Prada2_7288Web.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="425" src="http://images.thesartorialist.com/thumbnails/2012/01/Prada2_7288Web.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Suka sekali dengan kerapian jahitannya. Rapi, klasik, dan elegan!&lt;br /&gt;Gaya ini mengingatkan saya pada Scott Disick.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.thesartorialist.com/photos/61811CostumeDue_5572Web.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://images.thesartorialist.com/photos/61811CostumeDue_5572Web.jpg" width="425" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Saya suka pria yang pakai baju hitam. Apalagi jika pakai aksesoris yang tidak berlebihan. &lt;br /&gt;Apalagi kalau ganteng. Yum.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.thesartorialist.com/photos/2179TentblkWeb.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://images.thesartorialist.com/photos/2179TentblkWeb.jpg" width="426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Wih, ini gayanya sangat maskulin sekali. Jaket kulit pantas dikenakan bagi yang pantas.&lt;br /&gt;Kalau tidak pantas, kelihatannya akan seperti bikers atau pegawai yang pulang pergi pakai motor.&lt;br /&gt;Maaf, saya engga suka bikers.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Selain &lt;i&gt;fashion&lt;/i&gt;, saya juga mengikuti tutorial &lt;i&gt;make up&lt;/i&gt; yang ada di YouTube seperti Michelle Phan, Promise Tamang Phan, juga tutorial &lt;i&gt;fashion ready to wear&lt;/i&gt; dari Chriselle Lim. Memang secara penampilan, orang mungkin akan kaget bahwa saya keranjingan hal-hal seperti ini karena saya tidak modis dan tidak pakai &lt;i&gt;make up&lt;/i&gt; pula. Tapi &amp;nbsp;tidak memakai bukan berarti tidak suka, 'kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau politik dan matematika, jelas saya tidak suka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2820947780402545674?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2820947780402545674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2820947780402545674' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2820947780402545674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2820947780402545674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2012/01/misjudged-fashion-interest.html' title='Misjudged: Fashion Interest'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1849116629524221940</id><published>2012-01-24T05:41:00.002+07:00</published><updated>2012-01-24T05:41:44.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ocehan pagi'/><title type='text'>Residu</title><content type='html'>Setiap orang pasti memiliki sisa-sisa urusan di hidupnya yang tidak terselesaikan. Anggap itu namanya residu karena bentuk urusannya mengendap dalam berbagai bentuk: tetap sebagai urusan atau kepribadian. Lalu kemudian karena tidak terselesaikan, residu tersebut diturunkan kepada anak cucunya. &lt;b&gt;Dibebankan. &lt;/b&gt;Diminta agar dibersihkan atau diselesaikan. Belum lagi ia sendiri punya residu pribadi. Jadi ampas-ampas tersebut semakin lama semakin membesar dan memberatkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang dilahirkan tidak meminta beban tersebut, ia diberi secara cuma-cuma. Ia harus membersihkan ampas orang tuanya. Kalau tidak sanggup, maka ia turunkan lagi ke keturunannya. Begitu terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Residu, berputar terus sehingga ia tidak hanya ampas, melainkan sampah itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1849116629524221940?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1849116629524221940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1849116629524221940' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1849116629524221940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1849116629524221940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2012/01/residu.html' title='Residu'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3801546829910466652</id><published>2012-01-18T20:21:00.000+07:00</published><updated>2012-01-19T12:08:52.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Dieng: Kediaman Para Dewa</title><content type='html'>Dulu hati pernah bercita-cita ingin pergi ke Dieng. Tapi sempat belok dulu ke selatan (Pangandaran). Rupanya Tuhan memberikan rezeki dan kesempatan. Maka bersama ke-5 orang teman, saya berangkat ke Dieng. Jeng jenngg!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalkan, tim kami berbeda (lagi). Ada saya, Neni, Eka, Agus, Sis, Wahyu, juga saudaranya Sis yang berperan sebagai supir bernama Pak Asep. Sis, Wahyu, dan Asep ini berdomisili di Bogor dan Jakarta sehingga dalam perjalanan ditemukan logat-logat Betawi yang kadang nyablak tapi kadang lucu. Mereka ditemukan oleh Eka saat ia&amp;nbsp;&lt;em&gt;travelling&lt;/em&gt;&amp;nbsp;ke Ujung Kulon. Tiga serangkai itu berangkat dari Jakarta pukul 11 siang dan bertemu dengan kami di Pusdai pukul 15.00, namun keberangkatan harus molor karena Agus datang terlambat dengan alasan di rumah tidak ada orang. Kalau Agus orang bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami berangkat dari Bandung pukul empat sore. Konon perjalanan ke Dieng itu 10 jam dengan menggunakan bis umum ke Wonosobo. Navigator kami, Sis, mencoba mencari jalan alternatif yang dimaksud agar cepat sampai ke Dieng. Dengan beberapa kali istirahat, kencing, dan shalat, kami sampai di Wonosobo sekitar pukul empat pagi. Sebelum sampai ke Dieng, kami shalat subuh dulu di Dusun Rejosari - Tambi. Cuacanya tidak terlalu dingin, tapi begitu menyentuh air wudhu dan sikat gigi ... Brrr!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini karena di Jawa atau karena di pedesaan, setelah shalat, para makmumnya tidak langsung pulang. Mereka semacam bertasbih, berdoa, dan berdiskusi dalam bahasa Jawa. Sehabis baca Syekh Siti Jenar dan berkunjung ke Demak, saya jadi membayangkan nuansa Islam tua. Belum lagi kesederhanaan masjid yang berbilik semakin memperkuat suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sebelum ke masjid, kami melalui pintu gerbang utama Dieng. Disana dipungut biaya retribusi tanpa tiket. Ternyata dari pintu gerbang utama menuju ke pertigaan Dieng itu jauh. Sepanjang perjalanan yang berkelok, kami berhadapan dengan kabut tebal di kiri dan kanan jalan. Di dalam suasana yang masih gelap, beberapa orang terlihat mulai beraktivitas jalan kaki, sambil dilindungi sehelai sarung saja. Agak serem lihat sosok orang di jalan yang sepi dan samar. Pak Asep sampai bergurau, "Tadi liat ada yang nyebrang gak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/391082_282302411816915_100001114758966_693412_2065582160_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/391082_282302411816915_100001114758966_693412_2065582160_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pertigaan Dieng&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sampai di pertigaan Dieng. Ini adalah pertigaan yang terkenal karena terletak sebuah penginapan yang biasa dikunjungi oleh backpackers. Nama penginapannya adalah Ibu Djono. Sayangnya semenjak merencanakan penginapan, penginapan Ibu Djono sudah penuh oleh orang yang mau tahun baruan di Dieng. Jadi, karena banyak juga, kami menyewa satu rumah. Seharusnya bisa lebih murah tetapi karena ini tahun baru pasti harga menjadi mahal. Namun, berdasarkan pengalaman di Bali, kami sudah melebihkan biaya dalam membuat budget. Kami mentargetnya Rp700.000,00 per orang dengan sewa sebuah rumah, sewa mobil, tiket masuk, parkir, makan, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mendapat nomer kotak mbak Resi dari internet. Tuhan merahmati jalur maya ini! Saat kami menelepon, penginapannya juga penuh. Namun ia berbaik hati mencarikan sebuah rumah untuk kami. Saat sampai di pertigaan, kami langsung mendatangi kediaman mbak Resi di Dieng Pass. Mbak Resi pun menyambut dan meminta suaminya, mas Agus mengantarkan kita ke rumahnya. Begitu mas Agus bilang rumahnya sudah siap, maka kami langsung meluncur ke sana. Oh ya, mbak Resi dan mas Agus ini pasangan suami istri yang rupawan lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/404295_282302838483539_100001114758966_693419_1663718974_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/404295_282302838483539_100001114758966_693419_1663718974_n.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sesampai di sana, yang punya rumah (Pak Bejo dan istri) sedang siap-siap untuk pergi. Awalnya kami mau check in pukul 12.00, tapi karena sudah datang dari subuh, kami mencoba tanya apakah rumah sudah siap ditempati atau belum. Untungnya sudah. Rumah yang dimaksud tidak terlalu kecil. Bersih, rapi, dan tembok serta lantainya warna-warni. Para perempuan memilih sebuah kamar bernuansa pink dan ungu. Warnanya sangat Neni sekali. Sepertinya ini kamar anaknya karena banyak boneka dan mainan lainnya. Begitu melihat kasur, Eka langsung menjatuhkan diri. Siapa yang tahan melihat kasur empuk nan lapang setelah 12 jam duduk tegang di kursi mobil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Pak Asep dan Sis belum tidur, maka mereka tidur dulu sampai agak siang lalu baru lanjut jalan-jalan. Rupanya yang tertidur tidak hanya Pak Asep dan Sis, tapi yang lain juga. Kalau tidak salah saya, Neni, dan Eka pun sempat tidur sebentar. Setelah tidur, perempuan-perempuan ini berjalan melintasi perkebunan yang kala itu ditutup oleh kabut. Perkebunan Dieng didominasi oleh kentang dan jalan setapaknya didominasi oleh cacing. Yek. Setelah itu juga kami menyempatkan diri beli getuk goreng dan tempe khas Dieng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/381128_282303368483486_100001114758966_693428_130698692_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/381128_282303368483486_100001114758966_693428_130698692_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Getuk goreng&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/393681_282303428483480_100001114758966_693429_290945660_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/393681_282303428483480_100001114758966_693429_290945660_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tempe Kemul&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Betul apa yang dikatakan teman-teman yang pernah sebelumnya ke Dieng bahwa harus bawa jas ujan karena Dieng lagi musim hujan. Setelah bangun dan mulai beraktivitas, semangat agak luntur juga begitu kami turun dari mobil dan hujan. Tapi untung beberapa kami pakai jaket &lt;i&gt;waterproof &lt;/i&gt;(&lt;i&gt;make up &lt;/i&gt;mungkin) dan bawa payung. Maka, menjelajahlah kami di kompleks Candi Arjuna. Sebelum ke Candi Arjuna, kami ke Dharmasala yang dulunya berupa tempat persiapan upacara dan menaruh perlengkapan upacara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah foto-foto kesukaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/385508_282303985150091_100001114758966_693448_428133399_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/385508_282303985150091_100001114758966_693448_428133399_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dharmasala&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/397032_282304815150008_100001114758966_693478_438299510_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/397032_282304815150008_100001114758966_693478_438299510_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Komplek Candi Arjuna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/394918_282304875150002_100001114758966_693481_1210998467_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/394918_282304875150002_100001114758966_693481_1210998467_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Komplek Candi Arjuna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Setiap candi ini memiliki namanya masing-masing yang berupa tokoh pewayangan seperti Arjuna, Gatotkaca, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Semar, Dwarawati. Tidak seperti Borobodur yang terdiri dari satu candi besar, candi-candi di Dieng ini kecil tetapi tersebar dimana-mana. Bahkan, menurut penjaga museum, masih banyak hutan yang belum dibuka dan memungkinkan jika ditemukan candi lagi. Nah, candi-candi di Dieng ini dulu dimiliki sama kerajaan Kalingga yang dipimpin Raja Siwa dan berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir (makam). Abu-abu anggota kerajaan disimpan di dalam candi dan sampai sekarang masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi Arjuna ini termasuk ring 1. Infrastrukturnya cukup baik. Sudah dibuatkan jalur untuk pejalanan kaki yang jelas, bersih, dan terstruktur. Selain itu kompleks candi ini juga dikelilingi oleh rumput yang terawat. Latar belakang perkebunan serta kabut membikin pemandangan semakin cantik. Namun sayang, saat ada telaga yang ditutup yaitu Telaga Balaikambang karena tanahnya yang mulai ambles. Selain itu, Candi Setiaki juga tampak tidak terurus karena letaknya agak jauh dari kompleks Candi Arjuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik ke atas tangga, ada Candi Gatot Kaca dan Museum Kailasa Dieng. Di dalam museum terdapat banyak arca asli yang ditemukan dari candi. Biasanya artefak ini ditemukan warga dan diberikan ke pihak museum (dengan imbalan uang), tapi ada juga yang memilih dijual ke tempat lain. Selain artefak, juga ada sejarah candi, unsur geologis tanah Dieng, dan kehidupan sosial budaya yang ada di Dieng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/406212_282306145149875_100001114758966_693508_358121274_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/406212_282306145149875_100001114758966_693508_358121274_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bwcEjqjaklA/TxbCTqsHdEI/AAAAAAAABSI/dztxYQAl7xI/s1600/IMG_6547.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-bwcEjqjaklA/TxbCTqsHdEI/AAAAAAAABSI/dztxYQAl7xI/s320/IMG_6547.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Eka dan saya sedang wawancara penjaga museum. Foto milik Eka.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Di sana pegawai museumnya memberikan penjelasan tentang Dieng, terutama anak rambut gimbal (warga mengenalnya sebagai anak gembel) karena saya penasaran dengan mitosnya. Sayangnya sampai akhir di Dieng, saya tidak bertemu dengan anak gembel. Pak Janah, nama pegawai museum, bercerita bahwa dulu ada seseorang bernama Raja Kijang yang menyukai Dewi Sinta. Dewi Sinta mau dilamar jika Raja Kijang bisa memenuhi permintaannya yaitu dibuatkan sumur yang dalam. Setelah dibuat, Dewi Sinta bilang bahwa sumurnya kurang dalam. Maka masuklah Raja Kijang ke dalam sumur untuk memperdalam. Saat berada di dalam, sumur tersebut ditutup oleh Dewi Sinta. Karena ia telah berbohong, maka Raja Kijang menyumpahi bahwa rambut dari keturunan Dewi Sinta akan gimbal. Rajaku sayang, kenapa itu kutukannya biasa-biasa saja? Ada &lt;i&gt;rebounding&lt;/i&gt; gitu lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ternyata rambut gimbal itu baru akan muncul ketika anak berumur setidaknya satu tahun dan menderita sakit panas. Awalnya anak akan sakit lalu tumbuh rambut tersebut. Kalau dipotong, anak akan sakit. Rambut akan hilang jika anak (biasanya di umur 4 hingga 5 tahun) sendiri yang memutuskan bahwa rambutnya mau dipotong dengan syarat tertentu. Ada yang minta ayam, ada yang minta sapi, dan lainnya. Permintaannya dapat diberi ke siapa saja dan harus dituruti. Biasanya permintaannya spesifik dan tahan lama. Jika orang tersebut tidak bisa mengabulkan, maka dia akan gembel terus selamanya. Bahkan saat pemotongan pun ada upacaranya yang bisa bikin Dieng ini dilanda macet lantaran banyak orang yang mau melihat. Anak-anak tersebut dimandikan dulu di Sumur Sindang Sedayu. Walaupun nanti dipotong, anak tidak akan merasa sakit karena keinginannya sudah dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bapak penjaga museum yang saya wawancara ini juga dulunya berambut gimbal, anaknya pun demikian. Anak kakaknya pun berambut gimbal. Ia meyakini dirinya keturunan dari Dewi Sinta dan kakeknya pun memiliki korelasi dengan sejarah Dieng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari museum, kami ke kawah. Perjalanan untuk mencapainya pun hanya sebentar dan tidak sulit. Disediakan juga jasa berkuda atau naik APV. Melihat kolam lumpur yang bergejolak dari dekat, agak seram juga rasanya. Di sana ada kolam lumpur panas yang cukup besar dan dekat dengan pengunjung. Warga membuat aliran sungai kecil yang mengalirkan lumpurnya sehingga pengunjung bisa berendam untuk oles-oles ke kulit yang bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/373828_282306901816466_100001114758966_693517_38209467_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/373828_282306901816466_100001114758966_693517_38209467_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/377070_282307105149779_100001114758966_693520_818741400_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/377070_282307105149779_100001114758966_693520_818741400_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya infrastruktur di sana tidak sebaik sebelumnya. Toilet umumnya lumayan tapi mushollanya KW seribu sekian! Sajadah basah, mukena kotor dan banyak binatang. Ih aduh .. jijiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari kawah, kami ke Candi Bima. Candinya lebih besar ketimbang candi lainnya dan atap di atasnya juga berundak. Ingat bahwa candi disini merupakan tempat peristirahatan terakhir? Mungkin karena itu, Keratonan Jogja dan Solo suka bersemedi di Candi Bima setiap malam satu suro. Disini terlihat betapa saling beririsannya agama dan budaya sehingga ada yang menganut Kejawen dan Hindu Jawa. Ingat bahwa saya tadi menyebutkan Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Raja Siwa? Ini memungkinkan karena dewa utama di Dieng adalah Dewa Siwa yang salah satunya berwujud aniconic (lingga). Selain itu, semedi di candi diharapkan bisa mengabulkan permintaan manusia karena candi merupakan replika gunung tempat tinggal dewa-dewi. Kalau dilihat dengan baik reliefnya, suka ada dekorasi pohon dan makhluk khayangan. Jadi bersemedi di candi mungkin diharapkan sama halnya bersemedi di khayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/379455_282360931811063_100001114758966_693865_2078843078_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/379455_282360931811063_100001114758966_693865_2078843078_n.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bangunan candi terdiri atas kaki yang melambangkan &lt;i&gt;bhurloka &lt;/i&gt;(dunia manusia), tubuh yang melambangkan &lt;i&gt;bhuwarloka &lt;/i&gt;(dunia mereka yang disucikan), dan atap yang melambangkan &lt;i&gt;swarloka &lt;/i&gt;(dunia para dewa). Komponen candi khas Dieng adalah Kudu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain terdapat aktivitas magma sehingga menimbulkan air panas seperti di Kawah Sikidang, Kawah Sileri, dan kawah lainnya yang menjadi atraksi tempat ini, Dieng memang khas dengan candinya. Dieng berasal dari kata 'di' yang berarti 'tempat' atau 'gunung' dan 'Hyang' yang berarti dewa. Jadi Dieng itu artinya tempat bersemayam dewa dewi. Secara arsitektural, candi di Dieng ini terpengaruh dengan arsitektural India. Jadi jangan heran kalau ada propaganda bahwa orang Indonesia itu asalnya dari India, pertelevisian didominasi sama orang India dan kita--sebagai keturunannya--sangat menyukai sinetron Indonesia! Ehm. Mari balik lagi ke candi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari Candi Bima, kami lanjut ke Telaga Warna. Di sini juga mushollanya sama saja. Basah! Mungkin pengaruh hujan dan musholla yang bocor atau air yang masuk lewat sela kaca jendela. Setelah memaksakan diri shalat di depan Telaga Warna, kami masuk gerbang dan langsung disambut dengan sebuah danau yang berwarna hijau muda--seperti yang ada di kawah putih namun tanpa asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/397645_282361131811043_100001114758966_693870_1546955236_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/397645_282361131811043_100001114758966_693870_1546955236_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/374728_282361258477697_100001114758966_693873_1485090551_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/374728_282361258477697_100001114758966_693873_1485090551_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Agus masuk ke dalam gua.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya menyajikan telaga, kawasan ini juga memiliki banyak gua dan Dieng Plateu Theater. Kami menelusuri jalan setapak yang sudah diberi trotoar menuju goa-goa. Sepertinya goa di sini dipakai untuk beribadah karena dapat tercium bau dupa yang menyengat. Tidak hanya candi, bukit dan goa pun masih mendapatkan tempat dalam kepercayaan masyarakat. Goa pertama yang kami datangi adalah Goa Semar. Goa diberi gapura berwarna hijau dan mulut goa ini ditutup dengan pintu gerbang sehingga pengujung tidak bisa masuk. Terlihat sebuah cerukan dalam yang berisi air yang sepertinya orang-orang bisa masuk ke dalamnya. Sebuah patung Semar berwarna emas juga ada di depannya. Setelahnya ada Goa Sumur dan Goa Jaran. Kedua goa tadi tercium bau dupa seperti gua di awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/397271_282362271810929_100001114758966_693879_1483126710_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/397271_282362271810929_100001114758966_693879_1483126710_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ring 1 sudah selesai dan kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di hari pertama. Sebelum ke rumah, kami pergi ke Wonosobo untuk mencoba mie ongklok--mie khas Wonosobo. Sebetulnya di tempat wisata juga banyak yang jual mie ongklok. Tapi kami tanya mbak Resi dimana mie ongklok yang asli dan ia menunjuk Mie Ongklok Longkrang. Rasanya manis, ada rasa kacang dan rasa petis, mienya juga terasa terigunya. Kuahnya agak lengket seperti lomie, tapi ketika dicampur, akhirnya encer juga. Harganya murah, tapi kalau pakai sate (temannya mie ongklok), harganya jadi agak mahal. Bagi saya, ini seperti lomie manis saja. Tapi jika kamu berkunjung ke Dieng, kamu harus mencoba mie ongklok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum balik lagi ke Dieng untuk merayakan tahun baru, kami pergi dulu membeli oleh-oleh. Kami membeli Carica (buah khas Dieng yang mirip pepaya dan dijadikan manisan kemudian dijual per toples kaca), teh Tambi, serta kopi Purwaceng. Kopi Purwaceng (terutama jamunya) ini katanya untuk stamina pria, tapi wanita juga bisa minum kok. Kalau kata penjual di sekitar Candi Arjuna, pria minum dengan campuran kopi dan wanita minum dengan campuran teh. Oh ya, saya juga minum kok kopinya saat saya lagi ngantor. Alhasil bikin saya ceng! Oh ya, teman saya yang lain juga beli oleh-oleh. Neni beli banyak seperti keripik tahu dan camilan lainnya untuk teman-teman kantor, Agus juga beli banyak, Eka beli dendeng Wonosobo seharga Rp50.000,00 untuk bapaknya, Wahyu juga beli banyak. Sis dan Pak Asep nongkrong aja gitu di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu tahun baru, kami ngobrol di warung nasi goreng. Saat itu hanya Pak Asep yang tidak ikut karena milih tidur. Obrolannya tidak seru dan serba salah tingkah karena Eka sama Wahyu digoda terus oleh Sis. Saya sih ikut-ikut Sis aja. Haha. Dan pas kita keluar dari warung, beuh ... anginnya gede dan bikin cuaca semakin dingin! Karena Neni ingin pipis, maka kami ke penginapan mbak Resi. Di sana ada mbak Resi dan mas Agus yang lagi menghangatkan diri di tungku bersama dua pengunjung. Kata mas Agus, kalau musim kemarau, Dieng semakin dingin. Suhunya bisa dibawah 0 derajat Celcius, embun bisa mengkristal, dan air bisa menjadi es jika disimpan di luar! Lalu, salah satu pengunjung wanita ikut campur dengan berkata, "Saya udah pernah lhoo ngerasain sedingin itu. Sekarang sih gak ada apa-apanya!" ujarnya sambil menghangatkan keduanya di atas tungku. &lt;i&gt;Yeah, right.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya yang ditunggu datang juga yaitu tahun baru. Kita ke Dieng memang untuk ini kok, merayakan pergantian tahun bersama teman-teman di tempat yang baru. Walaupun sebenarnya sama-sama saja melihat kembang api, tapi sungguh bersama teman itu lebih nikmat ketimbang sendiri. Apalagi jika di sebelah kita ada orang yang kita sayang. Ah, saya sih dari tahun baru kemarin dan sekarang itu sama saja, masih mengharapkan satu orang yang sama untuk ada di sebelah saya. Huhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/385870_282362358477587_100001114758966_693881_758802753_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/385870_282362358477587_100001114758966_693881_758802753_n.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Besoknya paginya kami pergi ke Gunung Sindoro untuk mengejar &lt;i&gt;sunset&lt;/i&gt;. Kami bangun dengan terburu-buru karena baru diketuk pukul setengah 5 subuh! Dengan Pak Bejo, kami naik Gunung Sindoro yang ternyata super melelahkan. Sesampainya di puncak, langit sudah terang, tidak ada matahari, kabut tebal, dan hujan yang kian lebat. Agak anti klimaks juga sih karena saya udah ingin difoto ala siluet gitu. Tapi ya enggak setiap hari mengejar matahari terbit di atas gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjelajah ring 2, kami istirahat dulu hingga pukul 10 sekaligus siap-siap pulang. Saat berada di ring 2, mungkin sudah tidak terlalu &lt;i&gt;excited &lt;/i&gt;karena tahun barunya sudah dan agak terburu-buru karena dikejar waktu pulang (besoknya hari Senin dan orang-orang harus bekerja) dan saya juga harus ke Jakarta di siang harinya. Hari itu kami ke Kawah Candra Dimuka yang tidak jadi karena jalannya rusak parah (bebatuan yang tidak diaspal dan Pak Asep menyerah). Kawah ini pesanan Wahyu karena ia tampak penasaran sekali dengan kawah ini. Kalaupun jalan kaki, jaraknya jauh sekali. Setelah itu ke Kawah Sileri yang gitu-gitu saja. Jalan bisa ditempuh dengan jalan kaki namun sayang tanahnya becek sehingga berlumpur. Dan mengakhiri perjalanan dengan pergi ke sumur Jalatunda. Sama seperti lainnya, sumur ini pun punya mitos sendiri yaitu barang siapa yang dapat melempar batu hingga seberang sumur (bagi laki-laki) dan hingga tengah sumur (bagi perempuan) maka ia akan beruntung dan keinginannya akan terkabul. Dari kami semua yang melempar batu, hanya Wahyu yang berhasil. Kali kedua, ia tidak berhasil. Berarti keinginannya tidak jadi terkabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/403000_282363265144163_100001114758966_693900_1861720462_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/403000_282363265144163_100001114758966_693900_1861720462_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/389786_282363331810823_100001114758966_693901_2021503544_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/389786_282363331810823_100001114758966_693901_2021503544_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mas Agus cerita bahwa salah satu kliennya ada yang pernah melakukan aksi ini atas saran mas Agus. Eh tahunya dia berhasil melempar hingga seberang lumpur dong dan berhasil sukses. Belum satu bulan usaha, si orangnya datang lagi ke Dieng untuk berterima kasih sama mas Agus sambil membawa para pegawainya berlibur! Wah wah... Saya pikir Bakrie tidak pernah melempar batu di sumur ini dan sukses-sukses saja. Jadi, buat saya yang batunya tidak sampai tengah sama sekali, tidak perlu berkecil hati. Ehm. Menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pulang lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Saya sih senang-senang saja karena besoknya harus bekerja. Perjalanan yang kami lakukan tidak kalah serunya dari petualangan di Dieng. Kami mencoba melewati jalur alternatif (ke daerah Batang) yang jalurnya lebih ekstrim dari &lt;i&gt;rollercoaster &lt;/i&gt;karena banyak turunan/tanjakan sekaligus tikungan curam. Belum lagi jalan yang berbatu semakin membikin ngeri karena kalaupun mobil direm, kerikil bisa membikinnya tetap bergeser. Saya pun dititipkan oleh Sis sebuah batu besar untuk berjaga-jaga jika mobilnya turun di tanjakan, maka saya harus keluar dan mengganjal ban dengan batu. Untungnya kami semua selamat hingga balik lagi jalan utama lalu lanjut Pantura. Fiuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/409209_3014221599440_1379554897_3326499_1747995530_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/409209_3014221599440_1379554897_3326499_1747995530_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;ki-ka: Wahyu, Neni, saya, Eka (kaki), Agus, Sis, Pak Asep yang foto. Foto milik Neni.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Geng Bandung selamat di sekitar pukul satu pagi di hari Senin. Ada yang setelahnya harus bangun pagi dan bekerja seperti biasa. Saya yakin jiwa dan raga belum terkoneksi. Raga sudah di kantor, jiwa masing ngawang-ngawang di khayangan dataran tinggi Dieng.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3801546829910466652?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3801546829910466652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3801546829910466652' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3801546829910466652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3801546829910466652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2012/01/dieng-kediaman-para-dewa.html' title='Dieng: Kediaman Para Dewa'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bwcEjqjaklA/TxbCTqsHdEI/AAAAAAAABSI/dztxYQAl7xI/s72-c/IMG_6547.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2743891677547231339</id><published>2012-01-12T20:02:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T09:16:36.246+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Transasi Zona Tidak Nyaman</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/-G2fAJV6suKs/Tw7ZvxYY-cI/AAAAAAAABRw/fD3RVO70N3U/s0/1326373000537.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://lh6.ggpht.com/-G2fAJV6suKs/Tw7ZvxYY-cI/AAAAAAAABRw/fD3RVO70N3U/s400/1326373000537.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://lh4.ggpht.com/-munmQJA9WeQ/Tw7Zw_Iq9mI/AAAAAAAABR4/6SrHGSlseWs/s0/p20120104-191243.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img height="300" src="http://lh4.ggpht.com/-munmQJA9WeQ/Tw7Zw_Iq9mI/AAAAAAAABR4/6SrHGSlseWs/s400/p20120104-191243.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di awal tahun 2012 ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengecap pengalaman baru oleh kantor. Kantor meminta saya kerja di Jakarta selama 2 minggu dengan tanggungan biaya inap di kosan. Kantor juga mencarikan kosan untuk saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran itu dikirim lewat email oleh Pak J. Beliau meminta kalau hari Senin pertama di tahun 2012, saya sudah ada di Jakarta. Menarik juga karena sebelumnya saya berlibur ke Dieng untuk merayakan tahun baru bersama-sama (jurnal akan saya unggah) dan berencana pulang Senin pagi. Jadi, 2 Januari lalu, saya hanya menghabiskan beberapa jam di Bandung lalu langsung cabut ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa excited karena seumur hidup saya belum pernah merasakan ngekos, tinggal jauh dari ibu, mengurus makan serta cucian, dan lainnya. Maklum, selama ini saya dimanjakan oleh pembantu dan segala fasilitas yang sudah tersedia. Dan dukungan ibu saya serta keluarga bikin langkah saya ringan merantau dua minggu di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali itu adalah pertama kalinya saya bertemu orang kantor (karena selama ini kerja sendiri sebagai kontributor kota) dan ke Jakarta jika diminta Pak J. Setelah selesai kenalan, saya diantarkan ke kosan dan langsung bekerja! Waah .. Perjalanan pulang dari Dieng bikin saya roaming dan ngehang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang adalah hari ke-11 saya di Jakarta. Banyak teman dan keluarga yang bertanya bagaimana keadaan saya di Jakarta. Saya selalu bilang so far so good karena saya merasa nyaman-nyaman saja dengan lingkungan sini--malah banyak hal yang membuktikan persepsi saya tentang Jakarta itu salah. Orang kantor baik, beberapa orang ramah, lingkungan kosan juga baik, dan lainnya. Masalah saya di sini hanyalah saya sendirian di kosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosan ini terdiri dari 3 kamar, dua terisi oleh saya dan satu orang laki-laki. Sebenarnya ini kosan perempuan, namun laki-laki ini sepupunya ibu kos (ibu kos masih mudah dan saya memanggilnya mbak!). Ibu kos bilang kalau saya keberatan dengan kehadiran sepupunya, dia bisa minta sepupunya ke luar. Saya bilang gak masalah. Lagian di rumah saya juga banyak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kerja dari pukul 9 sampai 6. Seringkali pulang sambil menemukan kosan kosong saat maghrib lalu makan, mandi, shalat, nonton sendirian. Intinya--selain penakut--saya gak punya teman ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temen kosan (housemate) biasa pulang pukul 21:30, mandi, nonton bentar, lalu tidur. Kami tidak pernah nonton tv bareng di ruang tv karena saling sungkan. Selain itu obrolan hanya kisaran basa basi saja. Kalau dia pulang, biasanya saya masuk kamar, guling-guling sampai tertidur. Saya hanya butuh tahu bahwa dia ada di sini, maka saya bisa tidur dengan tenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat penakut ini harus saya hadapi. Ini juga bikin saya berada di zona tidak nyaman terus. Mau kencing takut, jemur baju takut, denger suara dikit langsung berimajinasi yang aneh-aneh. Payah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sendiri bikin saya homesick. Nangis dikit kalau inget keluarga atau pas ditinggal Eka (sempat main ke Jakarta dan nginap di tempat saya) pulang ke Bandung sementara saya masih harus di sini. Saya diskusi sama teman-teman dan mereka bilang itu wajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan waktu yang tersisa di sini, saya harus bersyukur bahwa saya punya pengalaman jauh dari orang tua yang artinya jadi menghargai setiap uang yang keluar, cuci baju, dan cuci piring pakai sabun Lux Magical Spell. Selain itu di kantor juga saya belajar tulis artikel bahasa Inggris, tahu standar penulisan kantor dan gaya serta informasi apa yang ingin di dapat dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka transisi ke zona tidak nyaman ini masih terproses sampai saya bisa membuatnya nyaman. Eh, ada coca cola si housemate nih di kulkas. Mumpung orangnya belum pulang, ambil aaah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="clear: both; font-size: xx-small; text-align: center;"&gt;Published with Blogger-droid v2.0.3&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2743891677547231339?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2743891677547231339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2743891677547231339' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2743891677547231339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2743891677547231339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2012/01/transasi-zona-tidak-nyaman.html' title='Transasi Zona Tidak Nyaman'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/-G2fAJV6suKs/Tw7ZvxYY-cI/AAAAAAAABRw/fD3RVO70N3U/s72-c/1326373000537.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6110969173069986576</id><published>2011-12-25T21:38:00.001+07:00</published><updated>2011-12-26T08:52:00.636+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review tokoh'/><title type='text'>Kuantar ke Gerbang*</title><content type='html'>Kisah yang akan saya ceritakan kali ini mengenai seorang perempuan bernama Inggit Ganarsih. Saya mendapat informasi tentangnya bukan dari buku pelajaran atau buku paket, melainkan dari mulut ke mulut, melalui sebuah pertunjukkan di bawah lampu nan redup. Sebegitu tidak diketahuinya padahal perempuan yang menjual bedak dan jamu ini memiliki jasa yang besar terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://rosodaras.files.wordpress.com/2010/11/inggit-garnasih-edit.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://rosodaras.files.wordpress.com/2010/11/inggit-garnasih-edit.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;10 kilometer pernah Inggit lalui dengan jalan kaki untuk menemui Soekarno--presiden pertama Indonesia yang menjadi suaminya kala itu--dari tempat tinggalnya ke penjara Sukamiskin. Ia rela kehujanan dan kelelahan demi menghemat uang untuk suaminya yang membutuhkan. Namun ia tidak pernah menceritakan hal ini terhadap suaminya karena merasa Engkus (panggilan sayang Inggit terhadap Soekarno) sudah terlalu banyak pikiran dalam menentang kolonialisme dan tidak perlu ditambahi hal yang remeh temeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari kerelaan suami Inggit sebelum Engkus, yaitu H. Sanusi (pengurus Sarikat Islam), untuk berbagi atap dengan Engkus yang saat itu adalah pelajar THS dan membutuhkan tempat tinggal. "Bunga Kamboja cantik merah warnanya," begitu yang diucapkan Engkus dalam balutan pakaian putih dan peci saat pertama kali melihat Inggit Ganarsih yang terpaut belasan tahun lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesibukan, H. Sanusi jarang berada di rumah. Berbeda dengan Engkus yang selalu berada di rumah dan membawa teman-temannya sehingga rumah Inggit menjadi ramai tentunya. Inggit melihat betapa pemuda itu begitu pintar, bersemangat, dan begitu terpelajar. Inggit dan Engkus pun sering berdiskusi di malam hari. Hingga Engkus mengakui menyukai Inggit dan juga sebaliknya. Maka, Inggit bercerai dengan H. Sanusi dan menikah dengan Engkus. Bahkan H. Sanusi dengan rela melepaskan istrinya bersama Engkus (daripada bersama saudagar kaya lain) dan menjadi wali nikahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggit sadar bahwa ia menikahi seorang pelajar yang tidak dapat menafkahinya. Maka sambil mendukung, menyemangati, dan mengayomi Engkus, ia berjualan bedak dan jamu untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Saat Engkus habis berpidato, dengan tenggorokannya yang serak, Inggit merawatnya. Membuatkan sebuah minuman dan memberikan kata-kata yang menenangkan hingga suaminya tertidur di pangkuannya. Singa podium itu tak ubahnya seorang anak kecil jika berhadapan dengan Inggit. Hingga ketika Engkus harus dipenjara di Banceuy, Inggit dengan pantang menyerah meminta penjaga untuk bertemu dengan suaminya untuk menyemangati suaminya yang terpuruk, menyelundupkan buku-buku di perut (bahkan ia rela berpuasa agar perutnya kempis dan tidak dicurigai penjaga), dan menyelipkan uang koin di kue yang dikirimkannya ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"Kerjaku adalah membangunkan suamiku, mengingatkan waktu sembahyang. Menyiapkan kopi tubruk dan sarapan. Mendorongnya untuk maju, menantinya dengan segala perasaan orang yang menunggu. Menyatakan kasih sayangku, memuaskannya."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"Suamiku menghargai aku, karena aku mencintainya. Karena aku tidak memberikan pendapat-pendapat yang berbelit, karena aku menunggunya, mendorongnya, dan memujanya."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"Aku memberikan cinta, kehangatan, kehormatan, ketulusan. Aku mengabdi kepadanya, aku tenggelamkan diriku pribadi, aku hilangkan kepentinganku sendiri. Seorang istri yang merupakan perpaduan daripada seorang ibu, kekasih, dan seorang kawan."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Wanita kelahiran Desa Kamasan tanggal 17 Februari 1888 ini juga dengan setia menemani suaminya saat diasingkan ke Flores. Di sana mereka mengangkat seorang anak dan Engkus sempat terkena malaria. Dalam kondisi sakit dan diasingkan, Engkus begitu depresi dan menyerah untuk melanjutkan perjuangannya. Malah Inggit yang menyemangati bahwa sakit dan diasingkan seperti ini bukanlah tantangan yang berarti, karena banyak tantangan yang lebih berat apalagi jika Engkus sudah jadi pemimpin nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di Flores, mereka menerima Engkus menerima surat bahwa ia dipindahkan ke Bengkulu. Mereka berkenalan dengan Fatmawati, seorang anak perempuan yang tinggal di rumah dan sudah dianggap anak sendiri oleh Inggit. Di sana mereka membesarkan anak angkat mereka, lalu Engkus meminta Inggit pergi satu bulan lamanya ke Yogyakarta untuk menyekolahkan salah satu anak angkatnya di Taman Siswa. Engkus juga meminta Inggit ke Bandung, mengunjungi sanak saudara. Walaupun lama dan jauh, Inggit yakin dengan keputusan Engkus karena ia paham bahwa Engkus adalah orang yang mengedepankan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali ke Bengkulu, Inggit mendengar desas desus mengenai hubungan Engkus dengan Fatma. Ternyata benar. Di suatu hari, Engkus berkata bahwa ia ingin memiliki seorang anak keturunannya sendiri. Jelas Inggit paham bahwa di usia 40 tahun (sedangkan umurnya kala itu 53 tahun), pasti Engkus akan meminta keturunan langsung. Yang jelas, rahim Inggit tidak bisa memberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti itu, mereka juga harus pindah ke Padang. Bersama anak dan seorang pembantu setia, mereka melewati hutan selama berhari-hari untuk menuju kota ini. Di sana, didengar sebuah kabar bahwa Belanda sudah mau mundur dan Jepang akan masuk. Oleh karena itu, Engkus mendapat surat bahwa ia harus kembali ke Jakarta untuk merebut kemerdekaan. Saat akan kembali ke Jakarta, Engkus meminta Inggit agar mereka mau bertandang ke Bengkulu sebentar. Jelas Inggit tahu apa maksud dari suaminya. Apalagi Engkus mengemukakan agar Inggit mau dimadu dengan sanjungan, "Meski aku mengawininya, tapi Inggitlah wanita utama, istri utama." Untuk pertama kalinya, Inggit berkata tidak terhadap keputusan suaminya. Ia menentang dan merebut kembali haknya untuk tidak dijadikan koloni sebagaimana Engkus yang selama ini selalu selalu berkata 'tidak' terhadap kolonialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali ke Jakarta, bersama Hatta dan Soetan Sjahrir, Engkus mendirikan Tiga Serangkai. Kemerdekaan kian dekat. Pada saat itulah Inggit meminta Engkus memulangkannya ke Bandung. Padahal jika ia tidak meminta pulang, Inggit bisa jadi ibu negara. Setelah bercerai, ia meninggalkan Pegangsaan Timur Jakarta tanpa membawa harta apapun kecuali sebuah kopor tua karena semua hartanya habis untuk membiayai perjuangan Engkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung, Inggit Ganarsih kembali menjual jamu untuk membiayai hidupnya dan kedua anak angkatnya hingga ia tidur selamanya di pemakaman umum Babakan Ciparay tanggal 13 April 1984.&amp;nbsp;Cinta, bagi Inggit Ganarsih, selalu memaafkan. Ia tidak pernah membenci dan menaruh dendam pada Engkus. Ia adalah ibu, istri, kekasih sekaligus teman perjuangan Engkus.&amp;nbsp;Sebelum ia meninggal, Engkus telah mendahuluinya pada tahun 1971. Di depan peti jenazah Engkus, dengan suara gemetar dan lirih, ia berkata, "Engkus, geuningan Engkus teh miheulaan Inggit. Kasep, ku Inggit didoakeun ... (Engkus, rupanya Engkus mendahului Inggit. Cakep, Inggit mendoakanmu.)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nMtsOTrKf8s/S9a9CvSWMZI/AAAAAAAAA4w/TfcTn0VCU10/s1600/inggit+ganarsih.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="http://1.bp.blogspot.com/_nMtsOTrKf8s/S9a9CvSWMZI/AAAAAAAAA4w/TfcTn0VCU10/s320/inggit+ganarsih.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Judul di atas diambil dari judul buku Ramadhan K.H.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6110969173069986576?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6110969173069986576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6110969173069986576' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6110969173069986576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6110969173069986576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/12/kuantar-ke-gerbang.html' title='Kuantar ke Gerbang*'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nMtsOTrKf8s/S9a9CvSWMZI/AAAAAAAAA4w/TfcTn0VCU10/s72-c/inggit+ganarsih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5784629712626385592</id><published>2011-12-19T22:50:00.003+07:00</published><updated>2011-12-20T15:39:53.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Radio Malabar, Riwayatmu Kini</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Tulisan oleh Nia Janiar&lt;br /&gt;Foto oleh Yandi Dephol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya kira tumpukan bebatuan secara teratur yang ada di Gunung Puntang itu situs pemujaan. Ternyata bukan. Itu adalah puing bangunan kompleks stasiun radio pertama Hindia Belanda tahun 1923 yang dihancurkan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aleut! Malabar menjadi tema ngaleut kali ini (18/12). &amp;nbsp;Sudah saya duga bahwa ini bukan ngaleut Jalan Malabar, melainkan ke kawasan Pegunungan Malabar. Apalagi ada permintaan pakai baju yang nyaman segala. Karena punya masalah dengan pengalaman naik gunung, maka buru-buru saya melakukan riset dengan membaca catatan perjalanan Komunitas Aleut! dan sedikit wawancara sebelum memutuskan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nyatanya pergi juga. Penasaran juga. Dan enggan menyesal di kemudian hari juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkutan dan elf (kendaraan peri dengan kecepatan tinggi serta resiko akibat salip menyalip yang juga tinggi, penj.) adalah alat transportasi kami menuju Gunung Puntang—yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar—tempat stasiun beserta pemancar radio itu berada. Dayeuhkolot, Banjaran, kemudian belok kiri agar tidak masuk rute Pangalengan, menjadi jarak yang ditempuh selama satu jam perjalanan. Kami berangkat pukul 08.25 dan sampai sekitar 09.25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di pintu gerbang kawasan perhutanan Gunung Puntang. Di sebelah kiri gerbang ada sungai kecil yang airnya dingin dan menyegarkan. Beberapa kawan sempat bermain air di sana: hanya sekedar menyelupkan kaki atau tangan untuk merasakan airnya. Tentunya mereka tidak tahu bahwa nantinya sungai kecil ini akan dipakai buang air untuk Priestanto dan Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju pintu gerbang ke kompleks statsiun radio ini tidak jauh. Jalannya sudah diaspal, lebar, serta tidak terlalu menanjak. Kecuali jika tiba-tiba mencari jalan pintas lewat semak belukar yang licin dan becek seperti yang dilakukan Aleutians kemarin. Saat keluar dari semak, beberapa teman hanya bisa tertawa sambil berkata, “Kenapa ada jalan bagus harus lewat jalan setapak gini sih? Ya … namanya juga Aleut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/384543_2651894369216_1011473467_32481579_1537284821_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/384543_2651894369216_1011473467_32481579_1537284821_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penyangga pipa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Bebatuan setengah lingkaran ada di sisi jalan setapak. Kata Bang Ridwan, itu bekas &amp;nbsp;penyangga pipa zaman dulu. Beberapa langkah kemudian dari pipa tersebut, terdapat sebuah kompleks bongkahan bebatuan tersusun rapi dan membentuk sebuah kerangka bangunan. Batuannya tertutup lumut dan belukar. Ini merupakan kompleks karyawan stasiun radio (disebut Kampung Radio atau Radiodorf). Tidak hanya kamar tidur atau kamar mandi, fasilitasnya di kompleks ini lengkap untuk kebutuhan sehari-hari seperti kolam renang, bioskop, lapangan tenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya seluruh kompleks di Gunung Puntang ini dihancurkan dengan bom—berdasarkan Ridwan Hutagalung melalui pengamatan literatur-- bukan oleh pihak Jepang melainkan pribumi sendiri tahun 1945-1946 dengan alasan untuk menghambat penjajahan Jepang. Belanda harus menyerah tanpa perlawanan kepada Jepang karena musuhnya berhasil membombardir dan menenggelamkan kapal-kapal yang dimiliki sekutu. Jepang juga pernah membom taman rumah residen dan di sekitar alun-alun Bandung namun mereka tidak mungkin menghancurkan sesuatu yang mereka butuhkan atau akan mereka pakai sebagai media propaganda Pulau Jawa yaitu Radio Malabar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/408198_2651920449868_1011473467_32481609_785231420_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/408198_2651920449868_1011473467_32481609_785231420_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sisa Kampung Radio atau Radiodorf&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tulisan "Pemboman" Radio Malabar karya Ridwan Hutagalung (2009), sumber listrik untuk menggerakan stasiun radio pertama dan terbesar di Asia ini diambil dari empat pembangkit yaitu PLTA Dago Bengkok, PLTA Plengan, PLTA Lamadjan, dan PLTU di Dayeuh Kolot. Dibentangkan antena sepanjang dua kilometer antara Gunung Puntang dan Halimun dengan ketinggian antena 350 meter dari lembah. Wah! Aleutians banyak yang bertanya bagaimana bisa dibangun antena setinggi itu. Jelas ahli teknik elektro Dr. Ir. C. J. de Groot yang merintis dan membangun stasiun radio sehingga bisa terjalin komunikasi antara Hindia-Belanda dengan Belanda sudah memikirkannya. Ini membuat saya berimajinasi tentang seberapa majunya pendidikan di Belanda kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1190939648199_1069614412_30465775_5862294_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1190939648199_1069614412_30465775_5862294_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Diambil dari blog Komunitas Aleut! di tulisan M. Ryzki W.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Fakta menarik lainnya adalah kondisi gunung Puntang adalah lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun yang curam berbentuk V untuk menguatkan gelombang radio dan jika ditarik garis lurus dari lembah tersebut akan mengarah langsung ke Amsterdam. Entah bagaimana de Groot bisa menemukan tempat seperti ini. Pesawat? Helikopter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami memperhatikan penjelasan, Reza dan Bang Ridwan memperlihatkan bangunan megah nan putih di kompleks ini tahun 1923. Aleutians menyayangkan bahwa bangunan sebagus ini harus dihancurkan. “Harusnya pribumi kala itu bisa berpikir dingin,” ujar Ambu Trizsa Vas. Juga ada pendapat lain seperti jika pribumi bisa menghancurkan, seharusnya mereka bisa membangunnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/386652_2651937410292_1011473467_32481634_1723239855_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/386652_2651937410292_1011473467_32481634_1723239855_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kolam Cinta&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Selain keberadaan bangunan, ada sebuah kolam yang juga bersejarah. Namanya Kolam Cinta. Bentuknya seperti segitiga, dengan dua busur kecil di bagian atas yang melengkung dan bertemu di sebuah lingkaran sebagai titik. Kalau berdasarkan artikel M. Ryzki W berjudul Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II, disebutkan bahwa jika ada orang yang pacaran di sini, maka akan langgeng umur hubungannya. Mudah-mudahan yang jomblo juga tidak jadi langgeng kejomboloannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/391130_2651938370316_1011473467_32481635_344016623_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/391130_2651938370316_1011473467_32481635_344016623_n.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan bangunan-bangunan besar berdiri kokoh di atas hamparan rumput hijau, dikelilingi pinus, dan berlatarkan gunung, rasanya diri ini akan terpesona dengan kemegahannya jika bangunan ada di depan mata. Belum lagi terbangunnya suasana seperti kabut serta gemericik sungai Cigeureuh yang berada di kawasan Gunung Puntang yang airnya dingin dan jernih hingga sekarang. Beberapa Aleutians menyempatkan berendam sambil menggigil di bawah air terjun kecil, sekaligus menutup perjalanan dan rangkaian kegiatan Aleut! di tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami akan pulang, kendaraan peri kembali dipanggil. Hanya dengan satu pijitan di &lt;i&gt;keypad &lt;/i&gt;berwarna hijau, sinyal langsung tersalur sehingga penerima bisa menerima kabar melalui telepon genggam. Begitu kekinian dan merupakan hasil usaha zaman dulu untuk membangun sebuah komunikasi: hutan dibuka, perumahan didirikan, tiang-tiang besi ditancapkan di tingginya pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Hutagalung, Ridwan. 2009. “Pemboman” Radio Malabar. Artikel bisa dilihat di &lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=193995986486"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=193995986486&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wiryawan, Ryzki. 2010. Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II. Artikel bisa dilihat di &lt;a href="http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/"&gt;http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5784629712626385592?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5784629712626385592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5784629712626385592' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5784629712626385592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5784629712626385592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/12/radio-malabar-riwayatmu-kini.html' title='Radio Malabar, Riwayatmu Kini'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2973936279675409945</id><published>2011-12-16T14:16:00.004+07:00</published><updated>2011-12-16T22:29:26.253+07:00</updated><title type='text'>I Miss You, Teteh ...</title><content type='html'>Tahun demi tahun sudah berganti dan saya tetap menyimpan ini sendiri (saelah). Betapa saya rindu sama kedua teteh saya yang sudah pada menikah, punya anak, dan tinggal jauh dari rumah. Yang satu tinggal di luar kota, yang satu lagi sibuk mengurus suaminya ... *nyengir*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/57981_130280073685817_100001114758966_135022_2909199_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/57981_130280073685817_100001114758966_135022_2909199_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Teteh - anaknya - teteh - saya&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Hari ini saya dikecewaken lagi. Katanya teteh mau datang ke rumah, tapi tidak. Ia memang tidak menjanjikan, tapi harapan kepalang melambung tinggi saat teteh sms, "Nia, besok ada di rumah?" Dan saya kecewa pas saya bilang apa boleh saya mengajaknya main ke mall dan teteh bilang tidak bisa janji karena suaminya &lt;i&gt;over protective&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sekali. &lt;i&gt;Emangnya aku mau ngapain tetehku?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dulu, meski kami hanya saudara sepupu, kita pernah tinggal bersama di rumah ini. Yang satu asalnya dari Bogor, yang satu dari Surabaya. Mereka sekolah di Bandung dan tinggal bersama. Kita suka&lt;i&gt; hangout&lt;/i&gt; bareng, jalan-jalan, ngegosip, masker-maskeran, dan hal lazim yang dilakukan antar saudara perempuan. Tentu sebagai anak tunggal, saya terhibur. Namun begitu satu persatu nikah dan meninggalkan rumah, saya kehilangan. Sekarang saya sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pernikahan itu merubah aktivitas dan kepribadian seseorang. Sekuat apapun kita mencoba tetap menjadi diri kita dulu, pasti saja ada perubahan: baik atau buruk. Tentu suami yang baru kenal beberapa tahun itu menjadi prioritas utama ketimbang sepupu. Yaiyalah. Pun nanti saya juga demikian, hanya sedang berasa ditinggalkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau punya teman, tentu saya ingin menghabiskan waktu khusus dengan saudara sendiri. Saya ingin cerita tentang siapa yang saya suka atau sekedar minta masukkan tentang baju/sepatu apa yang ingin saya beli. Atau jalan bareng sambil mengomentari hal-hal ringan, bukan obrolan masalah rumah tangga.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Girls time. Family time.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Huhu, saya rindu teteh-teteh saya. Saya rindu &lt;i&gt;dulu&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2973936279675409945?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2973936279675409945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2973936279675409945' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2973936279675409945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2973936279675409945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/12/i-miss-you-teteh.html' title='I Miss You, Teteh ...'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6554231209362034032</id><published>2011-12-09T12:28:00.001+07:00</published><updated>2011-12-09T12:41:28.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Road Trip Jawa</title><content type='html'>Atas dasar tugas negara mengirimkan upeti ke puteri di Kerjaan Cepu (baca: lamaran), saya dan saudara melakukan &lt;i&gt;road trip &lt;/i&gt;dari Bandung hingga ke Cepu yang memakan waktu hingga 17 jam. Tidak akan saya ceritakan bagaimana perjalanannya, namun saya akan mengunggah beberapa foto sebagai bentuk cenderamata saya untuk pembaca. Mudah-mudahan suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0kyIBMkHViw/TuGdDvsPH8I/AAAAAAAABQg/kZ0WBwitvcQ/s1600/IMG_7537.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/-0kyIBMkHViw/TuGdDvsPH8I/AAAAAAAABQg/kZ0WBwitvcQ/s640/IMG_7537.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;The Railroad Sky Express (2011) at Cepu&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8Dv56MJ3j-s/TuGdK8bzJoI/AAAAAAAABQo/6w8Q0y_X8pk/s1600/IMG_7565.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-8Dv56MJ3j-s/TuGdK8bzJoI/AAAAAAAABQo/6w8Q0y_X8pk/s640/IMG_7565.JPG" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Solemn (2011) at Rest Area Toll Mertapada&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sU1pqD9dcLY/TuGdU080GOI/AAAAAAAABQw/GxbGgxryD60/s1600/Demak+%252813%2529.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-sU1pqD9dcLY/TuGdU080GOI/AAAAAAAABQw/GxbGgxryD60/s640/Demak+%252813%2529.JPG" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;The Grand Mosque of Demak (2011)&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eMJw8ce4-4A/TuGdhd41NrI/AAAAAAAABQ4/VQimlx1g1LI/s1600/IMG_7578.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://4.bp.blogspot.com/-eMJw8ce4-4A/TuGdhd41NrI/AAAAAAAABQ4/VQimlx1g1LI/s640/IMG_7578.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Sumedang tofu.&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-fI_vUoEZeJo/TuGdkNRX8TI/AAAAAAAABRA/fK66hZeFJZk/s1600/IMG_7355.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/-fI_vUoEZeJo/TuGdkNRX8TI/AAAAAAAABRA/fK66hZeFJZk/s640/IMG_7355.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Public transportation in Brebes.&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7FJ8rzBZlKE/TuGdm_CjyeI/AAAAAAAABRI/bZDm5bFMqTM/s1600/IMG_7363.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://4.bp.blogspot.com/-7FJ8rzBZlKE/TuGdm_CjyeI/AAAAAAAABRI/bZDm5bFMqTM/s640/IMG_7363.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;The view in Pantura&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UfNzoJCM9is/TuGdqLluIOI/AAAAAAAABRQ/0FcbiUWD27w/s1600/IMG_7470.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/-UfNzoJCM9is/TuGdqLluIOI/AAAAAAAABRQ/0FcbiUWD27w/s640/IMG_7470.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;The proposal&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-d7W7VRm6vt8/TuGdsSFPngI/AAAAAAAABRY/IDRmalnwtsI/s1600/IMG_7559.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://1.bp.blogspot.com/-d7W7VRm6vt8/TuGdsSFPngI/AAAAAAAABRY/IDRmalnwtsI/s640/IMG_7559.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Mertapada is the most expensive toll road in Indonesia.&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6554231209362034032?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6554231209362034032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6554231209362034032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6554231209362034032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6554231209362034032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/12/road-trip-jawa.html' title='Road Trip Jawa'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0kyIBMkHViw/TuGdDvsPH8I/AAAAAAAABQg/kZ0WBwitvcQ/s72-c/IMG_7537.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-7734464754609233842</id><published>2011-12-07T19:50:00.001+07:00</published><updated>2011-12-07T21:21:05.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ocehan pagi'/><title type='text'>Tempat Sampah yang Baik</title><content type='html'>Akhir-akhir ini saya memikirkan tentang hubungan saya dengan teman yang sedang lupa berteman dengan saya di saat dia senang. Saya mengenang betapa kita sering berkomunikasi saat dia dalam kondisi &lt;i&gt;down &lt;/i&gt;setelah putus, menggalau bersama, &lt;i&gt;move on&lt;/i&gt;, hingga dapat penggantinya lagi. Lalu begitu dia mendapatkan apa yang ia inginkan, ia lupa. Kami jadi berbicara seperlunya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya dia, tapi beberapa orang pun pernah begini. Saat jatuh, mereka baru datang. Tapi saat terbang, mereka mendamba hal-hal yang lebih tinggi. Lalu saya berpikir, "Kamu tuh gak inget sama orang yang ada saat kamu &lt;i&gt;down&lt;/i&gt;? Yang bahkan orang yang kamu idamkan itu gak ada dan bahkan gak tahu kalau kamu lagi &lt;i&gt;down&lt;/i&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya mulai menghitung untung rugi,&amp;nbsp;SWOT-nya kalau bisa. Kalau Sapta (teman di klab nulis) bilang, saya ini terlalu terkonsep. Terlalu&lt;i&gt; rigid&lt;/i&gt; terhadap peraturan pertemanan yang menurut saya idealnya harus begini atau begitu. Terlalu kaku bahwa orang dewasa harusnya begini dan begitu. Di luar itu, semuanya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapta juga cerita tentang hubungan pertemanannya dengan orang lain. Ringkasnya, pertemanan memang begitu. Ada kala kita senang-senang dan makan ati atas perlakuan teman. Tapi jika kita tidak mau jadi tempat sampah yang baik dan kadar makan ati lebih banyak daripada senang-senang, kita bisa memutuskan mau atau tidaknya melanjutkan pertemanan. Atau menjaga sebuah jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menulis tentang memahami orang lain. Intinya saya bertanya apakah dengan memahami orang lain, kita itu harus mengiyakan semua perkataan, memaklumi perbuatan buruknya lalu diakhiri makan ati, dan seterusnya. Hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa kelebihan dan kekurangan teman itu harus diterima. Satu paket. Dan itu tadi, resiko makan ati selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah saya mau atau tidak menjadi tempat sampah? Saya pikir itu tidak masalah asal ada &lt;i&gt;win-win solution&lt;/i&gt;. Dia buang sampah ke saya, saya buang sampah ke dia. Dia menjaga perasaan saya, saya menjaga perasaan ke dia. Begitu seterusnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-7734464754609233842?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/7734464754609233842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=7734464754609233842' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7734464754609233842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7734464754609233842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/12/tempat-sampah-yang-baik.html' title='Tempat Sampah yang Baik'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-4320188474062021951</id><published>2011-12-01T13:56:00.001+07:00</published><updated>2011-12-01T15:05:30.802+07:00</updated><title type='text'>Sophisticated</title><content type='html'>Dua puluh lima tempat yang harus diliput kemarin akhirnya selesai. Dari Bandung Utara hingga Bandung Selatan sudah dijelajah dalam 5 hari yang padat (dan ekstra 2 hari untuk beberapa tempat yang minta di luar jadwal). Di salah satu harinya, saya ditemani oleh Andika Budiman yang sudah mau mengantar ke Gunung Tangkuban Perahu dari pagi hingga sore. Padahal naik gunung bukan masalah perjalanan menuju ke sana dengan mengunakan kendaraan, tetapi juga masalah keliling jalan kaki untuk mendapatkan spot tertentu yang jaraknya tidak sedikit. Lagipula tidak hanya menemani ke gunung saja, tapi ke daerah yang jauh seperti Vihara Vipassana atau Gua Maria Karmel pun ia jabani. Salut untuk Andika!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/312835_261764240537399_100001114758966_637917_1049909381_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/312835_261764240537399_100001114758966_637917_1049909381_n.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Andika yang berbalur belerang Kawah Domas saat menemani liputan kemarin.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Untuk pembaca setia blog, pasti kamu sudah kenal Andika, tapi belum pernah kenal Sophie. Maka, di hari yang berbahagia ini (karena ini awal bulan dan sudah waktunya gajian itu pasti membahagiakan), saya akan bercerita tentang Sophie.&amp;nbsp;Ia, yang hampir dua tahun ini setia menemani saya, membantu saya memaknai jurnal dan reportasi perjalanan saya.&amp;nbsp;Sophie--kependekan dari &lt;i&gt;Sophisticated&lt;/i&gt;--adalah netbook HP Mini 110-1000 yang saya miliki semenjak saya jadi guru dulu. Warnanya hitam, tektur lingkaran ada di cangkangnya yang membikin Sophie tidak biasa, juga keyboard lebar dan empuk. Agak mirip dengan pemiliknya. Ehm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gJL-mbBrbns/TtcoQfPnHOI/AAAAAAAABQA/xaboeyW3ogA/s1600/IMG_7316.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-gJL-mbBrbns/TtcoQfPnHOI/AAAAAAAABQA/xaboeyW3ogA/s400/IMG_7316.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kata Aristoteles (kalau tidak salah) tujuan manusia ke bumi adalah untuk menamai benda-benda.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jGsjgV5GHQI/Ttcn5wKr1AI/AAAAAAAABP4/3WcE-BR4yuI/s1600/IMG_7343.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-jGsjgV5GHQI/Ttcn5wKr1AI/AAAAAAAABP4/3WcE-BR4yuI/s400/IMG_7343.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Banyak debu. Keseringan buka. Keseringan dibuka artinya keseringan dipakai. :D&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-MhE3k6xWHLA/TtcozKttalI/AAAAAAAABQI/YJwdIweEWUY/s1600/IMG_7339.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-MhE3k6xWHLA/TtcozKttalI/AAAAAAAABQI/YJwdIweEWUY/s400/IMG_7339.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bTgX8yPxjMY/TtcpRkZXMEI/AAAAAAAABQQ/TAcxrgeZ1yk/s1600/IMG_7341.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-bTgX8yPxjMY/TtcpRkZXMEI/AAAAAAAABQQ/TAcxrgeZ1yk/s400/IMG_7341.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ada card reader yang membantu banget proses pemindahan foto hasil liputan.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-uoYPj4MRli4/Ttc0DVAZYXI/AAAAAAAABQY/-k0TnMEAZVg/s1600/penuh+sama+foto.bmp" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://1.bp.blogspot.com/-uoYPj4MRli4/Ttc0DVAZYXI/AAAAAAAABQY/-k0TnMEAZVg/s400/penuh+sama+foto.bmp" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Desktop ramai sama foto.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Pada saat beli ini, beberapa teman saya juga beli netbook dengan merek lain. Tapi baru beberapa bulan berjalan, ada yang sudah diservis atau harus membeli baterai karena ngedrop. Rasanya saya membuat pilihan yang tepat dengan membeli netbook HP ini karena tahan lama. Bagaimana tidak, ia mampu bertahan 4 jam tanpa pasokan listrik sehingga memudahkan saya ketika &lt;i&gt;mobile &lt;/i&gt;dan harus mengetik. Juga sering saya bawa ke luar kota bahkan naik gunung karena ada beberapa hal yang harus segera diketik dan dikirimkan. Tentu, jika bukan kelebihan dan kemudahannya, kelancaran menghasilkan karya-karya seperti ini jadi terbantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/321246_221433824570441_100001114758966_527712_8009266_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/321246_221433824570441_100001114758966_527712_8009266_n.jpg" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Travel Club Magazine, 2011&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/305782_231482073565616_100001114758966_554443_672427575_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/305782_231482073565616_100001114758966_554443_672427575_n.jpg" width="227" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Liburan Magazine, 2011&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/296297_252353394811817_100001114758966_617610_1276070361_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/296297_252353394811817_100001114758966_617610_1276070361_n.jpg" width="243" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Travel Club Magazine, 2011&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dalam perjalanan, Sophie beberapa kali pernah terjatuh, baik saat memakai tas netbook atau telanjang sama sekali. Untungnya saat dinyalakan, netbooknya tidak pernah &lt;i&gt;blank&lt;/i&gt; dan masih berfungsi seperti biasa. Namun, untuk ukuran sebuah netbook, dalam mengedit foto atau video dengan resolusi besar dan kapasitas banyak, agak kesulitan karena bisa &lt;i&gt;freeze &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;lag &lt;/i&gt;sebentar. Selain dari itu, HP Mini 110-1000 ini tidak ada keluhan sama sekali. Pembuatan media visual seperti saat membuat slide powerpoint ketika saya jadi pembiacara di seminar kepenulisan Institut Pertanian Bogor (IPB) pun lancar jaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan saya sebagai c&lt;i&gt;ity contributor, freelance travel waiter,&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;internet geek &lt;/i&gt;rasanya sudah terpenuhi. Walaupun jika nanti kebutuhan sudah meningkat, tidak ada alasan untuk mengganti&lt;i&gt; brand&lt;/i&gt; Hewlett-Packard yang sudah dipakai selama bertahun-tahun ke &lt;i&gt;brand&lt;/i&gt; lain. Apalagi ada&lt;i&gt; prestige&lt;/i&gt; sebagai nilai tambahan untuk saya sebagai konsumen. Juga saya sebagai teman Sophie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dibuat untuk&amp;nbsp;HP Blog Competition "Me and My Idols"]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-4320188474062021951?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/4320188474062021951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=4320188474062021951' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4320188474062021951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4320188474062021951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/12/sophisticated.html' title='Sophisticated'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gJL-mbBrbns/TtcoQfPnHOI/AAAAAAAABQA/xaboeyW3ogA/s72-c/IMG_7316.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2296566529465399447</id><published>2011-11-30T23:36:00.001+07:00</published><updated>2011-12-01T00:20:58.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ocehan pagi'/><title type='text'>Masa Lalu #2</title><content type='html'>Saya pernah bilang bahwa saya tidak mengambil porsi besar untuk &lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/masa-lalu.html"&gt;masa lalu.&lt;/a&gt; Mungkin karena saya bukan pengikut psikoanalis, juga tidak ingin apa yang sudah berlalu menjadi justifikasi tindakan sekarang. Tapi keberadaan masa lalu itu ada pentingnya di masa kekinian, jadi tidak bisa dinihilkan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu merambat melalui jendela, merayap di dinding dan sela kasur, lalu menelusup masuk ke telinga, menjalar ke otak di kala malam. Walau pikiran sedang bagus, masa lalu bisa menggerogoti sehingga hanya menyisakan pikiran buruk yang residunya diturunkan ke hati. Rasanya sakit tapi tidak bisa sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gelas berisi soda pernah tumpah di rumah makan siap saji karena tidak sengaja, seorang anak pernah terdorong jatuh dengan tidak sengaja pula, sebuah mulut pernah menghardik karena perilaku yang belum benar atau membuat bising CPU dengan tidak sengaja. Saat itu saya paham bahwa perilaku buruk dilakukan seseorang pasti tidak sengaja. Hanya orang jahat yang mau menyakiti dengan sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal buruk ingin dibikin lupa, hal baik ingin dibikin agar kita bisa hidup lagi di dalamnya. Dengan cara diingat-ingat, dengan cara terus disesali, dengan cara pura-pura lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia hidup, mengintaimu di kala malam, mengikutimu bagai bayangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2296566529465399447?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2296566529465399447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2296566529465399447' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2296566529465399447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2296566529465399447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/masa-lalu-2.html' title='Masa Lalu #2'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8653332685724343520</id><published>2011-11-27T12:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-27T13:45:49.210+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Drama Sekolah: Bullying</title><content type='html'>Awalnya saya berpikir lembah kecil seperti foto di bawah ini hanya ada di alam mimpi saya saja. Saya ingat berjalan bergerombol dengan entah siapa mengelilingi lembah kecil ini. Imaji visual begitu terpatri dalam ingatan karena saya takjub dengan lubang besar menganga di tengah hutan hujan tropis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jVt-xkA7HHk/TtHMUPatUfI/AAAAAAAABPw/d59RIHqj46M/s1600/IMG_7246.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-jVt-xkA7HHk/TtHMUPatUfI/AAAAAAAABPw/d59RIHqj46M/s400/IMG_7246.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ternyata ini beneran ada!&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Itu bukan mimpi karena lembah kecil itu terletak di Kawah Domas (kompleks Gunung Tangkuban Parahu) yang pernah saya kunjungi ketika saya SD. Kemarin (26/11), saya pergi ke sana untuk keperluan liputan, ditemani oleh Andika. Maka, 1.2 kilometer dari gerbang awal ke Kawah Domas, kami habiskan dengan kenangan saat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan salah satu guru di kelas 4 yang kebaikannya selalu saya kenang. Rasanya dia satu-satunya guru yang sayang sama saya apa adanya. Kalau tidak salah namanya Pak Heryanto. Andika bertanya memangnya saya seaneh apa sehingga hanya ada satu guru yang memperhatikan. Saya tidak aneh, tidak menonjol, dan juga tidak pintar. Saya hanya selalu jadi korban hinaan/candaan teman-teman. Kulit saya tidak seputih teman-teman lain (baca: hitam) sehingga saya selalu dihina 'hula-hula', 'Irian Jaya', 'kuman', 'dekil', dan lainnya. Ada salah satu teman yang selalu mengelap setiap barang yang saya sentuh karena saya parasit, mungkin. Saat ia dicomblangin sama saya, ia berkata, "Saya mau kalau dia putih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu. Sementara sekarang masyarakat Papua atau Afrika juga bisa menikah dan memiliki keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut saya hitam lurus (aneh) yang poninya tergerai melampaui mata serta rok 3/4 karena ibu saya membelinya kebesaran. Saya mungkin seperti anak kampung.&amp;nbsp;Selain itu juga saya teringat salah satu guru SD yang mencubit saya karena saya gaduh. Saya juga ingat ketika saya mengadu ke ibu, lantas ibu menjawab, "Ya suruh siapa kamu nakal!" dan saat itu saya patah hati. Sebagai mantan guru SD, saya pernah berhadapan dengan anomali kekinian tentang orang tua yang komplain dari aduan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMP dan SMA saya juga sama saja. Saya sering dihina. Kini permasalahannya bukan karena warna kulit, tetapi jerawat. Masalah kulit saya ini abnormal dan membikin &lt;i&gt;self-esteem&lt;/i&gt; saya jatuh. Jadi, sampai sekarang, saya tidak pernah menganggap diri saya menarik dan merasa sensasi aneh serta ganjil kalau ada orang yang bilang saya manis, cantik, atau menarik. Jus.ti.fi.ka.si. Mending tidak usah disebut sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kehidupan membaik saat kuliah. Mungkin orang-orangnya lebih dewasa ketimbang sekolah. Saat sekolah, berbeda sedikit, langsung jadi bahan gurauan. Andika juga bilang kalau ada murid baru atau orang luar Jawa saat sekolah, mereka pun tidak mengalami kehidupan yang mulus. Ia melanjutkan bahwa ajang reuni pun seperti manusia dalam sebuah kompetisi yang sedang berlomba menuju garis finish. Ada yang sudah jadi dokter, ada yang kuliah di luar negeri, dan lainnya. Tapi saya tidak khawatir karena jika seseorang tahu siapa dirinya dan mau menjadi apa, ia tidak perlu takut berkompetisi dengan orang lain karena setiap orang jiwa punya tempatnya masing-masing. Oke, kamu mungkin senang jadi dokter, tapi saya lebih senang menjadi penulis karena ini adalah hal yang saya inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya ini bertanya kenapa saya bisa bercerita tentang kehidupan sekolah saya dengan enteng. Mungkin karena saya sudah &lt;i&gt;get over it&lt;/i&gt;. Lagipula, saya tidak ingin masa lalu menjadi kambing hitam dan tolak ukur atas keadaan saya sekarang. Biar dia jadi cerita yang bisa saya bagi seperti dalam perjalanan ke Kawah Domas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, untuk anak-anak sekolah sekarang yang sedang di-bully ... kamu enggak perlu khawatir. Nanti ada kalanya kamu menemukan jati diri, lebih percaya suara hati ketimbang omongan orang lain, lalu terang bersinar seperti bintang di pekatnya malam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8653332685724343520?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8653332685724343520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8653332685724343520' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8653332685724343520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8653332685724343520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/drama-sekolah-bullying.html' title='Drama Sekolah: Bullying'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jVt-xkA7HHk/TtHMUPatUfI/AAAAAAAABPw/d59RIHqj46M/s72-c/IMG_7246.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6770368272483018042</id><published>2011-11-16T20:59:00.001+07:00</published><updated>2011-11-17T11:39:02.108+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Prasangka di Balik Pecinan</title><content type='html'>Teman saya, seorang keturunan Tionghoa, pernah menautkan tulisannya yang berjudul ‘Hai, Cina!’ yang berisi keputusannya kuliah di universitas negeri. Keputusan ini sangat besar baginya karena pada saat itu ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berpindah dari lingkungan homogen ke heterogen. Beruntung orang tuanya tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa ia akan menjadi minoritas dan pasti akan menemukan banyak perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu masuk hitungan cukup beruntung dimana orang tuanya suportif terhadap keputusannya. Tidak sedikit teman-temannya yang dilarang untuk kuliah yang mayoritasnya ada pribumi dan muslim. Kebanyakan mereka dimasukkan ke universitas swasta non-muslim. Ketakutan orang tuanya itu wajar karena ingin melindungi anaknya dari diskriminasi ras Tionghoa yang terjadi di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimanakah diskriminasi kaum Tionghoa bisa terjadi, mungkin sedikit banyak jawab terjawab saat saya dan Aleutians jalan-jalan ke Pecinan. Awalnya saya tidak akan ikut karena ide menjelajah kawasan Pecinan tampak tidak menarik bagi saya. Tapi untungnya keputusan salah saya tidak diambil, karena perjalanan kemarin (13/11) sungguh menginspirasi saya dalam menulis tema yang sebenarnya sudah lama ingin saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah Cina, pelit lagi. Calon masuk neraka!” teriak salah seorang pemulung kepada ibu saya yang cuek saat ia mengemis minta makan. Ibu saya memang bukan keturunan Tionghoa, tapi kulitnya yang terang, mata sipit, dan perawakannya merujuk seperti warga Tiongho. Tapi kami ikut tersentil mendengar kata ‘Udah Cina, pelit lagi.’ Memangnya kalau Cina, ada yang salah? Memangnya kalau pribumi boleh pelit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab, biarkan saya menceritakan ulang sejarah Pecinan yang saat itu diceritakan oleh Candra dan Indra. Pecinan atau China Town terjadi saat Indonesia masih dijajah Belanda, warganya dipecah-pecah berdasarkan rasnya untuk memudahkan pengendalian warga yaitu Eropa (termasuk Jepang yang dianggap maju dengan orang kulit putih), Timur Asing (Tionghoa), dan pribumi. Untuk warga Tionghoa, dibangun sebuah konsentrasi yang dikenal sebagai Pecinan. Di Bandung, mereka ditempatkan di kawasan Cibadak dan Pasar Baru. Di kawasan Cibadak, mayoritas kaum Tionghoa bekerja sebagai tukang atau pengrajin. Sementara di Pasar Baru, kaum Tionghoa bekerja sebagai pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/381865_255491167831373_100001114758966_625107_709967023_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/381865_255491167831373_100001114758966_625107_709967023_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/308170_255491374498019_100001114758966_625112_1907056198_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/308170_255491374498019_100001114758966_625112_1907056198_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Bandung, di Jakarta dan Semarang pun dilakukan pemisahan. Bahkan di tahun 1740, Pecinan dibenteng dan lahan orang Tionghoa dibatasi. Bahkan ada yang namanya kartu pas atau izin jalan. Untuk bisa keluar benteng, mereka harus memiliki kartu pas—mungkin semacam visa kalau kita mau jalan ke negara tetangga. Sistem kartu pas dan benteng ini dihapus di awal abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbatasnya lahan ini mempengaruhi tempat tinggal mereka yang bangunannya memiliki karakteristik tinggi dan panjang. Jika kita jalan ke Pecinan yang ada di Bandung, rumah sekaligus toko (ruko) yang dihuni warga Tionghoa adalah hal yang lazim dilihat sekarang ini. Tentu saja tidak semua ruko dihuni warga Tionghoa, begitu juga rumah biasa yang dihuni warga pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Mereka turut memutar roda ekonomi dengan bisnis atau berdagang. Unggul dalam bidang ekonomi, mereka diberi peran sebagai perantara pasar modern (Belanda dan Barat) dengan pasar tradisional kala itu. Selain itu menimbulkan kesan bahwa warga Tionghoa “berada di atas” pribumi dengan segala eksklusivitas. Ini bisa jadi pencetus prasangka-prasangka dan diskriminasi yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu usaha warga Tionghoa yang waktu itu kami datangi adalah warung Cakue Osin yang ada di Jalan Pasar Barat. Pemiliknya yang bernama Lie Tjay Tat membikin cakuenya sendiri. Dengan senang hati, ia mempertunjukkan cara memotong adonan, melekatkan dengan air, hingga menggorengnya yang memiliki teknik tersendiri agar cakuenya mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/378689_255494171164406_100001114758966_625154_324195968_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/378689_255494171164406_100001114758966_625154_324195968_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/377234_255493397831150_100001114758966_625143_904684189_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/s720x720/377234_255493397831150_100001114758966_625143_904684189_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/391107_255492757831214_100001114758966_625140_1086962447_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/391107_255492757831214_100001114758966_625140_1086962447_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Selain menjual cakue, mereka menjual kompia (sejenis roti keras yang cocok dipasangkan dengan bubur kacang tanah) yang memiliki dua jenis yaitu kompia kosong atau kompia yang berisi daging babi, bala-bala daging babi, dan lainnya. Bagi kaum muslim, sebelum makan di daerah Pecinan itu sebaiknya tanya dulu apakah makanannya halal atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dengan Tionghoa pun erat kaitannya. Saat melewati viharra yang ada di Jalan Kebon Sirih, Indra mengemukakan tema bahwa beberapa walisongo adalah orang Tionghoa (Indra menambahkan ada juga yang dari Hadramaut dan wilayah Magribi (Afrika Utara), seperti Sunan Gresik). Maka jika ditelusur lewat internet, menurut Prof. Slamet Muljana dalam bukunya yang sempat dilarang edar pada saat Orde Baru berjudul Runtuhnya Kerjaan Hindu Jawa (1968) memang mengatakan seperti yang Indra bilang. Namun pemerintah Orde Baru yang sudah kepalang menganggap Tionghoa sebagai musuh karena dianggap komunis dan membantu gerakan 30 September 1965, melarang buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai prasangka dan kecurigaan ini terus bergulir melalui berbagai macam peristiwa dari peristiwa pembantaian warga Tionghoa oleh VOC di Muara Angke tahun 1740 hingga tragedi Mei 1998 dimana manusia diperkosa dan dibunuh karena ras yang tentu tidak ia minta. Prasangka yang diturunkan secara berkelanjutan yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa kejadian, memicu pemulung berteriak seperti itu dan jadi alasan orang tua melarang anaknya bersekolah di lingkungan dengan mayoritas pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya Tionghoa, tapi prasangka negatif juga terjadi di dalam pribumi seperti Sunda itu mata duitan, Jawa itu lamban, Batak itu keras, dan lainnya. Tidakkah yang mata duitan sekarang tidak hanya suku Sunda saja? Tidakkah semua orang membutuhkan uang? Dan sebagaimana semua orang—apapun sukunya—bisa lamban dan keras? Prasangka yang manusia bikin sendiri tentunya menjadi tidak valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan panjang lebar di atas boleh jadi hanya dari sudut pandang saya sebagai pribumi, sebagaimana buku sejarah, literatur, dan bahan-bahan lain yang dijadikan rujukan, dengan kurangnya bagaimana pandangan kaum Tionghoa terhadap pribumi. Proses pencarian yang tidak hanya merujuk benda mati melainkan berdiskusi juga bisa memecah prasangka karena ada interaksi untuk mengkonfirmasi tentang hal-hal yang selama ini manusia duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada akhirnya, Tionghoa dan pribumi adalah sebuah label yang saling membatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Our greatest strength as a human race is our ability to acknowledge our differences, our greatest weakness is our failure to embrace them.”&lt;/i&gt; --Judith Henderson.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6770368272483018042?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6770368272483018042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6770368272483018042' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6770368272483018042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6770368272483018042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/prasangka-di-balik-pecinan.html' title='Prasangka di Balik Pecinan'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-4054919033336942370</id><published>2011-11-06T14:20:00.001+07:00</published><updated>2011-11-06T14:20:37.989+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><title type='text'>Selimut Debu (2010)</title><content type='html'>Meluruskan &lt;i&gt;stereotype &lt;/i&gt;yang salah tentang Afghanistan, boleh jadi itu salah satu tujuan &lt;a href="http://avgustin.net/"&gt;Agustinus Wibowo &lt;/a&gt;(akrab dipanggil Gus Weng) dalam membuat buku Selimut Debu. Setelah membaca &lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/garis-batas-2011.html"&gt;Garis Batas&lt;/a&gt;, lagi-lagi saya terkesima dengan gaya bertuturnya serta informasi yang terkandung di dalam bukunya. Jelas ia membaca banyak buku dan membuat Selimut Debu bukan sekedar catatan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://vavai.com/wp-content/uploads/2010/03/selimut-debu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://vavai.com/wp-content/uploads/2010/03/selimut-debu.jpg" width="216" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di Afghanistan, ia jarang menceritakan tentang perempuan karena perempuan di sana sulit sekali ditemui. Belum lagi penggunaan burqa sebagai simbol anonimitas, identitas, budaya, kenyamanan, dan keamanan perempuan berada di dalamnya yang membuat Gus Weng kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan menjadi hal yang paradoks. Dalam kebudayaan Afghanistan, kehormatan adalah hal yang dijunjung tinggi, salah satu bentuk dari kehormatan adalah perempuan. Ketika dua laki-laki Afghan bersinggungan, mereka tidak akan membicarakan istri atau saudara perempuan mereka. Dan ketika harus keluar rumah, seorang perempuan harus ditemani oleh satu orang laki-laki. Sekilas terlihat bahwa perempuan begitu dianggungkan dan dilindungi oleh suami sebagaimana yang ditulis Gus Weng;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;‎"Dalam pepatah kuno Pashtun, tempat perempuan itu hanya rumah dan liang kubur. Perempuan kerja di luar rumah itu melanggar hukum 'agama', karena laki-laki adalah penyedia dan pelindung." (Agustinus Wibowo:158)&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Gus Weng menuliskan saat Lam Li (teman jurnalisnya dari Malaysia) memperlihatkan foto perempuan pekerja yang ada di Malaysia, perempuan Afghan itu malah jatuh kasihan karena mereka harus bekerja, bukan suaminya seperti yang dilakukan di Afghanistan. Dituliskan juga bahwa jika suami dari perempuan meninggal, maka hidupnya ditanggung oleh saudara laki-laki dari suaminya. Jika sudah tidak ada lagi, maka perempuan itu harus bekerja. Namun bagaimana bisa bekerja jika perempuan hanya menghabiskan waktu di rumah dan (nantinya) di liang kubur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di sana anonim: antara ada dan tiada. Secara kasat mata, mereka tampak diagungkan dan dijaga baik-baik, namun banyak juga yang mengalami penyiksaan oleh suaminya sendiri. Sebagai informasi tambahan, di video National Geographic: Too Young To Wed ini ditunjukkan bahwa seorang perempuan mencoba membakar diri setelah tidak sengaja merusak televisi suaminya. Selain itu ada yang ditusuk suami karena keluar rumah tanpa izin suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada budaya pacaran, pernikahan yang terjadi di sana terjadi karena poses perjodohan. Biasanya dalam sebuah pertemuan yang isinya hanya perempuan, calon ibu mertua datang lalu memilih perempuan yang akan jadi menantunya. Tentu perjodohan yang tidak didasari rasa cinta menjadi problematika sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"Ada perempuan yang dipenjara karena menolak dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tua ... Banyak istri yang tersisa atau janda miskin akhirnya memilih jalan pintas--menenggak racun atau membakar diri ... meluluhlantahkan kulit, dan menghancurkan wajah mereka, menyuarakan ratapan pedih dari makhluk yang tak pernah didengar suaranya ini." (Agustinus Wibowo:175-176)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Perinkahan baru terjadi ketika calon suami mampu membayar mahal yang mahal (sekitar $4000). Karena perekonomian pasca perang Afghanistan terlunta-lunta, maka tidak semua pria dapat menikah sementara prostitusi menjadi hal yang tidak mungkin. Dampak dari fenomena ini adalah mereka menyalurkan hasrat seksualnya pada anak laki-laki. Rupanya di Afghanistan itu pria dewasanya banyak yang &lt;i&gt;playboy&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Play with boy&lt;/i&gt;. Artinya pria dewasa "memberi" sementara anak kecil "menerima". Bukan berarti homoseksual, tetapi, hanya saja "bermain" dengan anak kecil itu paling murah dan gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya anak kecil yang dicari itu laki-laki cantik, mulus, dan tidak berbulu. Bahkan ada pria dewasa yang sengaja membesarkan anak seperti ini untuk objek permainannya karena ia akan dianggap maskulin dan dominan. Anak ini akan terus dipakai sampai dia berbulu, menikah, lalu menjadi pria dewasa yang bermain dengan anak kecil lainnya. Budaya seperti Yunani ini juga ternyata dekat dengan kita sebagai warga Indonesia, yaitu adanya fenomena &lt;a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1167"&gt;warok dan gemblak&lt;/a&gt; di Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Selimut Debu, di sana diceritakan betapa bangsa Afghanistan sangat mencintai tanah debunya--&lt;i&gt;khaak&lt;/i&gt;. Meskipun banyak terjadi perang salah satunya saat dijajah Rusia dan dikuasai Taliban sehingga banyak dari mereka yang mengungsi ke Pakistan, Iran, bahkan banyak yang terdampar di Indonesia saat mau ke Australia, jelas mereka bangga terhadap tanahnya. Selain itu, tidak hanya kemiskinan dan peperangan, bangsa Afghan terkenal dengan keramahtamahannya (walaupun Gus Weng pernah berjalan kaki di atap dunia atau bermandikan debu karena tidak ada mobil yang mau mengangkutnya). Kedai teh (&lt;i&gt;samovar&lt;/i&gt;) di tengah gurun, keberutungan, serta keramahtamahan warga membuatnya mampu bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengetahuan yang membuka cakrawala saya tentang dunia di Asia Tengah, personalisasi yang dituangkan oleh Gus Weng terus mengingatkan saya bahwa ini adalah sebuah catatan pribadi, bukan buku paket sejarah dan budaya Afghanistan. Gaya bertuturnya dan rangkaian katanya membuat saya terus berlanjut dari lembar per lembar, imajinasi ke imajinasi, membayangkan kayanya pengetahuan di balik debu itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-4054919033336942370?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/4054919033336942370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=4054919033336942370' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4054919033336942370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4054919033336942370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/selimut-debu-2010.html' title='Selimut Debu (2010)'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-339036687972986959</id><published>2011-11-05T13:40:00.002+07:00</published><updated>2011-11-05T13:48:45.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><title type='text'>bongkar/muat</title><content type='html'>Masih di bulan yang sama, dua tahun yang lalu, saya pergi ke Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Ada seorang pria dari Malang yang mengadakan pameran tunggal di selasar, kemudian saya tuliskan ulasan kunjungannya dengan judul &lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/2009/11/mencoba-merendah-bersama-gatot.html"&gt;Mencoba Merendah Bersama Gatot&lt;/a&gt;. Jelas, saya suka karya seniman yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin (04/11), saya dan Andika pergi ke SSAS lagi. Ada sebuah pameran kelompok bertajuk bongkar/muat (unload/reload) yang diisi oleh Gatot Pudjiarto, Made Guna Valasara, dan Rudayat dalam sebuah program baru SSAS yaitu transit. Selain memang ingin melihat pameran seni, Gatot Pudjiarto yang lebih membuat saya datang ke bongkar/muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyanya kali ini bukan kolase canvas saja, tetapi dari lima karyanya yang dipampang tadi malam, ada kain perca yang ia sambung dan jahit sehingga menghasilkan sebuah karya. Tengoklah fotonya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-BaHCPKuFN0s/TrTToLOaP_I/AAAAAAAABMw/5qZK9zboIC0/s1600/DSC01132.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-BaHCPKuFN0s/TrTToLOaP_I/AAAAAAAABMw/5qZK9zboIC0/s400/DSC01132.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Takut Akan Keterbukaan, 2011&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-YrgoeOM4uPU/TrTTsUGIkGI/AAAAAAAABM4/b6vZIbp_CFU/s1600/DSC01140.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-YrgoeOM4uPU/TrTTsUGIkGI/AAAAAAAABM4/b6vZIbp_CFU/s400/DSC01140.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Metamorfosis, 2011&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Lalu juga kedua karya di bawah ini dengan judul Membongkar Artefak yang membikin penasaran ada gambar apa di balik carut marut canvasnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-n6UjghGBEDU/TrTUm07obvI/AAAAAAAABNA/ZmFrpc9eowY/s1600/DSC01131.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-n6UjghGBEDU/TrTUm07obvI/AAAAAAAABNA/ZmFrpc9eowY/s400/DSC01131.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MveXftR6ZHQ/TrTUsm10UwI/AAAAAAAABNI/oIUH-8VlhmQ/s1600/DSC01130.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-MveXftR6ZHQ/TrTUsm10UwI/AAAAAAAABNI/oIUH-8VlhmQ/s400/DSC01130.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya pada Andika, "Gatot Pudjiarto itu tukang jahit ya?" Soalnya karyanya berupa perpaduan canvas, kain, serta benang yang digunakan dengan jahitan teknik dasar jelujur. Canvas biasanya dipakai untuk dilukis atau digambar, tapi Gatot Pudjiarto membiarkan imajinasnya tertuang pada jelujur benang yang identik pada feminitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang ke pameran seni bukan berarti saya mengerti seni.&amp;nbsp;Baca katalognya pun saya tidak mengerti.&amp;nbsp;Tapi saya ingin menikmati seni. Oh, ngomong-ngomong soal katalog, saya tidak dikasih karena harus 'satu-berdua' dengan Andika karena alasan katalognya hanya sedikit. Sangat mengecewakan bagi saya yang ingin mengetahui penjelasan tentang karya Pudjiarto. Saya mengeluhkan pada Andika bagaimana jika jumlahnya hanya sedikit, mending tidak usah dibagikan saja karena mengecewakan jika pengunjung harus memahami hal-hal yang seharusnya bukan urusannya. Paham, mbak-mbak yang ada di meja tamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hal yang menganggu tadi, saya menikmati karya dua seniman lainnya. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tentang canvas yang diisi dengan busa oleh Made Guna Valasara, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hendro Wiyanto, " ... mendorong&amp;nbsp;keluar&amp;nbsp;sifat datar permukaan kanvasnya ke arah lekukan dan permukaan cembung dengan warna monokrom putih mulus ..." &amp;nbsp;atau realitas sosial yang tercermin dari dinding-dinding kotor perkotaan dikemukakan oleh Rudayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gP8SowO1N18/TrTY4cT7p9I/AAAAAAAABNQ/VKamsLJfPXg/s1600/DSC01148.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-gP8SowO1N18/TrTY4cT7p9I/AAAAAAAABNQ/VKamsLJfPXg/s400/DSC01148.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Terbiasa Jadi Anjing, 2011&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tl6bIh4e8JU/TrTY8BKN2HI/AAAAAAAABNY/6Ij49dY_ON4/s1600/DSC01127.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-tl6bIh4e8JU/TrTY8BKN2HI/AAAAAAAABNY/6Ij49dY_ON4/s400/DSC01127.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;White #1 (After Freud)&lt;br /&gt;Karya Made ini membikin tidak tahan untuk menyentuh. Tapi kan peraturannya tidak boleh memegang :)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Baik Gatot, Made, atau Rudayat, jelas ketiganya membikin saya bisa menarik sebuah garis di luar ranah seni tentang pentingnya eksplorasi dan berani keluar dari kotak. Mudah-mudahan pengalamannya tidak transit, melainkan menetap lalu dijalankan secara konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat untuk ketiganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-339036687972986959?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/339036687972986959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=339036687972986959' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/339036687972986959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/339036687972986959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/bongkarmuat.html' title='bongkar/muat'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BaHCPKuFN0s/TrTToLOaP_I/AAAAAAAABMw/5qZK9zboIC0/s72-c/DSC01132.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1118804537049397851</id><published>2011-10-29T21:55:00.001+07:00</published><updated>2011-10-29T21:55:11.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ocehan pagi'/><title type='text'>Esensi Bahagia</title><content type='html'>Agaknya kemarin-kemarin ini saya melakukan sebuah kesalahan: saya mencari dan menggantungkan kebahagiaan saya pada orang lain. Bukankah--seperti kata Einstein-- jika ingin bahagia, gantungkan itu pada tujuan, bukan pada orang atau barang? &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt; Misalnya begini. Jika saya kecewa dengan satu orang yang tidak bisa memberi kebahagiaan, maka saya akan mencari orang lain (sebagai distraksi) agar saya bisa mendapatkan kebahagiaan. Lantas, kenapa saya harus mencari esensi bahagia pada orang ketimbang membikin sendiri? Bukankah bahagia dan tidak itu kita yang memutuskan? &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt; Salah satu tujuan dari tulisan ini juga untuk mengamini perkataan teman saya bahwa jangan pernah bergantung atau bersandar pada orang lain, karena pada akhirnya kita semua harus bisa berdiri di kaki sendiri. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt; Bukan berarti tidak butuh orang lain, tapi kita harus mandiri. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt; Jadi jika saya ingin bahagia dengan cara yang saya sebutkan di contoh atas lagi dan lagi, maka saya layaknya orang bodoh yang menggunakan cara yang sama tapi berharap hasil yang berbeda. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt; Maka dengan ini saya taubat, saya tidak akan menggunakan orang untuk mencari kebahagiaan.&lt;div style='clear: both; text-align: center; font-size: xx-small;'&gt;Published with Blogger-droid v1.7.4&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1118804537049397851?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1118804537049397851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1118804537049397851' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1118804537049397851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1118804537049397851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/esensi-bahagia.html' title='Esensi Bahagia'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2071210131476887386</id><published>2011-10-28T01:46:00.001+07:00</published><updated>2011-10-28T01:52:53.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Di Pagi Buta</title><content type='html'>Jadi, di pukul 1:27 AM yang tertera ketika saya menulis kalimat pertama ini, saya masih dalam keadaan terbangun. Terjaga. Tidak terlelap. Malam saya habiskan dengan bikin laporan kerjaan, lalu menonton video di YouTube, berbincang bersama teman yang datang ke rumah, lalu membaca ulang tulisan saya di blog. Ternyata saya banyak menuliskan catatan perjalanan ya. Tidak ada catatan pribadi seperti sekarang. Ahk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa ya ... jadi di bulan ini saya melakukan banyak perubahan seperti mendapat pekerjaan baru sebagai kontributor website travelling, juga saya memperbaiki hubungan dengan bapak saya. Proses perbaikan ini diawali dari saya yang memerlukan waktu bertahun-tahun agar hari kemarin itu datang. Lalu saya &lt;i&gt;dial&lt;/i&gt; nomernya dan berbicaralah saya dengan bapak. Kasihan dia. Kemarin sempat terkena serangan jantung dan kena koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak bertanya tentang keadaan ibu saya. Saya bilang ibu kena stroke. Bapak kaget. Kalau saya sudah lewat kagetnya, juga perasaan sedih mengetahui saat orang tua mengidap penyakit berat secara bersamaan. Tapi ternyata Tuhan masih sayang sama saya. Saya diberi keluarga dan teman-teman yang begitu menyayangi dan memperhatikan saya dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu beberapa minggu yang lalu, si Yudo juga sempat nginap di rumah setelah sekian tahun tidak berjumpa. Lalu di lain kesempatan, saya (terus) belajar bahwa pentingnya tidak menyandarkan diri kepada orang lain karena yang menolong saya pada akhirnya hanya diri saya. Juga saya sedang berusaha memerintahkan si otak mengambil alih fungsi badan dari perasaan, dikempeskan lalu dimampatkan sebentar. Nanti kalau Tuhan mengizinkan, perasaan akan berkembang. Ya itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ya ... Saya banyak diskusi sama teman tentang pikiran positif, tentang memahami teman, tentang hubungan dengan keluarga. Dari diskusi ternyata banyak amanat yang bisa diambil yang bikin saya semakin bangga pada diri saya, saya terima semua kemenangan dan kekalahan yang pernah saya alami, dan saya peluk semua kenyataan di hidup saya: baik atau buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hingga akhir tulisan, saya masih berpikir-pikir apakah ini akan di-publish atau diarsipkan saja. Namun saya masih yakin tentang manfaat menulis jujur bagi diri serta orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan merahmati kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2071210131476887386?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2071210131476887386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2071210131476887386' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2071210131476887386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2071210131476887386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/di-pagi-buta.html' title='Di Pagi Buta'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1626682135412021110</id><published>2011-10-24T20:53:00.000+07:00</published><updated>2011-10-25T00:28:16.419+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Telusur Citarum Purba</title><content type='html'>Saat SMS undangan ngaleut datang tanpa menyebutkan destinasinya, saya tidak memiliki bayangan hingga sms tersebut memberitahukan, "Seru beeng. Ngingetin sama ngaleut pertama kamu, Nia." Karena ngaleut pertama saya adalah menyusuri Sungai Cikapundung, berarti kali ini juga akan menyusuri sungai. Apalagi di SMS tersebut ada biaya transportasi Rp30.000,00, maka saya jadi curiga bahwa Minggu (23/10) akan pergi ke Citarum Purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku catatan kecil sudah dibawa. Kamera sudah dipersiapkan. Dan asumsi saya ternyata benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya bertanya pada teman dimana itu Citarum Purba saat melihat foto-fotonya, dia membalas, "Rahasiaa." Meh. Melihat saya akan pergi ke sana, rasanya hati ini sudah senang duluan karena perjalanan sekarang ini akan menjawab sebuah rasa penasaran. Dengan carteran angkot di daerah alun-alun, masuk daerah Rajamandala-Padalarang hingga PLTA Saguling, sampailah saya ke sebuah sungai yang panjangnya kira-kira 225 kilometer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citarum ini dari kata Ci dan Tarum. Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air, sementara Tarum atau nila itu adalah jenis tanaman. Citarum bukanlah sungai biasa. Bagaimana tidak, ia adalah aliran air yang pernah mampat oleh lahar letusan Gunung Sunda lalu membanjiri cekungan Bandung sehingga terjadi Danau Bandung Purba! Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kami ke sebuah gua Sangyang Tikorok. Ini merupakan aliran sungai bawah tanah dan menembus sebuah bukit. Menurut Pia, aleutians yang diminta menjelaskan tentang arti nama gua ini, Sangyang itu sama seperti The Almighty atau The Holly sementara Tikorok itu tenggorokan. Bahkan ada mitos jika sebuah kayu masuk ke dalam maka gua ini akan bersuara seperti tenggorokan yang tersedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/297831_246722612041562_100001114758966_600260_1811877155_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/297831_246722612041562_100001114758966_600260_1811877155_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sangyang Tikorok&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tidak ada yang berani menyusuri gua yang panjangnya sekitar 200 meter ini. Kata Bang Ridwan, orang mungkin hanya berani masuk sekitar 80 meter. Tapi ternyata ada saja beberapa warga yang berani menelusuri panjang gua sampai habis. Membayangkan 200 meter yang gelap dan penuh dengan suara gemericik air saja sudah menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari sana, kami ke Sangyang Poek, gua di daratan. Di balik gua ada sebuah ruang yang dikelilingi dan dinaungi oleh batu yang sangat besar. Sebenarnya menuju ruang itu bisa masuk gua Sangyang Poek. Tapi saya memilih lewat jalan yang agak memutar namun tetap terbuka. Untuk mengisi tenaga ke destinasi selanjutnya dan menunggu rintik hujan reda, kami makan siang dari bekal yang sudah kami beli di daerah Padalarang. Penting untuk dicatat karena daerah sini tidak ada warung apalagi Alfamart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FMgt7syGgmU/TqWgG2r5P3I/AAAAAAAABK8/T75vsNCVqE8/s1600/IMG_6599.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-FMgt7syGgmU/TqWgG2r5P3I/AAAAAAAABK8/T75vsNCVqE8/s400/IMG_6599.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/319592_246738282039995_100001114758966_600424_934455011_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/319592_246738282039995_100001114758966_600424_934455011_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oke, jika ini Citarum Purba, lalu kita mau kemana lagi? -- itu yang terbesit oleh saya karena kalau tidak salah foto-foto teman saya hanya sampai batu besar itu saja. Ternyata, jika tidak jauh, bukan Aleut! namanya. Dan kalau pun jaraknya dekat, pasti aleutians juga kecewa. Kami terus berjalan menuju hulu, melewati, menginjak, dan melompati bebatuan yang begitu besar, sampai ke sebuah kolam hasil bendungan aliran air akibat celah batu yang menghimpit kecil. Maka ini adalah tujuan akhir kami, sebuah pemandian alam yang sesungguhnya dengan air bersih nan hijau di tengah hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/294831_246742492039574_100001114758966_600445_2023327424_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/294831_246742492039574_100001114758966_600445_2023327424_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Edo--yang entah bagaimana--sudah ada di situ.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Semua orang malu-malu untuk menyebur. Saya sendiri punya ketakutan irrasional terhadap air yang tidak bening dan tidak terlihat dasarnya. Namun ketika Bang Ridwan dan Reza sudah masuk, saya memberanikan diri. Tidak ada yang menarik kaki mereka dan tenggelam ke dasar kolam, artinya di sana tidak ada binatang apa-apa. Begitu masuk ... huah! Peluh langsung hilang begitu badan tersentuh segarnya air Citarum. Menyesal bagi mereka yang tidak berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/311409_246740812039742_100001114758966_600430_40623611_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/311409_246740812039742_100001114758966_600430_40623611_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/301933_246745462039277_100001114758966_600466_758749621_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/301933_246745462039277_100001114758966_600466_758749621_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah berenang, berendam, dan berganti pakaian, akhirnya kami pulang. Kala itu waktu sudah sore. Untung angkutannya mau menunggu sehingga kami tidak perlu jalan kaki sejauh 15 kilometer menuju jalan raya. Pipit, salah satu aleutian yang bersusah payah mengumpulkan tenaganya hingga pulang, akhirnya 'khatam' hingga tempat kami berakhir. Selamat untuk Pipit. Selamat juga untuk teman-teman yang sudah saling membantu dan merelakan tangan agar saling berpagut di perjalanan yang penuh tantangan ini. Budaya tolong menolong ini sudah saya kenal ketika saya pertama kali gabung Komunitas Aleut! dan masih terjaga hingga sekarang. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah menuju pukul 6 sore. Burung-burung hitam berterbangan di atas langit Citarum, pipa-pipa oranye yang besar tampak berpendar, dan pohon-pohon bergemerisik syahdu ditempa angin. Walau menyisakan pegal di tangan dan di kaki, semoga sebuah pengalaman dan panorama keindahan purba akan terus disajikan Sungai Citarum nan lestari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1626682135412021110?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1626682135412021110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1626682135412021110' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1626682135412021110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1626682135412021110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/telusur-citarum-purba.html' title='Telusur Citarum Purba'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FMgt7syGgmU/TqWgG2r5P3I/AAAAAAAABK8/T75vsNCVqE8/s72-c/IMG_6599.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3997067560923319600</id><published>2011-10-17T17:29:00.002+07:00</published><updated>2011-10-18T00:42:24.737+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Catatan Perjalanan: Kendan dan Kamojang</title><content type='html'>09.10.11 adalah tanggal yang cantik, tanggal yang cocok untuk jadian atau menikah. Tapi saya (sayangnya) tidak jadian dan tidak pula menikah. Alih-alih keduanya, saya bersama Geotrek Indonesia pergi ke Situs Kendan dan Kawah Kamojang yang berada di Cicalengka dan Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--setelah dibaca ulang, ternyata dilakukan di hari Sabtu (08/10) tapi &lt;i&gt;lead &lt;/i&gt;di atas tampak menarik dan sangat curcol, maka saya biarkan saja--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian saya ke dua tempat tersebut sebenarnya sangat mendadak. Sudah jauh hari Bang Ridwan, teman saya di Aleut sekaligus panitia dari Geotrek, memberitahukan tentang &lt;i&gt;geotravel&amp;nbsp;&lt;/i&gt;ini. Karena seminggu sebelumnya saya mengalami minggu yang berat, maka saya memutuskan di Jumat sore untuk ikut bersenang-senang keesokan harinya. Maaf, curhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destinasi pertama kami adalah Situs Kendan yang berada di Cicalengka.&amp;nbsp;Pak Awang, staf dari BPMIGAS yang menjadi pemandu kami, menjelaskan keadaan situs Kendan ini dari sisi geologis.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Situs Kendan ini terbuat dari bebatuan tuf (batuan dari debu vulkanik) yang isinya mengandung batu obsidian (&lt;i&gt;volcanic glass&lt;/i&gt;). Karena batu obsidian terbuat dari magma yang sangat asam serta mengalami pembekuan yang cepat, maka terjadi kristalisasi dan menimbulkan efek tajam ala kaca/gelas di tekstur batunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-F68lmnEUV4Y/Tpv9prP25UI/AAAAAAAABJ0/l6q3J7Sz0p0/s1600/IMG_5985.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-F68lmnEUV4Y/Tpv9prP25UI/AAAAAAAABJ0/l6q3J7Sz0p0/s320/IMG_5985.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Batu obsidian&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ir_mrGgp0a0/Tpv-XalJc1I/AAAAAAAABJ8/juA9PnzmyQA/s1600/IMG_5969.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ir_mrGgp0a0/Tpv-XalJc1I/AAAAAAAABJ8/juA9PnzmyQA/s320/IMG_5969.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pak Awang, dengan pakaian yang senada dengan batu tuf, sedang menerangkan.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Saya tidak kenal dengan bebatuan. Tapi perkenalan ini memberikan saya pencerahan melalui &amp;nbsp;&lt;i&gt;tuf &lt;/i&gt;yang rapuh dan merasakan tekstur tajam obsidian. Dulu manusia purba menggunakan batu ini untuk perkakas dan senjata. Tiba-tiba di sana saya jadi galau memikirkan bahwa manusia purba itu 'kan tidak sekolah, tapi kok tahu sih mereka harus memotong dan berburu dengan benda tajam? Apakah ini tanda-tanda kearifan yang dimiliki manusia purba yang membedakan mereka dari binatang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-dZLMVgglDyM/Tpv__GKgSLI/AAAAAAAABKE/IqLvwm4SuV4/s1600/IMG_6003.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-dZLMVgglDyM/Tpv__GKgSLI/AAAAAAAABKE/IqLvwm4SuV4/s320/IMG_6003.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Konon dulu tempat ini merupakan tempat pemujaan. Pernah ditemukan patung Durga yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Selain itu, Kendan ini dulu diperintah oleh Resiguru Manikmaya. Dia adalah keturunan India yang mengembara hingga Indonesia dan menikahi Tirtakencana, putri dari penguasa raja Tarumanegara yaitu Raja Suryawarman. Bahkan Resiguru Manikmaya ini diberi kekuasaan penuh saat Raja Suryawarman mengumumkan semua orang harus tunduk dan patuh terhadap perintah Resiguru Manikmaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wogh! Saya juga mau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami mau meneruskan perjalanan, kami bertemu dengan serombongan mobil yang menanyakan apa tujuan kami di sana. Rupanya mereka adalah para pengembang daerah sini yang katanya akan membuat real estate di bukit Kendan. Dan sepertinya mereka takut dengan kamera-kamera besar yang kami bawa. Mungkin kami disangka mata-mata. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan selanjutnya adalah ke Kawah Kamojang. Sayangnya diperjalanan saya tertidur sehingga tidak tahu jalur menuju Kamojang. Sebelum ke kawah, kami masuk dulu ke PLTP Kamojang yang dioperasikan oleh PT Indonesia Power. Di antara cuaca dingin, mendung, dan sendu, kami disambut dengan hangat oleh para staf di sana. Belum lagi kami diberikan makanan yang sangaaattt enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vqYQWPrXv6U/TpwAkqcp83I/AAAAAAAABKM/_VZT6FrSRHg/s1600/IMG_6054.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-vqYQWPrXv6U/TpwAkqcp83I/AAAAAAAABKM/_VZT6FrSRHg/s320/IMG_6054.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk ke kantornya dan diterangkan bagaimana kendali mesin terhadap pembangkit listrik se-Jawa, Madura, dan Bali oleh Pak Anen, kami pergi ke kawah Kamojang. Cuaca di luar terlihat mau hujan, apalagi uap sisa pengolahan yang memenuhi area luar gedung layaknya kabut, membuat saya agak harap-harap cemas agar tidak hujan dan kami bisa main ke kawah Kamojang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, berangkatlah kami ke area kawah Kamojang. Sebelum pintu gerbang, Pak Awang menjelaskan tentang energi panasbumi yang ada di sini. Saat Pak Awang menjelaskan, satu persatu 'siswa'-nya mundur teratur dan mulai melahap jagung, kentang, ubi rebus, serta bajigur. Siapa yang mampu menolak makanan sehangat ini ditengah cuaca sedingin itu? Untungnya Pak Awang mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pintu gerbang juga terdapat kolam lumpur panas Kawah Manuk dan Kawah Berecek. Melihatnya mengingatkan pada Lapindo. Sisi lumpurnya bisa diinjak. Saat berjalan di atas lumpur yang agak keras, harus hati-hati karena di sana ada lubang air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Juyyzv3OlB8/TpwBGESwhlI/AAAAAAAABKU/W-Ns6OeZkvs/s1600/IMG_6100.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-Juyyzv3OlB8/TpwBGESwhlI/AAAAAAAABKU/W-Ns6OeZkvs/s320/IMG_6100.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di dalam area Kamojang, terdapat sebuah sumur Kamojang-3 buatan Belanda yang mengeluarkan gas dan suara yang sangat kencang. Kencang dalam artian yang sebenarnya yaitu memekakkan telinga. Lalu Abah Omo, penduduk sekitar yang juga pelaku atraksi uap panas, masuk ke area sumur sambil membawa sebilah bambu dan rokok. Dengan teknik tertentu, dia meletakkan bilah bambu dan mengembuskan rokok sehingga terdengar bunyi kereta api. Ternyata, ini adalah Kawah Kereta Api karena suara dan asapnya seperti transportasi umum zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_QQZLwSizeA/TpwBlhssz2I/AAAAAAAABKc/hEmBn6p4r68/s1600/IMG_6160.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-_QQZLwSizeA/TpwBlhssz2I/AAAAAAAABKc/hEmBn6p4r68/s320/IMG_6160.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Abah Omo dengan bambu dan rokok.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-G5GMhC1-tMM/TpwB8_HK-zI/AAAAAAAABKk/-04YWBt_Np8/s1600/IMG_6216.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-G5GMhC1-tMM/TpwB8_HK-zI/AAAAAAAABKk/-04YWBt_Np8/s320/IMG_6216.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1DodjMXw2fI/TpwCVJkKUEI/AAAAAAAABKs/z9u2HcpWhDA/s1600/IMG_6202.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-1DodjMXw2fI/TpwCVJkKUEI/AAAAAAAABKs/z9u2HcpWhDA/s320/IMG_6202.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jeritan teman-teman hanya membikin Pak Koko tersenyum maklum.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Melalui jembatan kecil yang disampingnya ada sumber mata air panas (&lt;i&gt;fumarol&lt;/i&gt;), kami menuju sebuah sauna alam dimana kami akan mandi uap panas di sana. Pak Koko, pemandu serta juru kunci Kamojang, siap 'mengatur' suhu serta arah uap melalui indera keenamnya. Semua peserta pria yang bertelanjang dada itu kadang jerit-jeritan saat uap panas berhembus ke arahnya. Saya dan peserta wanita lain berkomentar sambil terkikik, "Memangnya harus seperti itu ya?" dan saat kami mencoba, justru dua kali lebih heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain juga ada mata air panas yang gejolaknya membuat cipratan-cipratan yang kalau terkenal kulit bisa menimbulkan efek akupuntur. Kebanyakan para pria yang heboh saat cipratan tersebut mengenai kulitnya. Tentu para wanita tidak karena mereka bertelanjang dada. Enak saja. Kami semua memakai baju. Walaupun basah, tenang saja, di sana ada kamar mandi umum yang bisa dipakai untuk ganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, kami istirahat dan sharing di warung Pak Koko. Sambil sharing, saya disuguhkan sebuah minuman jamu yang terbuat dari kayu lame. Tentu, saya selaku orang yang memiliki kadar penasaran tinggi, saya mencobanya. Saat tegukan pertama, lidah saya terjulur, mata menutup, alis mengkerut. Rasanya pahit sekali!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-k0OlPG79Bhg/TpwDENC4kVI/AAAAAAAABK0/aP_Bk1cWtSY/s1600/IMG_6225.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-k0OlPG79Bhg/TpwDENC4kVI/AAAAAAAABK0/aP_Bk1cWtSY/s320/IMG_6225.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Medan menuju Kendan dan Kamojang ini tidak sulit. Selain itu fasilitas di Kamojang sangat baik untuk tempat wisata. Kedua tempat ini saya rekomendasikan untuk orang yang tidak terlalu suka &lt;i&gt;adventure &lt;/i&gt;namun tetap ingin merasakan pesona alam Jawa Barat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3997067560923319600?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3997067560923319600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3997067560923319600' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3997067560923319600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3997067560923319600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/catatan-perjalanan-kendan-dan-kamojang.html' title='Catatan Perjalanan: Kendan dan Kamojang'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-F68lmnEUV4Y/Tpv9prP25UI/AAAAAAAABJ0/l6q3J7Sz0p0/s72-c/IMG_5985.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5952266384151813822</id><published>2011-10-17T13:11:00.001+07:00</published><updated>2011-10-17T13:19:20.374+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Bernostalgia Bersama Keng</title><content type='html'>&lt;i&gt;Suara kayu beradu di lantai marmer. Tak tok tak tok—begitu bunyinya. Terukir sebuah ukiran cantik dipinggir-pinggirnya, berpadu dengan serat-serat kayu yang menjalar beraturan. Dipakai sebagai alas, menghiasi kaki-kaki. Kelom geulis siapakah ini?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak mall Sultan Plaza belum menjadi bangkai besar seperti sekarang ini, saya sudah berkali-kali melewati sebuah toko kecil bertuliskan Kelom Geulis Keng semenjak saya kecil. Namun dari saya kecil itu hingga sebesar sekarang, saya sama sekali belum pernah datang ke sana. Beruntung hari Minggu (09/10) kemarin, Komunitas Aleut mengajak saya dan teman-teman ke toko yang menjadi bagian sejarah fashion mode &amp;nbsp;para mojang Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelom diambil dari bahasa Belanda yaitu klompen. Ini merupakan sandal perempuan yang terbuat dari kayu. Sebelum menjadi trend seperti sekarang, nyatanya dulu juga pernah menjadi trend busana bagi para mojang Bandung yang dipadukan dengan kain dan kebaya. &amp;nbsp;Kadang juga dipadukan dengan payung geulis yang motifnya sama dengan motif sepatu. “Dulu kalau mojang Bandung yang tidak pakai kelom geulis itu jadi ketinggalan zaman,” ujar Bapak Yamin, generasi ke tiga yang kini menjadi pengelola dan menceritakan sejarah Keng kepada Aleutians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OVDxfZxpfQs/TpvGCmhtzsI/AAAAAAAABJc/i_dIPGyzHwc/s1600/IMG_6245.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-OVDxfZxpfQs/TpvGCmhtzsI/AAAAAAAABJc/i_dIPGyzHwc/s320/IMG_6245.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pak Yamin sedang membandingkan kelom yang ada di pasaran dengan kelom buatannya.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0pvCkrYCsEw/TpvGGH7YnJI/AAAAAAAABJk/YnTp7bhk2zo/s1600/IMG_6250.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-0pvCkrYCsEw/TpvGGH7YnJI/AAAAAAAABJk/YnTp7bhk2zo/s320/IMG_6250.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kelom di dalam toko. Ada yang memesan hingga 25 cm tingginya!&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kelom geulis terbuat Albasiah atau sengon tua kaya akan serat, alot, serta ringan (yang kini berganti Mahoni), diukir dan dicat pakai plitur sehingga bentuknya sedemikian cantik. Menurut Pak Yamin, biasanya kayu tua yang banyak seratnya itu ditemukan di tempat yang dekat dengan mata air. Selain bagian dari kayu, serat bisa menjadi ornamen yang memperindah kelom itu sendiri. Jadi, sayang sekali jika harus ditutupi dengan cat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melimpahnya kayu dan kulit sebagai sumber daya alam di Indonesia tentunya sangat menunjang pembuatan kelom geulis ini. Dulu ornamen Tionghoa seperti ukiran timbul berbentuk naga menjadi ciri khas yang menonjol pada kelom buatan Keng. Namun sekarang sudah tidak lagi karena tidak ada pengukir generasi muda yang memiliki kemampuan dan kemauan mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya penjualan kelom geulis yang dulu berada di kawasan Pecinan Lama ini harus redup saat impor plastik mulai masuk dan mojang Bandung lebih memilih sandal karet sebagai alas kaki. Kelom memang tidak elastis, namun Pak Yamin bilang bahwa menurut dokter, kelom merupakan obat yang baik untuk kulit pecah-pecah di kaki karena bahannya &amp;nbsp;tidak panas. Selain itu, karena setiap ukuran dan bentuk kaki wanita itu berbeda-beda, kelom memang bukan sepatu yang siap dipakai. Dibutuhkan 5-10 menit untuk mencocokkan kontur kaki dengan sepatu. Namun tentunya ini akan berbuah baik karena kelom akan sangat cocok dan nyaman pada kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih spons yang biasanya menjadi alas kelom-kelom yang bertebaran luas di pasaran, karet sintetis yang tebal dipilih Pak Yamin untuk menjadi alas kelom agar awet dan tidak cepat aus. Harga kelom di tokonya berkisar Rp60.000,00 hingga Rp200.000,00, pantas untuk harga kelom yang murni dibuat oleh tangan. Untuk menjaga kualitas, Pak Yamin hanya melayani pesanan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hvwQpqqC0mo/TpvGJB_HhwI/AAAAAAAABJs/X0EPWjKM5vY/s1600/IMG_6254.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-hvwQpqqC0mo/TpvGJB_HhwI/AAAAAAAABJs/X0EPWjKM5vY/s320/IMG_6254.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah rahasia Pak Yamin dalam menjaga keberlangsungan Keng? Beliau mengatakan bahwa seseorang harus menjiwai pekerjaan yang dilakukannya, kualitas harus terus dipertahankan, serta Keng tidak pernah ketinggalan mode karena bentuknya yang sederhana. Justru tidakkah kesederhanaan itu sulit dibuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bagi Pak Yamin, Keng bukan hanya sebuah warisan usaha dari Thio Keng Siang—kakek dari Pak Yamin, tetapi juga ia berperan dalam melestarikan budaya dan sejarah perkembangan fashion yang ada di Bandung. Ia mengakui bahwa para pengguna kelom adalah para pelanggannya dari zaman dulu yang kadang datang ke toko sekaligus untuk bernostalgia. Apakah anak muda bisa ikut andil dalam pelestarian sejarah dan budaya seperti Keng ini? Tentu bisa. Caranya sederhana: beli kelomnya.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5952266384151813822?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5952266384151813822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5952266384151813822' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5952266384151813822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5952266384151813822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/bernostalgia-bersama-keng.html' title='Bernostalgia Bersama Keng'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OVDxfZxpfQs/TpvGCmhtzsI/AAAAAAAABJc/i_dIPGyzHwc/s72-c/IMG_6245.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-7159611723508041406</id><published>2011-10-04T17:08:00.001+07:00</published><updated>2011-10-04T17:19:33.472+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ocehan pagi'/><title type='text'>Satu Frekuensi</title><content type='html'>Perlu diakui bahwa saya sering melakukan aksi menguntit via &lt;i&gt;social media&lt;/i&gt; seperti Facebook dan Twitter. Tidak dikhususkan satu orang saja sih, tapi banyak orang dari teman sendiri hingga orang lain. Mungkin istilah tepatnya bukan menguntit, tapi mengamati cara berpikirnya di status, hal-hal yang digemari, foto keseharian, dan lainnya. Dan hanya dilakukan sesekali, tidak terus-terusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perorangan, saya juga mengamati yang berpasangan. Misal setelah mengamati si A, saya juga mengamati pasangannya yaitu si B. Menariknya, saya menemukan banyak persamaan. Entah itu cara berpikir, hal-hal yang digemari, dan lainnya. Persamaan itu menguatkan tentang asumsi bahwa jodoh itu adalah satu strata imajiner atau satu frekuensi. Misal, jika A nyentrik, maka B juga nyentrik. Jika A adalah &lt;i&gt;geek&lt;/i&gt;, maka B juga&lt;i&gt; geek&lt;/i&gt;. Jadi, asumsi A geek dan B populer itu nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Birds same feather flocks together.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Merpati tidak mungkin akan berkumpul dengan para elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau dilihat yang tampak secara fisik seperti jenjang pendidikan atau status sosial--saya masih percaya itu juga harus setara. Orang yang mengenyam pendidikan S3, mungkin akan mencari yang sama. Atau jika berbeda, perbedaannya pun tipis. Orang kaya raya seperti anak pejabat, mungkin akan mencari yang setara dengannya, tidak akan mencari di lingkungan kumuh. Walaupun teman saya tidak setuju karena ia pernah melihat kisah cinta Cinderella dalam kehidupan nyata bahwa si miskin dapat mengawini si kaya. Ya, mungkin hal-hal tersebut ada saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri merasa tidak dapat berpasangan dengan orang yang populer, yang menghabiskan banyak hidupnya dengan dunia malam, atau bergaul dengan para sosialita. Pertama, obrolannya mungkin tidak akan nyambung. Kedua, penampilan pun tidak memungkinkan. Pun sebaliknya. Mungkin dia tidak akan tahu pameran seni, buku-buku, atau daerah-daerah yang sudah saya kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan satu frekuensi--selain mungkin ditakdirkan dari sananya--terjadi akibat pilihan kita sendiri. Kesetaraan ternyata hasil pilihan kita juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kontemplasi belum selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-7159611723508041406?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/7159611723508041406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=7159611723508041406' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7159611723508041406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7159611723508041406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/satu-frekuensi.html' title='Satu Frekuensi'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-7941562196404663480</id><published>2011-09-29T09:36:00.000+07:00</published><updated>2011-09-29T09:40:27.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Orang Tua VS Passion</title><content type='html'>Terinspirasi dari Reza--salah satu teman ngaleut saya--mengenai twitnya yang berkisah tentang orang tua yang mengarahkan masa depan anak namun berlawanan arah dengan &lt;i&gt;passion &lt;/i&gt;anak. Tampak seperti permasalahan keseharian semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga dulu begitu, kok. Saya harus masuk IPA agar rentang pilihan jurusan saat kuliah bisa luas, harus masuk universitas yang berdiri di Jalan Ganesha, harus meneruskan skill piano saya padahal saya tidak suka, harus bergerak dibidang psikologi anak karena banyak anak yang &lt;i&gt;error&lt;/i&gt;. Tapi saya tidak suka kesemuanya. Saya hobi main piano bukan sebagai profesi, saya cinta psikologi tapi bukan dibidang psikologi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saya lulus kuliah, saya memutuskan mau menolak segala arahan. Maka saya bekerja sebagai pengajar ABK (yang belakangan diketahui &amp;nbsp;ini bukan &lt;i&gt;passion &lt;/i&gt;saya) lalu ditengah segala kestabilan dan kenyamanan, saya memutuskan untuk keluar dan mengejar &lt;i&gt;passion &lt;/i&gt;saya yaitu menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ya tentu, keluarga saya sulit menerima keputusan tersebut pada awalnya. Namun setelah dijelaskan tentang &lt;i&gt;passion &lt;/i&gt;saya, diperlihatkan langkah-langkahnya seperti apa, dan juga ditunjukkan hasilnya, mereka mengerti. Justru kalau ada yang tanya saya ini kegiatannya apa, mereka menjawab saya ini seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir justru wajar jika orang tua banyak mengarahkan kalau kita sendiri terlihat gamang dan tidak yakin dengan keputusan kita. Jadinya, kita memang perlu diarahkan ke hal yang terbaik. Namun selain keinginan, harus juga diketahui cara-caranya dan menuju sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua bukan kardus. Selain itu juga ada yang namanya komunikasi. Utarakan, lakukan, dan perjuangkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-7941562196404663480?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/7941562196404663480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=7941562196404663480' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7941562196404663480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7941562196404663480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/orang-tua-vs-passion.html' title='Orang Tua VS Passion'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1704447027145749348</id><published>2011-09-26T13:58:00.003+07:00</published><updated>2011-09-26T18:43:19.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Sejarah Stasiun Kereta Api Bandung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Foto oleh Yandi Dephol &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Coba kalau kamu pergi ke stasiun kereta lalu menemukan angka di bawah ini, kira-kira itu menandakan apa ya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/321054_2275329835338_1011473467_32291861_1953577418_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 500px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 350px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Itu tandanya stasiun ini berada 709 meter di atas permukaan laut. Saya baru tahu dan baru memperhatikan. Untung ikut Aleut!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Minggu (25/08) rute Aleut adalah menyusuri sejarah rel kereta api stasiun Bandung. Kami tidak menyusuri secara harfiah jalur rel kereta api tapi kami masuk ke stasiun lewat pintu baru, lihat-lihat dan diberi penjelasan sebentar, lalu keluar lewat pintu lama. Saat berada di depan pintu lama, terdapat sebuah replika kereta bernama Monumen Purwa Aswa Purba yang dijadikan tempat bagi Indra Pratama dan M. Ryzki bercerita bahwa jalur kereta yang pertama kali masuk ke Bandung berasal dari jalur Cianjur pada tahun 1884. Awalnya pintu depan stasiun kereta ini letaknya di sekitar Jalan Setasiun Barat terus diperbesar dari tahun 1916 karena posisi Bandung yang semakin sentral dan signifikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/309474_2275331035368_1011473467_32291865_376294937_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/309474_2275331035368_1011473467_32291865_376294937_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 350px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 500px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelumnya Belanda mencari jalan yang cocok di Hindia Belanda karena jalan Raya Pos dinilai masih sulit untuk mengangkut hasil perkebunan. Ide pembangunan jalur kereta ini sebenarnya muncul dari jendral militer yang bertujuan untuk pertahanan militer. Karena pada saat itu pemerintah tidak punya uang, mereka mulai mengadakan setidaknya 20 tender untuk swasta. Yang pertama kali dibangun Semarang-Jogja atau Semarang-Solo (M. Ryzki lupa antara yang mana) karena itu jalur yang paling ramai. Jalur Priangan itu dibangun paling terakhir karena medan paling susah (banyak sungai dan lembah) dan memakan biaya paling mahal. Namun pembangunan jalur Priangan ini tidak dibangun oleh swasta. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/297375_2275338555556_1011473467_32291898_116441558_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/297375_2275338555556_1011473467_32291898_116441558_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 500px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 350px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pembangunan stasiun kereta ini tentunya berdampak ke lingkungan yang ada di sekitarnya, yaitu angkutan seperti sado (delman), pembangunan hotel-hotel--salah satunya hotel paling tua yaitu Hotel Andreas, dan juga tempat prostitusi di Kebon Jati (Saritem). Dulu prostitusi terjadi karena tidak ada kereta malam sehingga orang harus menginap di Bandung agar bisa berangkat keesokan harinya. Jadi karena mungkin istri atau kekasih jauh sementara udara Bandung yang dingin, jadi disediakan jasa penghangat ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagi saya, yang menarik adalah penamaan nama jalan dengan menggunakan istilah 'stasiun' yang berbeda-beda. Bimbang? Mudah-mudahan tidak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/310760_2275334755461_1011473467_32291880_1296199537_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/310760_2275334755461_1011473467_32291880_1296199537_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 350px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 500px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/300303_2275336315500_1011473467_32291887_1941191885_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/300303_2275336315500_1011473467_32291887_1941191885_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 500px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 350px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/310251_2275333595432_1011473467_32291875_991648382_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/310251_2275333595432_1011473467_32291875_991648382_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 350px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 500px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain membicarakan tentang jalur kereta, kami juga sempat mengunjungi replika lokomotif di Viaduct dan Gedung Indonesia Menggugat. Setelahnya kami diberi kejutan dengan masuk ke dalam sebuah toko lukisan di Jalan Braga yang didalamnya terdapat sebuah ruang bawah tanah. Toko lukisan ini dulunya adalah toko jam. Lalu mengapa toko jam memerlukan sebuah ruang bawah tanah?--pertanyaan yang dilontarkan Bang Ridwan itu menggelitik Aleutians untuk mencari tahu lagi apa fungsi ruang yang gelap gulita dan tak luput dari cerita horornya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ruang itu memiliki lorong yang berujung ke sebuah lapangan kecil yang terdapat puluhan orang yang sedang menyanyi sambil menari. Kata Aneng, salah satu Aleutian yang sepertinya sempat mengobrol dengan salah satu orang di sana, mereka ini adalah grup pencak silat dari Cililin yang sedang beristirahat. Pasti tidak semua orang tahu tentang keberadaan ruang, lorong, dan lapangan ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/298612_2275356436003_1011473467_32291952_535853431_n.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/298612_2275356436003_1011473467_32291952_535853431_n.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; display: block; height: 350px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 500px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pasti juga orang tidak menyadari ada hiruk pikuk kecil dibalik hingar bingar Braga festival yang bertepatan dengan ngaleut kala itu atau hiruk pikuk deru laju kereta di atas besi-besi tua.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1704447027145749348?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1704447027145749348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1704447027145749348' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1704447027145749348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1704447027145749348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/sejarah-stasiun-kereta-api-bandung.html' title='Sejarah Stasiun Kereta Api Bandung'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6620911940350038767</id><published>2011-09-26T02:20:00.003+07:00</published><updated>2011-09-26T02:36:52.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Pemancar Radio Tua</title><content type='html'>&lt;div&gt;Sekitar seminggu yang lalu (18/09), saya ke kawasan Buah Batu bersama Aleutians untuk melihat menara pemancar radio yang letaknya di belakang kampus IT Telkom. Mengenai sejarah tentang menara ini, sudah diarsipkan dalam blog Aleut yang ditulis oleh M. Ryzki W. dengan judul &lt;a href="http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/"&gt;Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II&lt;/a&gt;. Jadi, jurnal saya ini semacam melengkapi apa yang sudah lengkap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika saya tidak ikut Aleut, pasti saya tidak tahu bahwa sebongkah besi berwarna merah putih yang menjulang tinggi itu adalah cikal bakal dan telekomunikasi Hindia Belanda. Pasti saya juga tidak tahu bahwa menara ini adalah salah satu dari 13 sisa menara yang dihancurkan untuk memutuskan telekomunikasi pada masa penjajah Jepang. Dan pasti saya hanya akan menganggap menara pemancar ini hanya berupa tempat sakral orang-orang stress yang mau meregang nyawa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291852_232188536828303_100001114758966_557047_1359334253_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 500px;" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291852_232188536828303_100001114758966_557047_1359334253_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lanjut ke belakang IT Telkom, terdapat sebuah jalan bernama Jalan Radio dan perkampungan namanya Kampung Radio. Di sana juga terdapat stasiun radio tua yang kini dipakai oleh salah satu vendor GSM besar, gudang peralatan, dan asrama mahasiswa IT Telkom yang sudah tidak terpakai karena sering kebanjiran. Selain itu kami diizinkan naik ke pos penjaga yang berada di atap gedung oleh satpam yang baik hati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/314890_232190423494781_100001114758966_557074_562438574_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 500px;" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/314890_232190423494781_100001114758966_557074_562438574_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gudang&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/298490_232189730161517_100001114758966_557064_397526719_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 500px;" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/298490_232189730161517_100001114758966_557064_397526719_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tangga berkarat menuju pos penjaga&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/312090_232189653494858_100001114758966_557063_329594061_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 400px;" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/312090_232189653494858_100001114758966_557063_329594061_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perjalanan kali ini membuat saya membayangkan bagaimana jika Indonesia tidak dijajah Belanda? Mampukah anak bangsa membangun dari awal sistem telekomunikasi seperti ini? Jika iya, mampukah mereka membangun secepat ini? Lalu apakah seluruh aspek (terutama sistem komunikasi) akan semaju sekarang? Bisakah kita melakukan hubungan dengan kerabat di seberang lautan? Membayangkannya menimbulkan pemikiran bahwa jangan-jangan kita sebetulnya harus berterima kasih karena seolah-seolah negeri ini dibangun oleh konsep atau materi penjajah itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6620911940350038767?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6620911940350038767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6620911940350038767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6620911940350038767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6620911940350038767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/pemancar-radio-tua.html' title='Pemancar Radio Tua'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3444272128849338995</id><published>2011-09-23T19:57:00.004+07:00</published><updated>2011-09-23T21:18:43.320+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Rumah</title><content type='html'>&lt;a href="http://ahmadwijang.files.wordpress.com/2011/05/green-home.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 200px;" src="http://ahmadwijang.files.wordpress.com/2011/05/green-home.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Jadi, kemarin itu, kita laksana dua orang yang sedang main. Yang ketika tawa sudah berderai, berpeluh oleh keringat, dan sudah puas, lalu kita saling berpamitan; saling mengecup pipi, lalu mengambil jalan yang berbeda. Kamu berjalan memunggungiku lalu hilang di hiruk pikuk. Kamu pulang ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi aku tidak. Aku masih di sini, berpura-pura mencari jalan pulang, padahal tidak. Menunggu kamu mengajak main lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3444272128849338995?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3444272128849338995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3444272128849338995' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3444272128849338995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3444272128849338995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/rumah.html' title='Rumah'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3857706475350332659</id><published>2011-09-21T11:20:00.002+07:00</published><updated>2011-09-21T11:43:12.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Nayang Wulan [Alter Ego]</title><content type='html'>&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/317105_226018567445300_100001114758966_539357_104502_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/317105_226018567445300_100001114758966_539357_104502_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Namanya Nayang Wulan. Ia berdiri di pojok ruangan bersama meteran yang terpatri di tembok. Badannya yang kecil itu hanya setinggi 155 cm, sangat kurus, dan berambut sepinggang jatuh nan lurus. Ia dilahirkan ketika bulan sabit melengkung di pekatnya langit malam, di salah satu sudut kampung di Jawa, saat angin sedang berhembus kencang. Dengan beberapa kali mengejan, lahirnya Nayang Wulan. Dilahirkan di bawah bulan dengan sebuah tanda lahir seperempat lingkaran di bahu kanan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kali ini dia terkikik, sibuk memainkan bayangan. Umurnya sudah menginjak pubertas, tapi Nayang Wulang tidak menyibukkan dirinya memikirkan tentang hubungan lawan jenis. Ia malah sibuk dengan pikiran-pikiran primodial masa lalu. "Aku bukan Nayang, Ibu. Aku Janus. Si Dewa bermuka dua yang bisa melihat masa depan dan masa lalu," ujarnya berkali-kali kepada ibunya, Sati. Sementara mendengarkan anaknya berkata-kata, Sati selalu menyisir rambut anaknya, sebagaimana yang ia lakukan setiap malam.  Diberi kemiri dan lidah buaya, diurusnya Nayang Wulan dengan telaten. "Aku juga tahu kapan ibu nanti diambil Tuhan. Saat purnama berwarna merah!" seru Nayang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; Ibunya sempat terhenti sebentar, lalu ia melanjutkan proses pensisiran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lima tahun yang lalu, saat Nayang masih berusia 7 tahun, ia juga pernah mengatakan hal yang sama tentang ayahnya. Bulan sabit yang rasanya menggigit, menandai sebuah celurit yang menyambit leher ayahnya karena sebuah perampokan suatu yang tidak pantas dipertaruhkan: sepetak sawah di balik gunung Merapi karena sengketa dari tuan tanah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nayang tidak punya teman. Ia seringkali disebut gila oleh warga. Beraninya mencemooh jika Nayang Wulan berada jauh, tapi lari terbirit-birit jika ia mendekat. Bagaimana tidak, kata-kata cercauan yang tampak acak itu sering kali benar. Kalau bagus, orang boleh senang. Jika buruk, orang takut tak terbayang. Jadi, dia hanya tinggal bersama ibunya, Sati, yang selalu memakai kebaya dan mengonde rambutnya dekat telinga. Sati tidak pernah gentar dengan apa yang diucapkan anaknya, ia hanya takut jika purnama merah betulan datang lalu meninggalkan Nayang sendirian. Siapa yang mau mengurusnya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bu, aku nanti mau main gamelan. Kayak anak kampong seberang sehabis sekolah. Musiknya syahdu, Bu,” ibunya hanya mengiyakan lalu mengantarkan putrinya ke tempat tidur beralasakan batik lukis, hadiah ayah saat pernikahan 15 tahun yang lalu, yang warnanya merah, sepekat warna darah ayah, juga sepekat bulan purnama yang merah merekah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;----------------------&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hasil latihan RLWC. Simak prompt-nya di: &lt;a href="http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/09/alter-ego.html"&gt;http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/09/alter-ego.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3857706475350332659?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3857706475350332659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3857706475350332659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3857706475350332659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3857706475350332659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/nayang-wulan-alter-ego.html' title='Nayang Wulan [Alter Ego]'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-4949420114041915295</id><published>2011-09-17T22:18:00.003+07:00</published><updated>2011-09-17T22:42:22.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Gendut</title><content type='html'>Mungkin boleh ditanya kepada saudara atau teman kantor saya  bahwa dulu saya tidak peduli dengan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang menunjukkan femininitas akan semakin tidak puas dengan tubuhnya. Jika saya menggunakan rok adalah indikator feminin, berarti anggap berat badan sebagai salah satu bentuk ketidakpuasan. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya. Gendut. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Halo, selamat datang di konstruksi sosial tentang kecantikan ideal, selamat dan sentosa kepada Twiggy karena telah membuat trend bahwa kurus adalah segalanya. Juga selamat datang kepada teman-teman saya yang riweuh selalu mengkomentari tentang berat badan saya. Juga slimming tea. Juga DVD Cardio, Pilates, dan Yoga. Juga timbangan berat badan yang akhir-akhir sering dimonitoring pergerakan jarumnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi anggaplah saya mulai menjaga asupan makanan yang masuk ke mulut. Diet. Saat puasa pun saya mencoba tidak kalap saat berbuka. Hasilnya ya lumayan, dua kilo turun. Lalu saya bertemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, lalu--alih-alih bertanya tentang kabar--mereka berkomentar 'KOK NIA TAMBAH GENDUT?'&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Agaknya saya kesal. Pertama, kita sudah jarang bertemu lho, kenapa harus kata itu yang keluar pertama? Kedua, mau makan sedikit atau makan banyak, toh saya gendut-gendut juga. Toh tiap pertemuan saya selalu dikatai saya gendutan. Dan mungkin kalau saya bertemu orang ke-10, maka saya benar-benar sudah obesitas!!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena kesal dan saya tipe orang yang semakin dilarang maka akan semakin disengajakan, jadi saya biarkan saja diri saya makan banyak. &lt;i&gt;As you wish &lt;/i&gt;lho, saudara-saudara ...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oh, dunia memang tidak baik buat orang gendut. Mereka adalah objek tertawaan, bukan subjek yang diajak tertawa bersama. Gendut sehat itu alibi buat mereka yang gendut. Justifikasi. Pembenaran. Nyatanya saya sama saja seperti perempuan kebanyakan; pingin kurus.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Udah deh. Mati aja. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://loyalkng.com/wp-content/uploads/2009/02/mischa-barton-looks-shockingly-thin-10555-1234286015-1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 328px; height: 455px;" src="http://loyalkng.com/wp-content/uploads/2009/02/mischa-barton-looks-shockingly-thin-10555-1234286015-1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-4949420114041915295?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/4949420114041915295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=4949420114041915295' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4949420114041915295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4949420114041915295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/gendut.html' title='Gendut'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3367079251896997948</id><published>2011-09-14T12:28:00.003+07:00</published><updated>2011-09-14T12:49:54.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sebuah foto'/><title type='text'>Cerita Sebuah Foto: Sayap di Tembok</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1eJ75haMgeE/TnA8WqcTVPI/AAAAAAAABJY/ZEhaJRgWgSw/s1600/1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1eJ75haMgeE/TnA8WqcTVPI/AAAAAAAABJY/ZEhaJRgWgSw/s400/1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652083892397757682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Foto oleh &lt;/i&gt;Boryana Katsarova&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sudah 50 tahun Berto Tukan mengelilingi kota kelahirannya, Papuma, di siang hingga sore hari dengan sekaleng cat cokelat dan sebuah amplas. Biasanya ia mondar-mandir keliling kota mencari gambar atau tulisan yang terlukis tidak beraturan di tembok lalu dicat ulang olehnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berto Tukan mencintai Papuma yang diselimuti oleh bangunan cokelat tua dengan segala kesemerawutan kabel telepn dan parabola dengan apa adanya. Bagaimana harus mencintai apa adanya karena jelas ia tidak bisa menghentikan masuknya teknologi ke kota kecil di sebelah selatan kota Jember. Tapi dia bisa menghentikan ini: warna-warni cat atau pilox yang merusak bangunan-bangunan yang umurnya jauh lebih tua dari Berto Tukan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kecuali itu--cetakan tangan-tangan kecil yang membentuk sebuah sayap yang terletak di salah satu sudut pusat kota Papuma. Sayap itu tentunya bukan sayap biasa karena anaknya, Rani, yang mencetus pembuatan sayap itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setiap melihat lukisan sayap, pikiran Berto Tukan terbawa ke saat 25 tahun yang lalu dimana Papuma tak ubahnya kota merah yang penuh dengan bangunan terbakar akibat protes warga. Papuma meminta Jember memberikan mereka ruang untuk membangun daerahnya sendiri. Makanan, teknologi, dan kebutuhan pernah dihentikan sehingga Papuma layaknya kota mati. Digawangi oleh aktivis muda yaitu putri Berto Tukan, semangat untuk bebas dari belenggu kekuasaan otonomi pusat membuat rakyatnya bergerak. Maka sayap itu adalah simbol kebebasan. Simbol harapan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hingga Rani ditembak mati. Papuma mulai menurun layaknya kota kumuh yang penuh dengan kejahatan karena setiap orangnya berebut kebutuhan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berto Tukan masih memandangi sayap yang kini tidak lebih dari lukisan biasa. Putihnya mulai pudar, rasanya sudah tidak mau mengepak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meski Papuma sudah jauh dari harapan, Berto Tukan menghapus lukisan-lukisan tidak penting agar sang sayap tetap bersinar di antara kumuhnya kota Papuma.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;--------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cerita di atas dibuat dalam sesi Reading Lights Writer's Circle (10/09) tentang interpretasi sebuah foto. Rizal bilang cerita saya ini lebih terdengar essay ketimbang cerpen, Ryan bilang dia merindukan kata-kata puitis yang biasa suka berada di dalam cerpen saya. Agaknya frekuensi menulis non fiksi mau tidak mau mempengaruhi gaya tulisan saya. Sempitnya waktu dan ruang juga membuat cerita ini terlalu banyak &lt;i&gt;tell &lt;/i&gt;dan terlalu terang benderang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3367079251896997948?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3367079251896997948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3367079251896997948' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3367079251896997948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3367079251896997948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/cerita-sebuah-foto-sayap-di-tembok.html' title='Cerita Sebuah Foto: Sayap di Tembok'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1eJ75haMgeE/TnA8WqcTVPI/AAAAAAAABJY/ZEhaJRgWgSw/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6450495215490916979</id><published>2011-09-12T19:45:00.003+07:00</published><updated>2011-09-12T19:57:44.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Liputan Event: Menyelami Dunia Tanpa Ikan</title><content type='html'>&lt;div&gt;Tulisan oleh Nia Janiar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto oleh Sudarmanto Edris&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ratusan orang dari beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan sudah berkumpul di ruang auditorium Museum Geologi sebelum acara dimulai. Mereka menempati kursi-kursi kosong yang telah sediakan. Di depannya, terdapat layar putih yang siap memantulkan film dokumenter dari proyektor. Mereka semua dalam tujuan yang sama yaitu mengikuti diskusi film &lt;i&gt;The End of the Line&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Shark Water&lt;/i&gt; pada hari Minggu (21/08). Kegiatan kemudian disusul acara buka bersama komunitas forum National Geographic Indonesia Regional Bandung, WWF Indonesia, dan Museum Care. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/320603_2304447980089_1515930528_32546184_7010746_n.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" border="0" alt="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291774_2304451220170_1515930528_32546186_214913_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291774_2304451220170_1515930528_32546186_214913_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kegiatan dibuka oleh Sinung Baskoro—kepala Museum Geologi. Beliau memberi sambutan dan memaparkan keterbukaannya kepada komunitas-komunitas untuk mengadakan acara di museum yang letaknya di Jalan Diponegoro Bandung ini. Setelah pembukaan, pemutaran film dan diskusi dimulai yaitu mengenai populasi penghuni laut yang jumlahnya semakin berkurang karena penangkapan ikan yang dilakukan secara massif (&lt;i&gt;over fishing&lt;/i&gt;)—misalnya perburuan ikan bluefin tuna dan hiu. Bayangkan jika laut hanya diisi ubur-ubur dan plankton pada tahun 2048. Bayangkan jika dunia tanpa ikan. Bayangkan juga dampak terhadap manusia yang mengantungkan hidupnya pada hasil tangkapan laut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/291774_2304451300172_1515930528_32546188_3806485_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/291774_2304451300172_1515930528_32546188_3806485_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aulia Rahman,&lt;i&gt; Public Campaigner for Marine &amp;amp; Marine Species Programme WWF-Indonesia&lt;/i&gt;, membuka diskusi dengan menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke pelelangan ikan terbesar se-Asia Tenggara yang berada di Pekalongan dan Cilacap. Selain tempat pelelangan ikan, di sini juga merupakan perkampungan nelayan yang sudah bergenerasi. Jika dilihat dari data yang diberikan film &lt;i&gt;The End of the Line&lt;/i&gt;, para nelayan di Pekalongan dan Cilacap tidak menyadari bahwa turunnya populasi ikan sedang terjadi meski tanda-tandanya jelas: penangkapan ikan sudah tidak bisa dilakukan di pesisir sehingga harus menjauh 3-4 km ke tengah laut, ukuran ikan yang lebih kecil, serta sudah berbulan-bulan kesulitan menangkap ikan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Permintaan konsumen akan hidangan laut dan sushi berdampak terhadap akitifitas penangkapan secara massif ini. Penangkapan dilakukan oleh teknologi canggih seperti kapal besar, sonar, dan jaring ikan yang sangat luas ini masih memiliki kekurangan karena belum dapat melakukan pemancingan selektif. Akibatnya ikan-ikan atau benda-benda laut yang tidak dibutuhkan ikut terjaring. Saat ditarik ke darat, dalam keadaan menggelepar dan kehabisan nafas, ikan-ikan yang tidak dibutuhkan dibuang kembali ke laut dan berakhir sebagai bangkai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain menangkap ikan dengan jaring, ada juga teknik ribuan kail yang disebarkan di belakang kapal. Itu juga tidak selektif dalam memilih hasil tangkapan. Alih-alih mendapatkan tuna; penyu, burung, hiu, atau paus lain pun bisa terkait oleh kail. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk masalah yang spesifik seperti hiu, populasinya juga menurun seiring dengan permintaan makanan sup sirip hiu. Untuk menyajikan sebuah sirip, satu ekor hiu diambil lalu dipotong siripnya dan dibuang kembali ke laut dengan alasan daging hiu tidak enak dimakan karena banyak mengandung kadar amoniak yang tinggi. Hiu yang dibuang ke laut dalam keadaan hidup itu tidak bisa berenang. Mereka mati tenggelam dan tidak bisa bernafas karena hiu perlu mengekstrasi oksigen dari air melewati insang saat mereka bergerak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di Britania Raya, setelah film &lt;i&gt;The End of the Line&lt;/i&gt; ditayangkan di Juni 2009, dipaparkan bahwa terdapat kenaikan 15% dalam pemilihan pembelian ikan yang berkelanjutan hingga tahun 2010. Setelah ditanya apa alasan mereka membeli ikan yang dipilih, mereka menjawab setelah menonton film tersebut. Bahkan salah satu chef ternama, Jamie Oliver, mengeluarkan tuna dari daftar menunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/302615_2304454740258_1515930528_32546195_7632100_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/302615_2304454740258_1515930528_32546195_7632100_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291774_2304451180169_1515930528_32546185_2770113_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 335px;" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/291774_2304451180169_1515930528_32546185_2770113_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah negeri bahari ini mengalami penurunan populasi yang sama? Adakah data yang menunjang untuk mengetahui kondisi perikanan ini negara ini? Juga bagaimana solusi dari masalah di atas?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tujuan WWF-Indonesia dalam kampanye &lt;i&gt;Seafood Care&lt;/i&gt; adalah, selain mengedukasi masyarakat, mereka menyadari masyarakat Indonesia terhadap hidangan laut yang dinikmati dengan cara memahami lebih jauh bagaimana ikan ditangkap dan dihasilkan. Dengan memahami seperti ini, masyarakat telah berkontribusi pada pelestarian sumber daya laut untuk masa depan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Data-data yang dijaring dunia tentang penurunan populasi ikan begitu yang menyesakkan dada, membuat dunia ini seolah-olah berada di labirin yang gelap dan menyesatkan kapan saja. Namun hasil membuktikan bahwa harapan masih ada, membawa secercah cahaya di ujung labirin sana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/314928_2304459900387_1515930528_32546203_2907360_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 520px; height: 351px;" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/314928_2304459900387_1515930528_32546203_2907360_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sumber:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Consumer behavior changed by ‘highly influential’ End of The Line, research shows: http://endoftheline.com/blog/archives/1337&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fish Facts: http://endoftheline.com/campaign/fish_facts&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6450495215490916979?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6450495215490916979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6450495215490916979' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6450495215490916979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6450495215490916979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/liputan-event-menyelami-dunia-tanpa.html' title='Liputan Event: Menyelami Dunia Tanpa Ikan'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3924556279624061384</id><published>2011-09-02T19:16:00.000+07:00</published><updated>2011-09-02T22:21:54.663+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Masa Lalu</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cVFCZIoMMKM/TVpgI91HXYI/AAAAAAAABFQ/o-hxwHda6Cc/s1600/lubomir_bukov_shadows-of-past-bw-frame.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="312" src="http://3.bp.blogspot.com/-cVFCZIoMMKM/TVpgI91HXYI/AAAAAAAABFQ/o-hxwHda6Cc/s400/lubomir_bukov_shadows-of-past-bw-frame.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto diambil dari &lt;a href="http://varviraamat.blogspot.com/2011/02/past.html"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi obrol, Sapta--teman saya--seringkali bercerita tentang ayahnya yang sudah lama meninggal. Tidak jarang ia juga memetik penggalan kata sang ayah yang Sapta sisipkan ke dalam ucapannya. Di sana, walaupun saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan ayahnya, saya merasa seolah-olah 'kenal' karakter ayahnya. Sapta membawanya dan menghidupkannya melalui ingatan, terselip dalam obrolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan masa lalu yang kembali dihidupkan oleh keluarga saya saat kumpul lebaran. Mayoritas mereka tidak berbicara tentang aktivitas sekarang ini, tetapi terseret kembali ke masa lampau yang mendulang kejayaan serta keterpurukan. Saya jadi mengenal aki papih, nini mamih, kesengsaraan buyut dalam menghidupkan 10 orang anaknya, kejayaan kakek dalam membangun kerajaan kecilnya, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu itu nyata dan terus hidup. Melalui kenangan, melalui cerita yang terus berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam psikologi, masa lalu memegang peranan penting dalam perkembangan seseorang. Namun saya pribadi tidak memberi porsi besar dan khusus terhadap masa lalu--terutama yang tidak mengenakkan. Dia bukan jadi kambing hitam 'lihat aku sekarang. Aku hancur karena masa laluku!' namun ia menjadi motivasi agar individu bangkit kembali. Ya, mungkin seseorang pernah dipukuli oleh kedua orang tuanya dan itu menyakitkan, namun jadikan itu sebagai pelajaran agar seseorang tidak menyakiti anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa masa lalu baik untuk ingatan, untuk media refleksi diri dan juga untuk pembelajaran. Namun jangan sampai kita hidup di dalamnya. Apalagi sampai dihantui pula.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3924556279624061384?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3924556279624061384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3924556279624061384' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3924556279624061384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3924556279624061384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/masa-lalu.html' title='Masa Lalu'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cVFCZIoMMKM/TVpgI91HXYI/AAAAAAAABFQ/o-hxwHda6Cc/s72-c/lubomir_bukov_shadows-of-past-bw-frame.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3096172225945852055</id><published>2011-08-30T23:12:00.004+07:00</published><updated>2011-08-30T23:51:48.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Meminta Maaf</title><content type='html'>Pada suatu hari, teman saya bertanya, "Nia, apakah kalau orang sudah memaafkan tapi masih teringat terus dengan kejadiannya itu sama dengan memaafkan atau tidak?"&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://mashedmusings.files.wordpress.com/2009/03/forgive1.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 299px;" border="0" alt="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya bingung. Saya pikir dia salah bertanya kepada saya karena saya tidak ahli dalam bidang akhlak begini. Maka, dengan kitab Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya meminta dia bersama-sama mengurai permasalahannya (baca: mikir bareng).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara definisi, maaf berarti &lt;i&gt;pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. &lt;/i&gt;Jika kita sudah meminta maaf tapi masih teringat-ingat dengan kejadiannya dan muncul amarah dalam benak kita, maka kita belum memaafkan. Maka orang itu tidak bebas karena masih terikat dengan perasaan negatif kita.  Namun jika tidak muncul amarah atau hanya muncul perasaan biasa-biasa saja, artinya kita sudah memaafkan. Sehingga memberi maaf tidak sama dengan melupakan. Boleh ingat, tapi perasaan sudah netral.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Misalnya saya memaafkan seorang teman yang pernah melempar batu sehingga bibir saya robek. Saat mengingat kejadian itu, tidak ada perasaan kesal, sama seperti ingatan biasa saja. Namun saat ada orang yang mempermalukan saya di depan umum dan saya merasa marah hingga sekarang, maka itu tandanya saya belum memaafkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagaimana dalam kasus meminta maaf secara massal seperti yang terjadi saat berlebaran? Tidak bisa dihindarkan jika ada pemikiran bahwa maaf hanya formalitas. Mungkin ini akibat kita betul-betul tidak meminta maaf atau tidak memaafkan. Mungkin juga kita menginginkan hal yang lebih personal agar suatu urusan menjadi selesai. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Maaf lahir batin ya," ujar salah satu kerabat pelaku bibir-bibir yang tidak hentinya bicara dalam &lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/ransum.html"&gt;Ransum&lt;/a&gt;. Apakah lalu saya memaafkannya? Tentu tidak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maaf itu bukan mantra ajaib yang menghapus permasalahan dan membuat semuanya indah dalam sekali kedip. Maaf itu adalah proses, bukan hasil akhir. Dua orang harus duduk, membicarakan dari hati ke hati, menyelesaikan permasalahannya hingga tuntas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagaimana jika kita berada di pihak yang bersalah? Jika ingin betul-betul meminta maaf, ada tiga tahap dalam meminta maaf. Katakan:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. Saya meminta maaf&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. Saya telah salah karena melakukan ...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. Lalu apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mudah-mudahan tulisan tidak memicu pemikiran 'ah-ribet-bener-lu' dan mungkin ada beberapa orang yang hanya butuh kata 'maaf' tanpa harus menuntaskan masalah. Bebas. Asal tidak ada dendam--apalagi sampai kesumat, bagi saya tidak apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tulisan ini bertepatan dengan lebaran. Maka saya mengucapkan Selamat Idul Fitri. Semoga Tuhan merahmati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3096172225945852055?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3096172225945852055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3096172225945852055' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3096172225945852055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3096172225945852055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/meminta-maaf.html' title='Meminta Maaf'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2716024603224539243</id><published>2011-08-28T21:38:00.006+07:00</published><updated>2011-08-28T22:07:24.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Perempuan Seperti Saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://it.toonpool.com/user/250/files/cooking_93405.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 221px;" src="http://it.toonpool.com/user/250/files/cooking_93405.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Memangnya saya seperti apa? Saya juga tidak tahu. Tapi teman-teman saya punya pendapat tersendiri tentang saya. Dari perilaku, sifat, dan tampilan fisik--mereka ragu kalau saya bisa melakukan tugas domestik. Mungkin saya semacam tidak memiliki potongan calon ibu rumah tangga.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Misalnya saat saya bilang mau menyetrika, teman saya komentar, "Suka ngelakuin juga?" Atau misalnya teman kantor yang kaget ketika saya mengaku saya bisa masak, teman main yang kaget saya bisa membuat kue, dan lainnya. Memangnya dalam situasi kantor atau permainan, saya harus membicarakan saya bisa masak atau bisa melakukan pekerjaan domestik seperti, "Haaai. Aku bisa masak lhoo"? Agaknya saya tidak perlu memakai 'celemek' kemana-mana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya tidak tersinggung. Justru lucu saja. Perlukah saya beri tahu ke semua teman bahwa saya sangat diajarkan untuk bisa melakukan kegiatan domestik? Di rumah saya memang ada tiga orang pembantu, namun ketika mereka libur seperti menjelang lebaran, semua orang di rumah--tanpa melihat jenis kelamin--harus bangun pagi untuk melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci pakaian dan piring, menyapu, mengepel, dan lainnya. Kami mencuci piring kami sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Jadi tidak usah kaget jika saya datang ke rumah teman yang tidak ada pembantu lalu saya inisiatif mencuci piring saya sendiri.)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perlukah saya beri tahu bahwa setiap menjelang lebaran saya selalu membuat kue kering sendiri atau bisa membuat kue basah seperti &lt;i&gt;brownies&lt;/i&gt; sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perlukah saya beri tahu bahwa kami juga menguras kamar mandi setiap minggu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah tangan harus kasar dan kaki harus pecah-pecah untuk menunjukkan bahwa seorang perempuan itu melakukan pekerjaan domestik?&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagi saya hal-hal di atas itu tidak penting dibicarakan. Namun sekarang saya sudah memberi tahu. Saya bisa melakukan tugas domestik. Saya bisa masak. Ya--kecuali jika kau menginginkan masakan kelas hotel bintang lima.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2716024603224539243?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2716024603224539243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2716024603224539243' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2716024603224539243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2716024603224539243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/perempuan-seperti-saya.html' title='Perempuan Seperti Saya'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8961785534781432480</id><published>2011-08-25T01:30:00.009+07:00</published><updated>2011-08-25T15:16:59.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><title type='text'>Garis Batas (2011)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Menemui" Agustinus Wibowo merupakan sebuah perjalanan panjang bagi saya. Diawali dari topik tentang &lt;a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/topic-967.html"&gt;Perjalanan Agustinus Wibowo&lt;/a&gt; di forum National Geographic Indonesia (NGI), saya membaca sedikit resensi bukunya dan profilnya. Di sana dipaparkan ia melakukan perjalanan berbagai negara di Asia Tengah. Bukankah negara-negara di Asia Tengah terkenal sebagai  negara "panas"? Bagaimana ia bisa melenggang bebas atau bahkan nekat melakukan perjalanan di sana?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Agustinus Wibowo--akrab disapa Gus Weng--menjawab pertanyaan dan pernyataan teman-teman NGI di forum. Respon yang ia berikan membuat saya merasa penulisnya betul-betul &lt;i&gt;ada&lt;/i&gt;. Menurut saya, ada beberapa penulis atau orang penting yang tidak tersentuh, yang jika dikontak atau dihubungi tidak pernah membalas sehingga kita berhubungan dengan cangkang yang tidak ada isinya. Berhubungan dengan penggemar itu penting, malah sambutan hangat dapat meningkatkan loyalitas para penggemar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu beberapa hari setelah itu, saya menerima kabar bahwa &lt;a href="http://tobucil.blogspot.com/2011/05/obroal-santai-bersama-agustinus-wibowo.html"&gt;Tobucil &lt;/a&gt;mendatangkan Gus Weng. Letak Tobucil ini hanya beberapa ratus meter dari rumah. Saya lupa saat itu ada kegiatan apa, yang pasti saya tidak bisa datang. Sangat disayangkan, saya tidak bisa bertemu dengannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jauh setelah itu, dalam jeda sesi pengobatan ibu saya, akhirnya kami bertemu di sebuah toko buku di Jalan Supratman. Ia sedang duduk di dekat rak, memakai jaket hitam--kontras dengan warna kulitnya yang kekuningan. Di kakinya, terlihat sepasang sepatu bot yang sudah usang. Di sebelah kanannya, tersimpan ransel besar yang tidak terbayangkan beratnya. Di kepalanya, bertengger sebuah topi kecil bersudut empat, dengan sulaman yang terbuat dari emas. Saya menyapa, ia membalas dengan ramah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://othervisions.files.wordpress.com/2011/07/garis-batas.jpg?w=317" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 317px; height: 475px;" src="http://othervisions.files.wordpress.com/2011/07/garis-batas.jpg?w=317" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ia bercerita tentang kunjungannya ke lima negara yang ada di Asia Tengah:  Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Saya melongo mendengar ia mengunjungi negara-negara yang bahkan mungkin tidak terpikirkan bagi turis untuk berkunjung. Betul saja, ternyata ia tidak melenggang bebas seperti yang sebelumnya saya duga. Ia membutuhkan perjuangan, perjalanan di bawah ketakutan, juga kecemasan saat berada di kelima negara yang terkenal dengan korupsi dan birokrasi berbelit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Gus Weng menceritakan kesemua negaranya dengan perlahan, cermat, dan memperhatikan detil suasana dan perasaan--menunjukkan ciri khas setiap negara yang terpisah oleh sebuah garis batas imajiner yang nyata dalam bentuk tentara perbatasan, pos penjagaan, kawat berduri, atau tembok kokoh yang menjulang tinggi. Lalu garis batas--yang menjadi judul dan juga sulaman benang merah yang mengkaitkan cerita kelima negara bak kain perca dengan kuat--tidak melulu perbatasan antar negara. Gus Weng memperlebar makna garis batas kepada zona nyaman, hambatan interaksi dua ras yang berbeda seperti 'aku Uzbek, kau Kirgiz' , 'aku Jawa, kamu Sunda',  bahkan warna kulit. Ia berkata, "Kulit membungkus manusia. Warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Banyak sentuhan personal yang ia paparkan saat ia bercerita berkaitan dengan identitas diri saat ia berada di Kirgiztan. Di sana ia merefleksikan pengalamannya sebagai warga yang memiliki garis Tionghoa yang mengalir dalam darahnya dan menjadi batas berinteraksi dengan tempat dimana ia lahir, tumbuh, dan mengenyam pendidikan di dalamnya: Indonesia. Diskriminasi birokrasi terhadap minoritas Tionghoa misalnya harus menunggu dua puluh tahun untuk mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Gus Weng sendiri baru mendapatkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) setelah mendaftar di universitas negeri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;"Perpindahan itu mengubah nasib dan takdir, mengubah jati diri dan impian. Ada beberapa saudara yang saya kenal, lahir di Indonesia, besar di Indonesia, hidup di Indonesia, belum pernah menginjakkan kaki ke negeri Cina, tetapi selalu merindukan Cina, mendambakan Cina, menganggap diri sebagai orang Cina. Di kampung saya, "pulang ke negeri leluhur" atau huiguo adalah impian banyak orang Tionghoa. ... &lt;i&gt;Pulang&lt;/i&gt;, ke rumah yang tidak pernah dikunjungi, tetapi terasa kerinduannya. Tanah leluhur itu laksana Mekkah. Negeri itu menjadi sebuah tanah suci, tanah air fantasi, tumpah darah imajiner, kecintaan yang dipenuhi romansa dan mitos ... indah, begitu indah." (2011:217-218)&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Masalah identitas negara pun menjadi sorotan Gus Weng. Misalnya Kirgiztan yang mencoba terlepas dari jeratan budaya Rusia namun tidak bisa. Kirgiztan harus kembali lagi menggunakan bahasa Rusia di negaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Di antara negara-negara baru yang berkoar tentang nasionalisme, Kirgiztan masih sulit melepaskan diri dari masa lalunya di bawah Uni Soviet. Di ibu kota negeri ini, bahasa nasional Kirgiz nyaris tak terdengar. Semua orang--termasuk bangsa Kirgiz--bicara bahasa Rusia, yang bari mereka terdengar lebih intelek daripada bertutur dalam bahasa kaum nomad.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bahasa nasional adalah perjuangan besar untuk mempertahankan eksistensi dan jati diri. Sementara di belahan lain Asia, pemimpin dan rakyatnya malah bangga bisa menyelipkan kata dan kalimat bahasa asing, sebagai lambang dan kecerdasan kemajuan berpikir, tertimbun oleh kekaguman dan pemujaan peradaban asing--secuil superioritas dari sindrom inferioritas bangsa terjajah." (2011:177-179)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Lalu bagaimana dengan identitas kita sendiri? Sudah betulkah nasionalisme yang tergugah dalam bentuk teriakan-teriakan, amarah, dan ajakan perang terhadap negara tetangga yang dianggap merebut kebudayaan Indonesia karena klaim salah satu produknya? Ozoda Kosimova--perempuan yang Gus Weng kenal di Uzbekistan--yang berdarah campuran Uzbek dan Tajik, berbahasa Indonesia lancar hasil mempelajari sendiri dari buku, membuka kelas tarian di Samarkand dan jago menarikan Badinding, Sekaria, Piring, Batik, Puspito, dan Yapong. Kita sebagai nasionalis Indonesia, tahukah kita tentang tarian itu semua? Bisakah kita menarikannya? Saya tidak. Klaim akan menjadi sah jika bangsanya sendiri tidak melestarikan kebudayannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;"Mungkin ada benarnya teori ini, untuk membunuh sebuah bangsa, bunuhlah dulu bahasanya. Bangsa yang kehilangan bahasa adalah bangsa yang kehilangan identitas. Bangsa itu kemudian melebur dalam diri budaya bangsa lain yang lebih besar." (2011:286-287)&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam ceritanya, Gus Weng mengajak saya untuk berimajinasi dan merasa berinteraksi dengan masyarakat Asia Tengah, bergerak dalam dinamikanya. Menyatu. Melebur. Menghilang di tengah pada salju putih yang berkilauan ditempa matahari, terkepung oleh gunung-gunung sebagai atap dunia di &lt;a href="http://avgustin.net/gallery.php?id=51"&gt;Tajikistan&lt;/a&gt;, lunglai dalam vodka di &lt;a href="http://avgustin.net/gallery.php?id=52"&gt;Kirgiztan&lt;/a&gt;, melihat dua orang yang beradu kasih di atas salju di &lt;a href="http://avgustin.net/gallery.php?id=53"&gt;Kazakhstan&lt;/a&gt;, takzim dalam seni Persia di &lt;a href="http://avgustin.net/gallery.php?id=54"&gt;Uzbekistan&lt;/a&gt;, melihat keindahan yang megah namun kosong dan artifisial di &lt;a href="http://avgustin.net/gallery.php?id=56"&gt;Turkmenistan&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Setelah selesai mendengarnya bercerita, saya merasa lelah. Persis kelelahan yang saya rasakan sehabis jalan-jalan. Perasaan berkecamuk, terutama saat membayangkan bahwa saya tidak memiliki kewarganegaraan seperti orang-orang di Kazakhstan dan Uzbekistan, membayangkan identitas saya tidak lebih dari tumpukan dokumen. Tanpa dokumen, bisakah Nia tetap menjadi seorang "Nia"? Juga Gus Weng menyisakan pertanyaan di benak saya: Bagaimana jika ia bukan WNI lalu ia berkunjung ke Indonesia? Apa yang kira-kira akan ditulisnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saat itu, handphone saya berdering. Ibu saya mengabarkan kalau sesi berobatnya sudah selesai. Saya pamitan dengan Gus Weng. Dalam hati, saya pasti akan bertemu dengannya lagi. Entah di toko buku mana, atau di ruang diskusi mana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sambil tersenyum, ia menjawab, "Spasibo. Rahmat."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/64647_431261856052_546831052_5761646_3422134_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 520px; height: 350px;" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/64647_431261856052_546831052_5761646_3422134_n.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8961785534781432480?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8961785534781432480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8961785534781432480' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8961785534781432480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8961785534781432480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/garis-batas-2011.html' title='Garis Batas (2011)'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-4451292449644303495</id><published>2011-08-24T11:12:00.005+07:00</published><updated>2011-08-24T12:26:58.039+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Menjadi Diri Sendiri</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CR9p78tSBnI/TCDeEnlYIpI/AAAAAAAAACo/pvbJL8kd_Ak/s1600/be-yourself.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 233px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CR9p78tSBnI/TCDeEnlYIpI/AAAAAAAAACo/pvbJL8kd_Ak/s1600/be-yourself.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari ini, saya memikirkan kalimat 'just be yourself' atau 'menjadi diri sendiri'. Pertama, kemarin ini saya bercerita kepada teman tentang saat saya remaja, saya ingin seperti kakak sepupu saya yang cantik dan pintar adanya. Namun semakin dewasa, saya malah ingin menjadi diri saya--yang tidak cantik dan tidak pintar namun saya bersyukur. Kedua, ada teman saya yang bilang, "Stupid people says 'just be yourself', smart people says 'just be better yourself'"&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Memangnya sedosa apa menjadi diri sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menjadi diri sendiri bukan berarti kebal dikritik. Misalnya, "Nia, kamu terlalu berisik." lalu saya menjawab, "Ini diri saya. Terima saja." Jika keberisikan saya memang menganggu hikayat orang banyak, kritik itu harus saya dengar. Ini namanya kritik membangun agar kita &lt;i&gt;just be better ourselves&lt;/i&gt;. Namun jika kritik diberikan kepada kita itu terlalu banyak, bahkan untuk sesuatu yang tidak penting, dan sebetulnya hikayat orang banyak tidak bermasalah (demi kepuasan satu orang) rasanya perlu dipertimbangkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak semua ucapan orang perlu didengar. Dan diri tidak bisa memuaskan semua kepala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya tidak mau mengidap &lt;i&gt;Stockholm Syndrome&lt;/i&gt; atau masokis dimana saya merasa semua kritikan itu bentuk kasih sayang kepada saya. Banyak cara untuk menunjukkan perhatian, bukan dalam bentuk kritik kebanyakan yang membikin&lt;i&gt; self-esteem&lt;/i&gt; jatuh. Saya rasa sekuat apapun orang tersebut, pasti mengalami fase turunnya &lt;i&gt;self-esteem&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak menjadi diri sendiri itu seperti mengganti rumput gajah dengan rumput peking akibat melihat halaman tetangga, lalu saat tetangga mengganti halamannya dengan paving block, masih mau mengganti rumput peking yang telah ada, dan seterusnya. Jangan-jangan maksud dari menjadi diri sendiri adalah &lt;i&gt;puas&lt;/i&gt; menjadi diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bisa jadi kalimatnya begini, "Oke, saya Nia. Mungkin ada banyak kekurangan dalam diri saya yang perlu kritik membangun, namun jika tidak menganggu diri dan lingkungan, biarkan saya menjadi diri saya. Menjadi pribadi unik yang tidak mengikuti standar dan kemauan orang lain. Kalaupun saya gagal, diri pribadi saya yang menanggungnya."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ya, mungkin begitu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-4451292449644303495?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/4451292449644303495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=4451292449644303495' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4451292449644303495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4451292449644303495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/menjadi-diri-sendiri.html' title='Menjadi Diri Sendiri'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CR9p78tSBnI/TCDeEnlYIpI/AAAAAAAAACo/pvbJL8kd_Ak/s72-c/be-yourself.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3156093450811069868</id><published>2011-08-18T12:52:00.008+07:00</published><updated>2011-08-18T22:12:17.285+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Ransum</title><content type='html'>Ini adalah tulisan lanjutan dari &lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/2011/06/menghitung-mundur.html"&gt;Menghitung Mundur&lt;/a&gt;.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seperti yang sudah diprediksi, jalan meninggalkan pekerjaan demi cita-cita tidaklah mudah. Alhamdulillah tulis menulis saya lancar sekali. Tulisan saya dimuat di beberapa media, jejaring dengan para penulis semakin luas, mendapatkan umpan balik yang positif dari skala yang luas, dan lainnya. Namun yang membikin susah adalah lingkungan saya. Seperti yang sudah saya duga, mereka akan menyesali kenapa saya keluar, menyinggung soal penghasilan tanpa memperhatikan kemajuan kualitatif yang saya dapat. &lt;i&gt;Quantity is number one while quality doesn't count.&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bibir-bibir tidak mau berhenti menyinyir dan pandangan mata tidak mau berhenti meremehkan. Kuping saya panas, darah saya bergejolak. Hati sesak hanya bisa memendam karena kata-kata itu luber dari orang-orang yang membesarkan saya, yang memiliki andil dalam kehidupan saya, dan merasa andil itu harus dibayar dengan diamnya saya. Tidak boleh melawan, tidak boleh berargumen karena nanti dianggap tidak sopan, harus tetap berada di dalam jalur yang sudah ditentukan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengapa ketimbang berandai-andai di masa lalu, mulut-mulut itu tidak memberikan saya saran apa yang harus saya kerjakan selanjutnya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya sempat bertanya-tanya kepada diri, "Apakah saya membuat keputusan yang salah? Apakah keputusan saya terlalu dini? Jika iya, bagaimana memperbaikinya? Jika iya, kapan saya akan merealisasikannya? Apakah perlu tua dan mapan dulu untuk mengejar cita-cita?" Hidup itu adalah pilihan dan manusia harus bertanggung jawab pada pilihannya. Ingatkan saya pada Roma yang tidak dibangun dalam satu malam. Cita-cita tidak akan tercapai dalam hitungan bulan. Ibarat emas, proses pembuatannya perlu peleburan dan perlu pemurnian. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mulut-mulut akan terus mengepak seperti kupu-kupu, mengeluarkan kata-kata setajam pisau. Apakah orang-orang sukses hari ini akan dilihat saat ia masih berjibaku dengan usaha kecilnya? Tidakkah mereka baru diakui dan dipuja-puja saat mereka sudah ternama?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya perlu jalan tengah. Salah satu dosen saya memberikan saran bahwa saya harus tetap berpenghasilan tetap sementara terus menulis atau melakukan kegiatan yang saya suka. Saya rasa ucapannya betul. Saya harus realistis. Saya tidak gila sepenuhnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini jadi permasalahan mental, bukan keterampilan. Saat kalian juga akan mengejar impian, ingatlah bahwa hal ini perlu diperhitungkan. Ingatlah bahwa selain kita sendiri yang beradaptasi, lingkungan pun perlu beradaptasi dengan perubahan kita. Inikah yang banyak kalian takutkan? Meski lingkungan ada yang tidak mendukung, harus tetap ingat bahwa pasti ada juga yang mendukung. Mereka yang terus mengingatkan ketika kalian gamang di persimpangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seperti yang diucapkan teman saya yang sama-sama sedang berjuang menuju cita-cita, Rizal Affif, di status Facebooknya: &lt;i&gt;I may start very small. It is okay. Even a giant sequoia starts off as a seed.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya akan terus memperjuangkannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FwTjo29wurw/Tk0rjRlwsKI/AAAAAAAABI4/JjXu4vj4k50/s1600/Nia%2B-%2BGunung%2BPadang.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-FwTjo29wurw/Tk0rjRlwsKI/AAAAAAAABI4/JjXu4vj4k50/s400/Nia%2B-%2BGunung%2BPadang.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642213793182298274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3156093450811069868?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3156093450811069868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3156093450811069868' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3156093450811069868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3156093450811069868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/ransum.html' title='Ransum'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FwTjo29wurw/Tk0rjRlwsKI/AAAAAAAABI4/JjXu4vj4k50/s72-c/Nia%2B-%2BGunung%2BPadang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1650389761065047808</id><published>2011-08-14T00:29:00.004+07:00</published><updated>2011-08-14T01:43:32.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Akrostik</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;anar mata memandang&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;I&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ngkari,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;J&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;elaga seketika&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;marah menyesakkan dada&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;N&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;adi berdenyut kencang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;I&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ngkar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;A&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;dalah yang kau lakukan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;R&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;esap dalam setiap inci tubuhmu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;----&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hasil latihan menulis writers' circle tentang puisi akrostik. Saat itu kata-kata yang diharuskan adalah nama panjang kita sendiri. Maka saya menuliskan NIA JANIAR di setiap awal kata.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1650389761065047808?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1650389761065047808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1650389761065047808' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1650389761065047808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1650389761065047808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/akrostik.html' title='Akrostik'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5010228457480011142</id><published>2011-08-09T22:54:00.003+07:00</published><updated>2011-08-10T13:13:22.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review film'/><title type='text'>Muallaf (2008)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/sGl2vizkSCQ" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya baru tahu kalau muallaf itu bukan melulu konversi dari satu agama ke agama lain. Muallaf bisa juga berarti kembali ke (makna) asal. Sekiranya itu yang disampaikan di film drama Malaysia berjudul &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muallaf"&gt;Muallaf &lt;/a&gt;(1998) yang disutradarai oleh Yasmin Ahmad. Film ini diputar di Museum Asia Afrika (8/8) dalam rangka memperingati 44 tahun berdirinya organisasi ASEAN.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bercerita tentang perempuan muslim yang bernama Rohani dan Rohana--dua orang muslim taat--yang kabur dari rumah untuk menyelamatkan diri dari perilaku kasar ayahnya. Rohana memiliki kebiasaan yang jika kesal, ia akan mengucapkan nomer ayat-ayat Quran dan membuat guru di sekolahnya takut. Keunikan Rohana ini membuat Brian--guru sejarahnya yang beragama Kristen--tertarik. Dari interaksi bersama Rohana dan Rohani, Brian menjadi tertarik mempelajari agamnya. Selain itu Rohani banyak memberikan nasihat agar Brian berhubungan baik dengan ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Melihat judul serta interaksi Brian dan Rohani mungkin membuat penonton berburuk sangka bahwa akhirnya Brian akan pindah agama ke Islam. Nyatanya tidak. Brian, yang semula selalu menolak ajakan ibunya pergi ke gereja, akhirnya mau ikut apa kata ibunya. Rohani yang semula berhubungan buruk dengan ayahnya, diakhiri dengan pulang ke rumah ayahnya dan merawat ayahnya yang terkena stroke. Jadi, inilah konsep muallaf dimana orang tua adalah analogi Tuhan. Kembali ke "orang tua". Kembali ke asal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam film Muallaf, terlihat tolerasi keberagamaan. Ketika Rohani berinteraksi dengan Brian, ia tidak pernah memaksakan Brian untuk memeluk agamanya. Semua berlangsung sesuai dengan jalan yang dipilih masing-masing (agama) untuk menuju yang &lt;i&gt;satu.&lt;/i&gt; Dan ini dikuatkan dengan pernyataan kepala sekolahnya bahwa untuk menuju Tuhan, jalan orang itu berbeda-beda. Uniknya Yasmin Ahmad sendiri mengakui--dalam tautan Wikipedia--bahwa ia mencari Tuhan melalui film-film yang ia ciptakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dlihat dari trailer di atas, ada adegan dimana tokoh Rohani digunduli. Bagian ini sempat dipotong di Malaysia karena Islam melarang perempuan dipotong menyerupai laki-laki. Baru satu tahun kemudian, film ini boleh beredar di Malaysia dengan beberapa dialog yang suaranya dipadamkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5010228457480011142?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5010228457480011142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5010228457480011142' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5010228457480011142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5010228457480011142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/muallaf-2008.html' title='Muallaf (2008)'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/sGl2vizkSCQ/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8726445268342196912</id><published>2011-08-08T00:03:00.007+07:00</published><updated>2011-08-08T22:58:44.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review film'/><title type='text'>The White Balloon (1995)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_R_fxWock3qU/TJYKWYWDdtI/AAAAAAAAALM/gtOQ9lD6c0k/s1600/white_balloon_film.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 460px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_R_fxWock3qU/TJYKWYWDdtI/AAAAAAAAALM/gtOQ9lD6c0k/s1600/white_balloon_film.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah sekian lama tidak menonton film non-Hollywood, siang tadi (7/8) ceritanya saya nonton &lt;i&gt;The White Balloon &lt;/i&gt;(1995) bareng Aleutians. Jika ada para pembaca yang mengikuti blog &lt;a href="http://rlwriterscircle.blogspot.com/"&gt;Reading Lights Writer's Circle&lt;/a&gt; dan tahu kegiatan &lt;i&gt;movie week&lt;/i&gt;, maka pengetahuan perfilman saya terputus semenjak teman saya yang mengelola &lt;i&gt;movie week&lt;/i&gt; hengkang dari RLWC.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;The White Balloon&lt;/i&gt; adalah film drama keluarga dari Iran yang berkisah tentang Razieh (7 tahun) yang merengek ke ibunya minta dibelikan ikan mas yang banyak siripnya dan &lt;i&gt;chubby. &lt;/i&gt;Saat sedang meratapi kolam ikan yang ada di rumahnya, kakaknya Razieh mempersuasi ibunya agar membelikan ikan mas. Lalu, diberilah ia 500 toman--400 lebihnya dari harga satu ekor ikan mas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Singkat cerita, untuk mendapatkan ikan mas, anak yang memiliki karakter cerdas dan cerewet ini mengalami beberapa hambatan. Ia harus dikerjai oleh &lt;i&gt;snake charmers&lt;/i&gt; (pertunjukkan di jalanan dimana orang memainkan instrumen untuk menghipnotis ular) serta uangnya masuk ke dalam gorong-gorong. Hingga akhirnya ia ditolong dengan tongkat milik penjual balon yang saat itu di ujung tongkatnya ada balon berwarna putih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Inti ceritanya ya sesederhana itu. Ingin ikan-terhambat-dapat ikan pada akhirnya. Kesederhanaan cerita yang ditarik selama 85 menit tentunya menghasilkan cerita yang bertele-tele, memiliki banyak dialog, atau ada bagian yang terlihat tidak berpengaruh langsung pada cerita. Jika dinilai secara plot, saya tidak menyukai film ini karena plotnya sangat lambat sehingga terasa capek menontonnya. Contohnya saat mau mengambil uang digorong-gorong, kakaknya Razieh harus berlari kesana-sini dulu untuk mendapatkan bantuan. Ngomong-ngomong tentang plot, beberapa kali Andika pernah merekomendasikan film-film berjalan cerita lambat, tapi tetap saya tidak suka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika dinilai secara &lt;i&gt;setting &lt;/i&gt;film, saya juga tidak puas. Ibaratnya saya sedang melihat ke dalam akuarium, hanya melihat ikan-ikan di dalamnya, tanpa mengetahui pemandangan apa saja yang ada di luar kaca. Detail seperti keadaan rumah, keadaan lingkungan rumah, keadaan jalanan pun sepertinya sengaja dilewatkan sehingga pandangan difokuskan kepada interaksi tokoh dengan tokoh lainnya. &lt;i&gt;Ikan dengan ikan lainnya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mask9.com/sites/default/files/mt0x0000/10014/image/201105/filmmakers-on-childhood/movie-the-white-balloon-still-mask9.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 465px; height: 300px;" src="http://www.mask9.com/sites/default/files/mt0x0000/10014/image/201105/filmmakers-on-childhood/movie-the-white-balloon-still-mask9.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi jika berbicara karakter tokoh, saya apresiasi sekali. Dari karakter tokoh utama--Razieh--saya sudah menduga bahwa anak ini pasti berkisah 7 atau 8 tahun. Kepolosan, penggunaan tata bahasa yang berbelit-belit, serta gaya bertutur saat berbicara sangatlah menjelaskan bahwa ia adalah anak-anak di usia itu. Ekspresi sedih yang ditampilkan juga alamiah. Saya sendiri merasa gemas melihatnya dan ikut senang jika ia tersenyum saat mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu karakter yang kuat terlihat pada kakak laki-lakinya yaitu menjaga dan sayang pada adiknya, bapak Razieh yang pemarah (disini saya berasumsi kalau ini merupakan simbolisasi budaya di Iran dan sekitarnya bahwa pria dewasa menduduki urutan pertama setelah perempuan dan anak-anak--pernah ditunjukkan oleh Khaled Hosseini dalam &lt;i&gt;A Thousand Splendid Suns &lt;/i&gt;dan Marjane Satrapi dalam &lt;i&gt;Persepolis&lt;/i&gt;), dinamika masyarakat Iran tentang para wanita yang mengurus urusan anak dan rumah tangga sementara para pria sibuk dengan urusan politik bisnisnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tentu ada hikmah dari film ini seperti yang disebut teman-teman Aleut. Misalnya ketika kedua tokoh tersebut mengalami masalah, para orang dewasa yang ada didalamnya tidak memberikan jalan keluar secara langsung, melainkan anak harus menyelesaikan masalah sendiri. &lt;i&gt;Trial and error&lt;/i&gt; (mencoba, salah, lalu mencoba lagi hingga benar) yang dilakukan kedua tokoh juga menjadi fokus karakter pada tokoh anak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak wajib, namun menonton film ini lebih enak jika kita memiliki &lt;i&gt;prior knowledge &lt;/i&gt;atau pengetahuan sebelumnya tentang Iran. Bersama Neni, saya bertanya-tanya jangan-jangan dibalik kesederhanaan film ini, banyak simbol yang dimunculkan namun tidak saya ketahui? Misalnya pegawai militer yang ada di tengah-tengah film, warna putih pada balon, atau bahkan ikan mas itu sendiri. Atau jangan-jangan saya hanya melihat kulit dari filmnya saja--seperti Razieh yang tertipu pada gemuknya ikan karena hanya melihat dari balik kaca akuarium?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8726445268342196912?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8726445268342196912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8726445268342196912' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8726445268342196912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8726445268342196912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/white-balloon-1995.html' title='The White Balloon (1995)'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_R_fxWock3qU/TJYKWYWDdtI/AAAAAAAAALM/gtOQ9lD6c0k/s72-c/white_balloon_film.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2621343402126915366</id><published>2011-08-03T19:43:00.006+07:00</published><updated>2011-08-03T19:56:25.591+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><title type='text'>Madre (2011)</title><content type='html'>&lt;a href="http://perpuskecil.files.wordpress.com/2011/08/madre.jpg?w=200&amp;amp;h=297" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 297px;" src="http://perpuskecil.files.wordpress.com/2011/08/madre.jpg?w=200&amp;amp;h=297" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Madre. Aku lapar, aku ingin nasi. Tapi karena tidak ada nasi, lalu aku pergi ke sebuah warung yang sudah terkenal. Tidak ada lontong, hanya ada gado-gado yang menjadikan ini distraksi. Ah, tidak mengapa, mengganjal sedikit. Tapi tetap nanti aku akan makan nasi.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gado-gadonya isinya banyak dan beragam. Ada sayur, ada telur, dan saus kacang. Tapi--bleerghh--aku enggak suka sayur kacangnya. Terlalu hambar. Sejujurnya sudah terlihat dari warna saus yang pucat. Juga rasanya terlalu bingung; kadar gula merah, bawang putih, dan cabainya tidak pas. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kulihat lagi nama penjual gado-gadonya di spanduk yang menutupi warung. Tempat makan ini sudah terkenal sehingga banyak orang yang datang. Aku jauhkan sepiring gado-gado yang belum habis. Kubayar, lalu beranjak pergi, mencari nasi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Biasanya aku enggak masalah dengan gado-gado. Sepertinya ini masalah selera.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2621343402126915366?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2621343402126915366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2621343402126915366' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2621343402126915366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2621343402126915366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/madre-2011.html' title='Madre (2011)'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3903950245141393062</id><published>2011-08-01T20:43:00.006+07:00</published><updated>2011-08-02T13:25:10.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Guratan Sejarah Melalui Cihapit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;Mungkin keluarga Simangunsong--yang mencetak Dewi Lestari, Arina Mocca, atau Imelda Rosalin--pernah memiliki kesan tersendiri pada pasar tradisional Cihapit karena menghabiskan masa kecilnya di sana. Ada keluarga lain yang juga makan nasi rames Cihapit, lotek di gang dekat masjid, atau juga makan kupat tahu Galunggung yang masih berkiprah hingga sekarang. Lorong-lorong bisu yang bertahun-tahun terbangun ini menjadi saksi bisu orang-orang Bandung yang tumbuh dan berkembang.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-VSAz2ZccuNo/TjauF-68yAI/AAAAAAAABHk/AGpKBR_YUnk/s400/IMG_5248.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635883401513584642" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: left; "&gt;Sejarah Bandung tidak hanya kawasan Braga atau Asia-Afrika yang ramai diceritakan karena penuh bangunan tua. Kawasan Cihapit dan rumah saya (Taman Pramuka) juga memiliki nilai sejarah. Bangunan tuanya berupa rumah-rumah, bukan gedung megah layaknya di daerah Alun-Alun Bandung. Namun siapa sangka rumah-rumah itu juga menyimpan cerita yang lebih mengerikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left; "&gt;Bang Ridwan--si pencerita sejarah Bandung dari Komunitas Aleut!-- mengatakan bahwa Cihapit dulu dikenal sebagai Bloemenkamp. Saat penjajahan Jepang, wilayah ini dikelilingi kawat karena rumah-rumah di sini dijadikan kamp konsentrasi orang Eropa yang ditahan dan dikumpulkan. Satu rumah bisa mencapai 20 keluarga. Jika mereka keluar, bisa ditembak mati oleh warga Jepang, sehingga wilayah ini (juga Jalan Cibeunying dan Jalan Mangga dikenal sebagai rumah hantu). Karena untuk anak, wanita, dan pria itu berbeda, maka warga menciptakan gorong-gorong bawah tanah agar bisa saling berkomunikasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left; "&gt;Ini yang saya dapat informasinya mengenai Bloemenkamp dan sekitarnya. Foto dan tulisan dari Komunitas Aleut!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-JdTGiC6TXog/TjeUn9VnV2I/AAAAAAAABIE/ZPnbtRu8oR0/s400/Peta.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 288px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636136872878495586" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kawasan Cihapit pernah memiliki masa-masa kelam, tepatnya ketika kawasan tersebut difungsikan sebagai salah satu lokasi Interniran terbesar di Bandung. Dikenal juga sebagai kamp Bunsho II, Kamp Tjiapit ditujukan untuk menampung tawanan wanita, orang-orang tua dan anak-anak Belanda. Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuninya sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah. Tercatat sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam kamp ini tawanan menempati rumah-rumah dan bangunan lain yang dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan gedek (bilik). Komandan Kamp antara lain Mr. Boenjamin, Mr. Arsad, Kapten Susumu Suzuki, Letnan Ryoichi Takahashi. Kepala penjaga: Muroi, Otsuka, Hashimoto, Nada, Yashuda, Shirakawa. Pengawasan kamp dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Heiho.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada bulan Agustus 1943 di Bagian barat dari kawasan ini didirikan kamp baru yang disebut Bloemenkamp.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sedangkan foto-foto di bawah adalah kawasan Cihapit sekarang. Selain merupakan bagian sejarah Bandung, Cihapit juga bagian dari sejarah saya karena ia berkontribusi sebagai tempat yang sering saya kunjungi ketika saya kecil. Tidak ada perubahan yang signifikan, hanya keadaan pasar yang lebih teratur oleh kios-kios baru serta kebersihan yang terbilang baik untuk sebuah pasar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-MOPZy2Fr8SY/TjauFpRs52I/AAAAAAAABHc/JJ0rL_bGO4M/s400/IMG_5246.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635883395703433058" /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-WYJECCzQCJw/TjauGVIIMgI/AAAAAAAABH0/35zkaIHPclk/s400/IMG_5250.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635883407474438658" /&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-V-a8eVsDIpQ/TjauGQ5bhAI/AAAAAAAABH8/qqwSd--VZKs/s400/IMG_5258.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635883406339048450" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-p2B2TpA2Q0w/TjauFyA5TZI/AAAAAAAABHs/ETalx7cDc_M/s1600/IMG_5267.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-p2B2TpA2Q0w/TjauFyA5TZI/AAAAAAAABHs/ETalx7cDc_M/s400/IMG_5267.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635883398048861586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dari peta cokelat di atas, rumah saya berada di sekitaran Oranje Plein (yang juga disebut Kapiteinhill). Informasi lebihnya belum saya dapatkan mengenai kawasan ini. Namun kemarin ada bocoran dari Bang Ridwan bahwa Jalan Riau, jalan yang panjang yang membelah peta tersebut, merupakan perbatasan Bandung. Jadi, tulisan Luchtdoel itu (mungkin kisaran Gandapura) adalah Bandung. Sedangkan Oranje Plein ke Houtman Straat adalah luar kota Bandung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Biasanya pembangunan villa dilakukan di kawasan luar kota Bandung. Jadi, rumah saya dulu itu merupakan sebuah villa--kawasan elit dari dulu hingga sekarang. Hm, bukan elit kali ya ... karena kalau mendengar kata elit, saya membayangkan kawasan Kemang atau Menteng Jakarta. Karena bentuk dari rupa kawasan Taman Pramuka jauh dari itu. Namun beruntung betul bisa tinggal di rumah ini karena saya yakin, rumah saya sendiri pun memiliki banyak sejarah yang belum terkuak. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3903950245141393062?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3903950245141393062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3903950245141393062' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3903950245141393062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3903950245141393062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/08/guratan-sejarah-melalui-cihapit.html' title='Guratan Sejarah Melalui Cihapit'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-VSAz2ZccuNo/TjauF-68yAI/AAAAAAAABHk/AGpKBR_YUnk/s72-c/IMG_5248.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-7879229337283278462</id><published>2011-07-31T22:50:00.004+07:00</published><updated>2011-07-31T22:55:43.327+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='transenden'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Fantasmagoria</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-M99_BFSTVBA/TjV6e9gv2PI/AAAAAAAABHU/E74HkfqAFyI/s1600/Fantasmagoria.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-M99_BFSTVBA/TjV6e9gv2PI/AAAAAAAABHU/E74HkfqAFyI/s400/Fantasmagoria.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635545181050624242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jus jambu yang ia tegak terasa pahit. Kental dan ingin cepat ia tegak seluruhnya. Jus ini dibawa oleh temannya—Yuda yang baru pulang naik haji beberapa minggu yang lalu. Dengan seringai gigi di wajahnya, Yuda menyodorkan minuman yang baru dijus di Gasibu di tengah malam.&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Selamat menikmati ya,” ujar Yuda atau Yudas Iskariot—si pengkhianat—yang katanya baru melakukan perjalanan religius tapi kini memberikan barang laknat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Sendirian? Atau mau ditemani?” tanya teman yang pernah menjadi pengedar narkoba ini. Beberapa teman pernah bergunjing tentang Yuda yang naik haji dengan hasil narkobanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku jawab aku mau sendiri. Kubawa barang itu dengan kaku padahal isinya hanya lumatan satu buah jambu batu. Beberapa teman kosku bertanya barang apa yang aku terima di tengah malam, berharap aku membawa sesuatu yang memabukkan. Aku hanya memperlihatkan isi yang ada di plastik hitam lalu mereka menanggapi dengan kecewa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jarum menunjukkan pukul 00.33—angka keberuntunganku, tepat untuk kumasukkan tegukan pertama hingga akhir lalu membiarkan diri berada di bawah pengaruhnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lama. Hingga rahangku menegang dan dua tepi mulutku melorot ke arah kuping. Aku berbaring sambil mendengarkan After Midnight—musik asli yang dibuat oleh musisi kota kembang—sambil melihat benda-benda yang menempel di dinding kamar menggeliat melepaskan diri dari tembok. Mereka melayang-layang kemudian berpendar warna-warni di langit-langit kamar yang hitam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Suara-suara yang aku dengan menjadi benang-benang halus yang masuk ke telinga, lalu menggelitik benda-benda yang melayang di atas sana, termasuk si jam dinding yang berbengkok-bengkok jarumnya. Tik tok tik tok, jarum berdetik mundur ke belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kulihat aku ke luar dari ragaku, menuju satu cahaya jingga. Kulihat taman Fantasmagoria lalu kulihat Dia: Dia yang biasa kutulis dengan ‘d’ besar, Dia juga yang kusebut-sebut kalau aku bersumpah jujur, Dia juga yang pernah kusembah jungkir balik setiap hari, dan Dia juga yang belakangan aku duakan dan lupakan karena alasan keragu-raguan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dia menyentuh kepalaku, memainkan helaian rambutku lalu berujar, “Hai,” katanya terkikik. “Ini aku. Teman yang kau rindukan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aliran panas terasa mengalir di sudut mata, bergelimangan menuju telinga. Hangat sentuhanNya menyajikan film yang diputar balik: tubuh mengecil, memasuki rahim melalui saluran vagina, melingkar di perut, melayang, saluran ovarium, koloni kecebong yang mengerikan, lalu melesat jauh hingga pangkuanNya. Nya—dengan ‘n’ besar. Nya—dengan sesuatu yang absurd namun aku yakin bahwa aku berada di sebuah rumah tak berbentuk dan diri terasa aman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Aku rindu namaku disebut olehmu setiap hari sebelum tidur,” ujarNya bercampuran dengan instrument After Midnight. Dia menjadi tosca, berpadu dengan aku yang merah keruh, kemudian ia pudar. Menghilang. Lalu aku jatuh dalam kegilaan yang nikmat sambil berbisik, “Kita. Satu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mataku terbuka sepenuhnya. Benda-benda sudah tidak melayang, pendaran mulai menghilang. Aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Diam-diam suara adzan Subuh yang samar masuk menembus gordyn gading dan menyesaki kamar. Nadiku, di seluruh badanku, berdenyut hebat—menyadarkan bahwa ia dekat. Ia ada. Dan aku ingin menemuinya sekali lagi: melalui media nyata. Melalui rutinitas jungkir balik pula.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Yuda sialan&lt;/i&gt;—pikirku dalam hati—&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;dia baru memberitahukan tentang titik baliknya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;------&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Cerita hasil latihan &lt;i&gt;writer's circle &lt;/i&gt;tentang spiritualisme yang mengubah seseorang. Cerita ini juga mengantarkan pada transisi ke bulan Ramadhan. Selamat berpuasa semuanya :)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-7879229337283278462?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/7879229337283278462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=7879229337283278462' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7879229337283278462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7879229337283278462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/fantasmagoria.html' title='Fantasmagoria'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-M99_BFSTVBA/TjV6e9gv2PI/AAAAAAAABHU/E74HkfqAFyI/s72-c/Fantasmagoria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3822572076927153061</id><published>2011-07-25T21:46:00.005+07:00</published><updated>2011-07-26T13:13:29.926+07:00</updated><title type='text'>Atraksi Perkotaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Rani menyelempangkan tas dipundaknya, botol air minum sudah ia masukkan, kamera Canon EF lamanya sudah berada di tangan. Sore barulah ia berangkat menyusuri pusat kota Bandung untuk menangkap sesuatu dengan kamera di bawah sinar kuning oranye pukul empat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-QpQaRpoEnWM/Ti5apzXDZEI/AAAAAAAABHE/9B9elMmt7Fs/s320/rani.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633539858095105090" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kini ia berjalan di Asia Afrika, untuk kesekian kalinya. Namun selalu ada hal-hal baru yang ia temui saat melewati gurat-gurat sejarah terbentuknya kota kelahiran Rani. Di jalan ini pernah terjadi awal mula kota terbentuk hingga penuh dengan kobaran si jago merah. Dengan tanganya yang tidak kalah gesit, ia mengambil gambar bangunan art deco yang berjajar. &lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;--ujar Rani--&lt;i&gt;kalau tidak dijajah Belanda, kota ini tidak akan mewariskan apa-apa.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampailah Rani ke jembatan penyebrangan. Sebelum naik, ia melihat beberapa anak main air di Sungai Cikapundung. Mereka semua telanjang dengan warna kulit yang hampir sama dengan warna air sungai, tapi mereka terlihat senang bermain di sungai yang menjadi sumber hidup sekaligus tempat pembuangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Anak-anak itu tersadar, ada satu perempuan muda yang mungkin--menurut mereka--masih kuliah. Tiga anak laki-laki yang berusia sembilan tahun itu memamerkan gigi-giginya saat Rani mengarahkan kameranya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Teh, hayu kadieu, ngeunah siah teh!" ujar salah satu anak yang kepalanya plontos. Rani tersenyum sebelum anak itu melanjutkan, "Kadieu, urang ngentot."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rani terbelalak kaget dengan apa yang didengarnya, terutama setelah melihat anak-anak itu tertawa-tawa sambil mempraktekkan gaya bersenggama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perempuan berambut sebahu ini bergegas naik ke jembatan penyebrangan yang tangganya berliku serta jarak jembatannya lebar. Lebih baik mengambil gambar jalanan ketimbang berlama-lama di pinggir sungai. Saat sampai jembatan, Rani melihat kumpulan orang-orang yang berpakaian lusuh sambil tiduran. Beberapa orang melirik kemudian mengacuhkan. Beberapanya lagi terus mengikuti jalannya Rani.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Switsuiw ... bade kamana, Neng?" tanya salah satu orang sambil beranjak dari tempat ia duduk, mendekati Rani. Rupanya buruk, aroma tubuhnya jelas tidak menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Eh, bade motret, Kang," jawab Rani gugup sambil memegang kamera.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Naha atuh popotoan sagala? Dieu atuh jeung akang." Tangannya mulai menjangkau sikut Rani tapi masih bisa terhindari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Nuhun ah." Rani menunduk, mencoba melewati pemuda yang ada di depannya namun tidak bisa karena pemuda itu menjegal langkah Rani. Teman-temannya, tiga orang pemuda yang tidak kalah buruknya, berdatangan. Mata Rani terasa sumpek melihat pemandangan kumal yang ada di depannya, belum lagi warna-warni tulisan graffiti nama-nama geng motor di dinding jembatan, juga bau yang memuakkan. Rani merasa lidahnya terasa kecut, ia merasa mual.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya ia muntahkan segalanya lewat sisa-sisa makanan yang keluar melalui mulut. Ada sayur bayam yang ia makan tadi pagi, juga ada sambal goreng terong yang belum tercacah sempurna oleh gigi. Baunya tidak kalah asam dengan bau jembatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para pemuda terperangah, terutama saat cipratan muntah terkena kaki mereka. Begitu lengah, Rani langsung lari ke bawah jembatan. Terdengar derap langkah yang mengikutinya. Saat berada di bawah jembatan, Rani segera berlari menghampiri aparat keamanan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Pak, tolong!" ujar Rani.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitu melihat seorang pria yang memakai seragam dengan segala atribut keamanan, pemuda-pemuda itu berhenti dan kembali ke jembatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Kenapa, Neng?" tanya pria setengah baya itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Saya dikejar-kejar, Pak."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Dari jembatan?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Iya."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Oh atuh, pantas saja. Disini mah perempuan sendirian itu tidak aman."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Hah, iya, Pak. Enggak lagi-lagi deh. Makasih ya, Pak." Rani bersiap beranjak pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Eh, tunggu dulu," ujar si polisi. "Ada biaya keamanan, Neng. Sebelum pergi, sepuluh ribu dulu."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hasil latihan menulis Reading Lights Writer's Circle: &lt;a href="http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/07/tenggelam-dalam-masyarakat-urban.html"&gt;Tenggelam dalam Masyarakat Urban.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto oleh Neni Iryani&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3822572076927153061?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3822572076927153061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3822572076927153061' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3822572076927153061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3822572076927153061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/atraksi-perkotaan.html' title='Atraksi Perkotaan'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QpQaRpoEnWM/Ti5apzXDZEI/AAAAAAAABHE/9B9elMmt7Fs/s72-c/rani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8430248596850965031</id><published>2011-07-24T10:57:00.008+07:00</published><updated>2011-08-05T01:17:54.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sebuah foto'/><title type='text'>Kampung Halaman</title><content type='html'>&lt;div&gt;"Silahkan, Mas, mau pakai amplop?" tanya salah seorang pegawai bank sambil menyerahkan buku tabungan dan satu ikat uang biru. Aji Saka mengangguk, meminta amplop dan memasuki uangnya dengan gugup. Di tangannya, terdapat hasil nyata dan bukti kerja kerasnya bertahun-tahun kerja di ibukota. Kini waktunya sudah tiba, ia mau pulang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu buah tas jinjing yang tidak terlalu besar berada di samping kakinya. Sudah sedari tadi ia menunggu bis menuju Subang, kampung halamannya yang sudah ia tinggalkan selama lima tahun. Awalnya ia kepergiannya cukup sulit karena tidak direstui oleh kedua orang tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Bantu ibu dan bapak saja petik teh ya, tidak usah ke kota. Bantu di sini saja ya ..." ujar ibunya dengan nada memohon. Aji Saka biasanya tidak pernah menang dengan nada permohonan ibunya, namun kali ini keinginannya bekerja di kota begitu besar. Ia begitu ingin melihat kehidupan di kota yang kata si Anwar--tetangga sekaligus sahabat kecil--hebat adanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Kalau mau bantu kan ada Rudi, Bu. Dia tenaganya lebih besar dari saya," sergah Aji Saka. Semenjak itu ibu dan ayahnya tahu bahwa keinginan anaknya ini sudah tidak bisa dibendung lagi. Maka, diiringi dengan tangis, kedua orang tuanya memaksa diri untuk merelakan anaknya pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama di kota, Aji Saka sering mengirim wesel kepada orang tuanya. Selain itu surat-surat pun selalu berdatangan secara rutin, hingga lama kelamaan Aji Saka tidak pernah membalas dengan alasan pekerjaan bekerja jadi bawahan usaha orang. Tapi si Aji Saka ini memang baik benar. Berkat bosnya yang tidak membiarkan Aji Saka terlena dengan gemerlap kota, maka kehidupannya menjadi lurus-lurus saja. Ia tidak pernah membelanjakan uangnya dengan sesuatu yang tidak perlu. Ia simpan di dalam bank yang rekeningnya dibuatkan oleh si bosnya itu. "Pikirkan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kamu tidak hidup untuk hari ini, tapi juga besok dan nanti. Simpan uangmu untuk berjaga-jaga," ujar si bos.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maka, lima tahun berlalu, pulanglah Aji Saka ke kampungnya. Dengan bis Bina Bakti yang berangkat dari Terminal Leuwi Panjang, Aji Saka menghabiskan perjalanannya dengan lamunan-lamunan tentang sudah semaju apa kampung halamannya dan penyambutan seperti apa yang akan ia dapat. Berniat membuat sebuah kejutan, ia tidak bilang bahwa ia mau pulang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu sampailah ia di terminal di kampung halamannya, mendapatkan terminal yang kosong. Lalu ia memanggil ojeg, "Serang Panjang, Kang!"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Serius, kang, bade kadinya?" tanya si tukang ojeg mempertanyakan keseriusan Aji Saka untuk pergi ke tempat yang dituju.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Muhun atuh, kunaon kitu?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Ah, teu kunanaon."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maka berangkatlah mereka ke kecamatan Serang Panjang. Semakin lama jumlah orang semakin banyak, hiruk pikuk, penuh dengan tenda-tenda, dan berantakan. Aji Saka meminta agar ojeg tidak berhenti karena rumahnya belum masih harus ditempuh dengan jalan kaki. Tukang ojeg tidak mau, ia memilih berhenti di lapangan di dekat rumah camat yang dijadikan pengungsi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aji Saka awas dengan keadaan sekitar yang berbeda dari biasanya dimana orang-orang menunjukkan wajah cemas: mata yang liar, dahi yang berkerut-kerut, dan badan yang bergerak tidak menentu. Sesuatu telah terjadi di sini. Maka dengan buru-buru, ia berlari ke rumahnya dan menemukan hamparan tanah basah yang kosong yang seharusnya &lt;i&gt;di situ&lt;/i&gt; ada puluhan rumah tetangganya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/__gqppLvvgs4/S_6XsnqPQqI/AAAAAAAAAU0/PH4V-ggigpc/s1600/01.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 435px; height: 325px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__gqppLvvgs4/S_6XsnqPQqI/AAAAAAAAAU0/PH4V-ggigpc/s1600/01.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/__gqppLvvgs4/S_6YCjMxYKI/AAAAAAAAAVE/bE7td3DkF_8/s1600/03.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 435px; height: 325px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__gqppLvvgs4/S_6YCjMxYKI/AAAAAAAAAVE/bE7td3DkF_8/s1600/03.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu dicari-cari lagi posisi rumahnya hingga ia menemukan kerangka rumah kosong amat dikenalinya. Tempat ini pernah ia tinggal lima tahun yang lalu. Harusnya &lt;i&gt;di situ &lt;/i&gt;juga ada ibu dan bapak yang menyambutnya. Dan ada Rudi yang mungkin memukul kepalanya karena telah membiarkan adiknya membantu kedua orang tuanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Astagfirullah ... Kang Aji, baru datang?" tanya salah seorang warga sambil menepuk bahu Aji Saka. Dia adalah Pak Soni, tetangganya. Ekspresi mukanya menunjukkan wajah prihatin. Tangannya enggan berpindah dari bahu Aji, seolah-olah siap untuk menopang si pemilik bahu jika tiba-tiba jatuh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Dimana ibu dan bapak saya, Pak? Mereka aman? Rudi? Ini kenapa? Longsor?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alih-alih menjawab, Pak Soni langsung memeluk Aji Saka. Diiringi tangis, Pak Soni menyatakan dukanya. Aji Saka terdiam, tas ditangannya terjatuh tanpa ia sadari, sementara matanya yang nanar tidak pernah lepas dari rumah itu. Lima tahun memori telah membangkainya kini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nama tokoh, tempat, dan kejadian dari cerita di atas adalah cerita fiksi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto oleh &lt;a href="http://ulistomasulistomas.blogspot.com/"&gt;Julius Tomasowa&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8430248596850965031?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8430248596850965031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8430248596850965031' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8430248596850965031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8430248596850965031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/kampung-halaman.html' title='Kampung Halaman'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__gqppLvvgs4/S_6XsnqPQqI/AAAAAAAAAU0/PH4V-ggigpc/s72-c/01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-9149585021943793045</id><published>2011-07-22T23:07:00.001+07:00</published><updated>2011-07-23T22:26:06.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agenda'/><title type='text'>Distraksi dan Never Say Old: Friday Market</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dSOtzm6W-CY/Tirn-EGpgJI/AAAAAAAABG8/_9-9TeohTck/s1600/event2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dSOtzm6W-CY/Tirn-EGpgJI/AAAAAAAABG8/_9-9TeohTck/s400/event2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632569337419759762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4MIG2UD23w0/TimgVCFfYII/AAAAAAAABG0/LjYcHQEfdYc/s1600/event.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 282px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-4MIG2UD23w0/TimgVCFfYII/AAAAAAAABG0/LjYcHQEfdYc/s400/event.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632209092201111682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-9149585021943793045?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/9149585021943793045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=9149585021943793045' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/9149585021943793045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/9149585021943793045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/never-say-old-friday-market.html' title='Distraksi dan Never Say Old: Friday Market'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dSOtzm6W-CY/Tirn-EGpgJI/AAAAAAAABG8/_9-9TeohTck/s72-c/event2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-4325257079008390174</id><published>2011-07-21T13:50:00.005+07:00</published><updated>2011-07-21T14:35:55.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Merayakan Kesehatan</title><content type='html'>Hari Minggu (17/07), ibu saya didiagnosis stroke ringan. Badannya masih fungsional, hanya bagian muka yang lumpuh. Strokenya diakibatkan oleh hipertensi. Tekanan darahnya sampai 220! Ahk, memang penyakit keluarga ini. Selain diabetes dan kolesterol, beberapa keluarga saya pernah terserang penyakit ini. Bahkan kakek saya meninggal karenanya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara keturunan, saya membawa penyakit-penyakit berat. Tidak apa-apalah, yang penting mental selalu sehat :D&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demi menjaga tensi ibu, kami memberi makanan yang bebas garam. Artinya, makanan yang diberikan selama ini adalah makanan rebus seperti waluh rebus, tahu rebus, dan lainnya. Jangankan makan, ia sulit menelan minuman. Tapi tetap saya beri jus buah segar seperti semangka dan lainnya. Untuk tambahan penurun tensi, ibu saya diberi sirih merah. Selama makan obat dan makan-makanan biasa, tensinya selalu saya monitoring.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama menjaga ibu sakit, saya mendapatkan banyak bantuan berupa perhatian. Senangnya menyadari bahwa ibu saya disayangi banyak orang yaitu keluarga dan bahkan teman-teman saya. Banyak yang mendoakan atas kesembuhannya. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sedikit membahas perihal saya &lt;i&gt;resign &lt;/i&gt;dari kerjaan, hal ini seolah-olah sudah ditakdirkan: saya berhenti kerja, ibu saya sakit, maka saya punya waktu penuh untuk menjaganya. &lt;i&gt;Hmm ... well, whatever.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tadi pagi (20/07), saya antarkan ibu berobat di salah satu klinik di Jalan Supratman. Di sana, ibu saya diakupuntur (ditusuk jarum) sambil disetrum. Saya ke sana atas rekomendasi rekan keluarga yang pernah menderita stroke berat tapi bisa sembuh karena akupuntur. Maka, berbekal usaha dan doa, pergilah saya ke sana. Sebelumnya tensi diukur dan dokternya bilang tensi ibu saya 130/80. Baguslah, satu persatu dulu yang disembuhkan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya tidak melihat proses setrumnya karena saya diminta tunggu diluar. Di ruang tunggu, saya banyak melihat orang-orang sakit. Ada satu orang bapak muda yang jalannya tertatih-tatih. Entah sakit apa, yang jelas mukanya seperti menahan nyeri. Dia datang beserta istri dan anaknya yang masih kecil. Anaknya rewel dan istrinya minta pengertian kepada anaknya agar diam. Harusnya di usia yang produktif seperti itu, sang ayah bisa bekerja dan terutama menikmati indahnya bermain bersama anak dan istri. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu ada beberapa orang tua yang memakai kursi roda sehingga harus ditatih saat berjalan oleh anaknya, ada juga yang memakai tongkat, ada seorang perempuan muda yang sepertinya &lt;i&gt;under weight&lt;/i&gt; dan jalannya seperti orang belajar jalan. Selain itu ada juga seorang ibu yang membayar di kasir sampai harganya ratusan ribu rupiah. Mungkin di tempat lain ada yang membayar hingga jutaan, belasan jutaan, dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-OIOH2VPPmJA/TifVKeCwP2I/AAAAAAAABGs/M1YuX99WnVk/s200/celebration-by-mallett.jpg" style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 149px; height: 200px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631704234890116962" /&gt;&lt;div&gt;Lagi-lagi saya menyadari bahwa kesehatan itu harganya mahal, baik secara biaya maupun waktu dan kualitas hidup yang terbuang. Merasakan tubuh yang sakit tentu saja tidak enak. Kadang saya ingin sakit agar bisa lari dari pekerjaan. Namun saat saya benar-benar sakit, saya malah ingin sembuh. Karena hanya dengan sehat, saya bisa eksplorasi kesana kemari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jaga kesehatan, wahai pembaca. Makanlah makanan-makanan yang sehat, rajin berolahraga, dan rayakan kesehatan selama kita masih punya! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-4325257079008390174?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/4325257079008390174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=4325257079008390174' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4325257079008390174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4325257079008390174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/merayakan-kesehatan.html' title='Merayakan Kesehatan'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-OIOH2VPPmJA/TifVKeCwP2I/AAAAAAAABGs/M1YuX99WnVk/s72-c/celebration-by-mallett.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1675066624170861839</id><published>2011-07-20T16:47:00.004+07:00</published><updated>2011-07-21T11:47:57.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita sebuah foto'/><title type='text'>Pengamat Bisu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0XNh9ENzpis/TiamCIAkoNI/AAAAAAAABGc/SsylWGoBj8k/s1600/5.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0XNh9ENzpis/TiamCIAkoNI/AAAAAAAABGc/SsylWGoBj8k/s400/5.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631370939513217234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-12kDHb9sa0E/TiamCP_wfOI/AAAAAAAABGU/wRbA_pl_tDE/s1600/4.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-12kDHb9sa0E/TiamCP_wfOI/AAAAAAAABGU/wRbA_pl_tDE/s400/4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631370941657283810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mbitZS5CU0w/TiamB238zkI/AAAAAAAABGM/jkgntRwqTdk/s1600/2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 286px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-mbitZS5CU0w/TiamB238zkI/AAAAAAAABGM/jkgntRwqTdk/s400/2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631370934913650242" /&gt;&lt;/a&gt;Mereka pasti suka merasakan kehadiranmu saat kamu sering berkunjung ke sana. Awalnya pasti mereka mereka juga mengintaimu, memperhatikan gerak-gerikmu, atau membaui aroma tubuhmu. Lalu setelah terbiasa, mereka merelakan rumputnya kamu tiduri, meminta dedaunan pohon minggir sebentar agar matahari menyinarimu, dan bersuka cita saat angin membelaimu. Karena saat itu kamu akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merasakan aroma tanah basah karena hujan semalaman.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka suka kamu. Saya iri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kini taman tidak sama saat awal kamu datang. Mereka dan saya sama-sama kehilangan saat kamu harus pergi ke negeri seberang. Saya mendengar rumput-rumput yang tersedu, bangku-bangku rindu untuk diduduki, ayunan yang lesu, dan angin yang berbisik meminta kamu pulang. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto oleh: Julius Tomasowa&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1675066624170861839?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1675066624170861839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1675066624170861839' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1675066624170861839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1675066624170861839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/pengamat-bisu.html' title='Pengamat Bisu'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0XNh9ENzpis/TiamCIAkoNI/AAAAAAAABGc/SsylWGoBj8k/s72-c/5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-7768135954962322543</id><published>2011-07-15T18:04:00.022+07:00</published><updated>2011-07-16T15:22:22.817+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Telusur Sempu, Bale Kambang, dan Bromo</title><content type='html'>Teman menulis saya yang bernama Mayang, akrab dipanggil Mae, memberi tahu bahwa ia akan ke Bromo dan Sempu di catatan Facebook-nya. Tanggalnya tertulis 10-15 Juli 2011. &lt;i&gt;Bagus&lt;/i&gt;--pikir saya dalam hati. Selain liburan sekolah sudah usai, saya mau merayakan liburan di hari kerja. Lagipula, sudah lama saya ingin mengunjungi kedua tempat itu.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak hanya saya, tapi teman-temannya Mae juga ikut. Teman-temannya Mae juga bawa teman-teman. Belum lagi satu orang dari CouchSurfing. Jadi, kesimpulannya, saya pergi tanpa mengenal dengan siapa saya akan pergi. Lalu Mae menitipkan nomer kontak mereka semua dan saya menghubungi mereka untuk memberi tahu bagaimana teknis ketemuannya nanti. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di stasiun saya bertemu di Mimi, Fiersa, Andi, Bogel, Caesar, Prisi, Agung, Roni, dan Wisnu. Total jendral ada 10 orang, belum lagi teman-teman CouchSurfing yang kami temui di Malang. Kami naik kereta Malabar jurusan Bandung-Malang seharga Rp135.000,- Kami berangkat pukul setengah empat sore hingga delapan pagi. Selama di kereta, kami saling mengenal, main kartu, tidur, makan, tes IQ, tebak-tebakan garing, lalu tidur lagi sampai berminyak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Destinasi pertama adalah Pulau Sempu. Kami diturunkan di Teluk Semut dan harus berjalan melalui pantai yang berlumpur. Dari sekian banyak spot di Pulau Sempu, kami menuju ke Segara Anakan. Di sana terdapat air laut yang dikepung oleh daratan dan karang. Sedikit mengingatkan pada Phi Phi Island--tempat syutingnya Leonardo Di Caprio dalam film &lt;i&gt;The Beach&lt;/i&gt;. Selain itu karena sulitnya medan menuju tempat Segara Anakan, membuat tempat ini seperti pantai pribadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-j4zkMdXpdlY/TiBEWcgnb6I/AAAAAAAABEU/efCtbefcgys/s1600/1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-j4zkMdXpdlY/TiBEWcgnb6I/AAAAAAAABEU/efCtbefcgys/s320/1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629574686613925794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menyusuri pantai yang berlumur sambil membawa barang. Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jalanan yang berlumpur, licin, penuh dengan akar dan bebatuan harus dilalui selama dua jam dengan jalan kaki. Kalau musim hujan, jalanan ini bisa dilalui selama empat jam! Belum lagi jalan setapak yang curam dan terjal di pinggir pantai. Selain itu Sempu masih berupa hutan yang penuh dengan monyet karena ini adalah cagar alam, bukan tempat wisata yang berisikan warung, jalanan beraspal, penginapan, atau wc umum.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Omong-omong tentang penginapan dan wc umum, kami mendirikan tiga tenda. Kalau mau BAB atau BAK, silahkan memilih semak-semak terdekat untuk menggali lubang. Kalau mau makan, silahkan bakar ikan yang dibeli dari pelabuhan Sendang Biru di Pulau Jawa dengan menggunakan api unggun. Ini betul-betul sebuah petualangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9S6HEnb7v6I/TiBGmCfzGnI/AAAAAAAABFs/aWnTDOeoYUA/s1600/13.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9S6HEnb7v6I/TiBGmCfzGnI/AAAAAAAABFs/aWnTDOeoYUA/s320/13.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629577153532336754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Mae beli ikan di pasar ikan Sendang Biru. Harga mulai Rp10.000,-/kg&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-oiIwGI4qCww/TiBFs1MgfKI/AAAAAAAABFE/u31frST6oSI/s1600/7.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-oiIwGI4qCww/TiBFs1MgfKI/AAAAAAAABFE/u31frST6oSI/s320/7.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629576170709220514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Bakar ikan di atas api yang tidak kunjung menyala. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya, Mimi, Mae, Agung, Roni, Wisnu, Fiersa, dan Caesar memberanikan diri untuk naik ke atas karang yang paling tinggi untuk mendapatkan gambaran Segara Anakan secara keseluruhan. Di atas sana, kami bisa melihat liarnya deru ombak Samudra Hindia yang memecah karang. Jalan menuju atas sangat sulit, terutama saat bagian jalan tertutup dengan batu. Salut dengan teman-teman yang membawa tripod dan kamera.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-mZ0OWEf7aTc/TiBDAQnJ0AI/AAAAAAAABEM/pyXG0m7e3ys/s1600/15.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-mZ0OWEf7aTc/TiBDAQnJ0AI/AAAAAAAABEM/pyXG0m7e3ys/s320/15.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629573205951369218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Two personalities of Sempu. I bet she's a Geminian ;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-s37QTsQDkFQ/TiBDAE_OojI/AAAAAAAABEE/7uaS-vIt70U/s1600/14.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-s37QTsQDkFQ/TiBDAE_OojI/AAAAAAAABEE/7uaS-vIt70U/s320/14.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629573202831122994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Gambar aslinya harusnya lebih bagus. Ini kameranya yang jelek.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pE3_VOgJ5g0/TiBDAEbeL4I/AAAAAAAABD8/0yheSoyUZ5k/s1600/8.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-pE3_VOgJ5g0/TiBDAEbeL4I/AAAAAAAABD8/0yheSoyUZ5k/s320/8.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629573202681147266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tempat kemah dari puncak karang. Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sempu adalah surga yang tersembunyi sekaligus si cantik yang berbahaya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah dari Sempu, kami istirahat di rumah makan dan mandi di kamar mandi umum. Setelah itu, kami langsung menuju Bale Kambang--pantai yang jaraknya sangat jauh dari Pulau Sempu. Jalannya beraspal namun berkelok dan kiri kanan jalan dipenuhi dengan ladang jagung atau rimbun pepohonan. Sampai pukul lima sore, kami mendapatkan pantai wisata yang sepi,  cuaca mendung, dan tidak mendapatkan &lt;i&gt;sunset&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bale Kambang rupanya sama seperti pantai-pantai selatan lainnya: ombak besar sehingga tidak bisa berenang. Mungkin bedanya adalah di sini ada pura di atas karang yang harus ditempuh dengan menggunakan jembatan. Sedikit mengingatkan pada Tanah Lot-nya Bali.  Selain itu pantai ini beraroma mistis yang sangat kental sehingga Mae berkali-kali mengingatkan agar kami tidak berbicara sembarangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Misalnya saat kami menuju pura, Fiersa bersumpah serapah karena blitz kameranya tidak menyala. Langsung setelah bersumpah serapah, blitz kamera langsung menyala dan memotret orbs yang ada dikisaran pura. Setelah ia mencoba blitznya di rumah makan, alatnya berfungsi seperti biasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah makan, beberapa orang teman ingin ke kamar mandi. Pemilik warung makan memberikan kami lampu minyak. Ternyata kamar mandi umumnya tidak ada lampu dan gelap gulita. Ditemani oleh teman laki-laki, saya mengurungkan niat untuk ke kamar mandi. Entah kenapa, suasana terasa &lt;i&gt;spooky&lt;/i&gt;. Bale Kambang rasanya seperti pantai mati. Selain tidak ada lampu jalan dan suasana sepi, warung-warung di sana pun tutup. Apa karena bukan musim liburan? Beruntung, kami hanya sebentar di sini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pukul setengah dua pagi, kami dibangunkan untuk pergi ke Bromo. Agung, Wisnu, dan Roni tidak ikut karena mereka akan lanjut ke Rinjani. Beberapa teman sudah panik karena kami baru berangkat pukul setengah tiga dan takut ketinggalan &lt;i&gt;sunrise&lt;/i&gt;. Belum lagi supir mobil sewaan sempat tersesat di dalam kompleks perumahan yang terlalu banyak diportal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekitar pukul setengah lima, kami sampai di Bromo. Begitu keluar dari mobil, udara dingin langsung menggigit. Saya dan teman-teman sudah menyiapkan jaket tebal. Beberapa ada yang membawa sarung tangan dan topi rajutan (kupluk). Saya tidak bisa membayangkan orang-orang yang bekerja di sekitaran gunung ini karena suasanya dingin sekali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kabar burung memberi tahu kalau suhu gunung ini adalah 5 derajat. Tapi, begitu matahari sudah muncul, udara panas adanya (lepas jaket sangat memungkinkan). Jadi, kalau ada yang menawarkan sarung tangan atau kupluk, tidak usah panik untuk membeli karena nanti udaranya akan panas sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dua mobil Jeep datang bergantian. Kloter pertama adalah para fotografer yang mengejar sunset. Kloter kedua adalah tim penggembira yang senang-senang saja melihat sunset dari dalam mobil yaitu saya, Mimi, Prisi, dan Andi. Di perjalanan, kami melihat sekumpulan anak yang mau sekolah hanya memakai baju seragam saja dan berdiri di atas mobil sambil berpegangan. Apa? Mereka sudah terbiasa kali ya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8MQRe5r5nHk/TiBEoiVeA9I/AAAAAAAABEc/0pQ0FfDjBX8/s1600/2.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-8MQRe5r5nHk/TiBEoiVeA9I/AAAAAAAABEc/0pQ0FfDjBX8/s320/2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629574997415429074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Tim penggembira. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bromo sungguh indah luar biasa. Melihatnya saja seolah-olah Bromo bukanlah pemandangan yang nyata tapi seperti tempelan &lt;i&gt;wallpaper&lt;/i&gt;. Padang pasir di sekitar Bromo itu berkabut, membuat ilusi bahwa Bromo dikelilingi lautan air yang sangat putih. Selain itu semburat warna kuning dan oranye muncul di timur, membawa kesan hangat pada Bromo yang terus mengeluarkan asap. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-lmzrzXMt_xI/TiBHKryEbaI/AAAAAAAABF0/N-eODrQxhL4/s1600/14.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-lmzrzXMt_xI/TiBHKryEbaI/AAAAAAAABF0/N-eODrQxhL4/s320/14.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629577783090113954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Bromo bermandikan cahaya mentari pagi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4UOd4ZLVtfY/TiBGJsnvJfI/AAAAAAAABFU/yTWFs-xczPs/s1600/10.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4UOd4ZLVtfY/TiBGJsnvJfI/AAAAAAAABFU/yTWFs-xczPs/s320/10.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629576666623714802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;God do exist and God is truly artist.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena terlalu lama santai-santai di atas, kami disusul oleh supir Jeep untuk segera ke padang pasir karena kalau terlalu siang, pasirnya akan naik (oleh angin). Sampai di sana banyak orang yang menawarkan jasa berkuda hingga tangga menuju kawah Bromo. Melihat para penunggang kuda ini sungguh keren. Padang pasir, sarung yang menyerupai jubah, pasir yang membuat mereka samar, membuat para penunggang kuda ini seperti orang-orang misterius dari antah berantah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-a6g9hWaZXqA/TiBHYuMJ_OI/AAAAAAAABF8/iFTlu9CDRls/s1600/15.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-a6g9hWaZXqA/TiBHYuMJ_OI/AAAAAAAABF8/iFTlu9CDRls/s320/15.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629578024254569698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Melihat medan menuju kawah Bromo yang juga melelahkan, beberapa orang teman memutuskan untuk tidak ikut. Saya bersikukuh ingin ke atas karena sayang rasanya jika sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak sampai puncak Bromo. Mimi, Mae, Caesar, dan Prisi juga ikut ke atas. Kami berjalan kaki kemudian menaiki tangga Bromo yang tertutup pasir pasca erupsi di bulan Januari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menuju ke puncak Bromo, kami diiringi oleh angin yang membawa pasir. Kacamata dan masker sungguh membantu agar tidak banyak kelilipan atau menghisap pasir. Karena banyaknya pasir, terkadang pengelihatan di depan menjadi begitu samar dan jarak pandang hanya tersisa beberapa meter saja. Tangga yang dipenuhi pasir yang rentan longsor pun membuat kami harus merangkak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai di bibir kawah yang penuh dengan asap dan lautan pasir yang membutakan jarak pandang mata, saya hanya bisa mengintip sebentar karena jarak pijak di bibir kawah hanya sedikit. Kalau terlalu dekat, alih-alih tanah bisa longsor dan kita bisa masuk ke kawah. Belum lagi pegangan yang sudah hilang karena tertutup pasir. Tidak ada waktu untuk foto-foto pula karena sibuk pegangan tanah agar tidak terjatuh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat turun pun cukup mengerikan karena kami berada 2392 meter di atas permukaan laut. Prisi sempat menangis karena ia takut dengan ketinggian. Beruntung Caesar bisa menenangkannya. Tangga yang penuh pasir dan tidak memungkinkan untuk dipijak juga harus dilalui dengan cara serodotan. Saya membuka jalan, Mae berada di belakang saya, Mimi berikutnya, lalu Caesar dan Prisi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-yp-SPmlwBmo/TiBFCHUXtTI/AAAAAAAABEs/5Op4PsLEpew/s320/4.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629575436839662898" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ketinggian dan anginnya membuat kami mati gaya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-AAJO_bf3-ww/TiBFCL6NfMI/AAAAAAAABEk/3Qjhp6ogXpc/s320/3.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629575438072118466" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Perjuangan menuju bibir kawah. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-GHUsO8bxuUo/TiBFCR5xdsI/AAAAAAAABE0/Qvypkb9JJzs/s320/5.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629575439680894658" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Km7mcTyk9s4/TiBFXWeGzZI/AAAAAAAABE8/At57DNt6_40/s1600/6.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Km7mcTyk9s4/TiBFXWeGzZI/AAAAAAAABE8/At57DNt6_40/s320/6.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629575801684282770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gItQ38DCshI/TiBGaPukWgI/AAAAAAAABFk/HgKxvQVVGz4/s1600/12.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-gItQ38DCshI/TiBGaPukWgI/AAAAAAAABFk/HgKxvQVVGz4/s320/12.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629576950925515266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7EQMAuGlSBE/TiBGZ7uciiI/AAAAAAAABFc/1VXlXxilLlw/s1600/11.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7EQMAuGlSBE/TiBGZ7uciiI/AAAAAAAABFc/1VXlXxilLlw/s320/11.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629576945556294178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Mae di antara debu. Kesulitan menuju bawah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai di bawah, kami ditertawakan oleh penduduk sekitar karena wajah kami yang sudah tidak karuan: rambut keabuan karena pasir dan acak-acakkan, wajah yang menghitam dan hanya putih di sekitar mata. Kami membalasnya dengan tawa karena saat saling melihat wajah kami, memang terlihat bodoh adanya. Tapi kami bangga karena ini adalah bukti dari pengalaman yang tidak ternilai harganya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Di Malang, kami menginap di rumah teman Couch Surfingnya Mae. Rumahnya di daerah Singosari, jauh dari kota Malang. Saat malam, kami mencari makan ke daerah kota dan makan di ayam goreng Mbok Jayus (kalau tidak salah). Agaknya teman-teman sedikit bete karena sempat salah angkutan dan harus jalan kaki jauh sekali. Belum lagi tempat duduk yang dioper kesana kemari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Malang ini mirip Bandung. Udaranya dingin, tidak panas seperti Probolinggo atau Surabaya. Saya juga suka suasananya. Tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi pula. Ini mengingatkan pada Solo dan Jogja. Saya pikir saya tidak akan masalah jika saya harus tinggal lama-lama di sana.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berbeda dengan kereta yang kami naiki saat menuju Malang, pulangnya kami memutuskan naik kereta ekonomi dari Kediri seharga Rp17.000,-. Bis antar kota dari Malang ke Kediri ini dijejalkan banyak orang sampai mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Beruntung saya dan teman-teman dapat tempat duduk. Caesar bahkan sempat memangku anak kecil yang digendong ibunya sambil berdiri karena tidak dapat tempat duduk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di Blitar, kami menemukan daerah seperti Puncak. Jalanan berkelok, pepohonan, dan udara yang segar. Bahkan Mae dan Prisi sempat melihat laut dibalik rimbunnya pepohonan. Katanya lautnya tenang dan tidak berombak. Saya sendiri tidak lihat karena sibuk tertidur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai di Kediri, waktu semakin menipis karena sebentar lagi kereta sudah mau berangkat dan angkutan sudah jarang. Apalagi kami belum makan pagi dan makan siang. Akhirnya kami memakai becak. Sampai di stasiun, kami berbagi tugas. Ada yang membeli tiket, ada yang menjaga tas, dan ada yang membeli makanan. Total perjalanan dari Malang-Kediri-Bandung sekitar 70.000, jauh lebih murah dari ongkos keberangkatan :)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama perjalanan menuju Bandung, kami bercerita banyak hal. Caesar menceritakan pengalamannya mendaki 8 gunung besar di Indonesia, aktivitasnya sebagai pencinta alam, pengalamannya ditinggal satu minggu di hutan, sampai pengalaman sentimentil dimana ia harus kehilangan temannya saat mendaki tebing di Citatah. Fiersa sibuk menceritakan teori konspirasi Einstein, Prisi sibuk mempraktekkan gaya hantu, Mae banyak tidur. Saya sibuk memberi konsultasi psikologis dengan asumsi tanpa dasar tapi mereka percaya-percaya saja. Mimi sempat terganggu dengan pedagang yang hilir mudik dan menawarkan setiap menit. Saya tidak bohong, betul-betul setiap menit! Karena banyak orang yang hilir mudik dan mencurigakan, kami tidur gantian. Tapi saat saya kebagian shift tidur, tetap saja tidak bisa nyenyak karena bangku kereta yang sangat tegak dan kepala bisa jatuh kapan saja. &lt;i&gt;Phew. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maka, di pukul lima pagi, sampailah kami di stasiun Kiara Condong. Di sana kami berpisah. Mimi dan Mae naik lagi kereta menuju stasiun Bandung, Fiersa, Caesar, dan Prisi lanjut ke rumah masing-masing, dan saya pulang. Iya, saya pulang. Saya pulang menuju kamar 3x3 meter yang saya tinggal selama lima hari berpetualang bersama teman-teman yang menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Sps-P4xo-HI/TiBF54Kk9MI/AAAAAAAABFM/tAhYbqAG6nE/s1600/9.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Sps-P4xo-HI/TiBF54Kk9MI/AAAAAAAABFM/tAhYbqAG6nE/s320/9.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629576394844730562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Travelmate.&lt;i&gt; Arah jarum jam: Wisnu, Fiersa, Mae, Nana, Arga, Icha, Bogel, Caesar, Prisi, saya, Roni, Mimi, Agung, dan Andi. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mimi.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dunia ini luas dan ini adalah karunia Tuhan. Eksplorasilah selama kita memiliki usia, rezeki, kesehatan, dan kebebasan. :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-7768135954962322543?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/7768135954962322543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=7768135954962322543' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7768135954962322543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7768135954962322543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/telusur-sempu-bale-kambang-dan-bromo.html' title='Telusur Sempu, Bale Kambang, dan Bromo'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-j4zkMdXpdlY/TiBEWcgnb6I/AAAAAAAABEU/efCtbefcgys/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-596577519385001821</id><published>2011-07-07T20:37:00.004+07:00</published><updated>2011-07-07T20:47:55.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review tokoh'/><title type='text'>Nia Janiar Saja</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rzryQ91LPDY/ThW3dEJ9lkI/AAAAAAAABD0/kd0yIKZjlGI/s1600/niaa.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rzryQ91LPDY/ThW3dEJ9lkI/AAAAAAAABD0/kd0yIKZjlGI/s200/niaa.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626605019428918850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mungkin begitu menurut William Shakespeare, lain lagi menurut sang empunya nama Nia Janiar. Nama yang awalnya begitu dia hindari, kini menjadi miliknya yang begitu dibanggakan. “Karena identitas penting buat saya.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bahkan untuk karya-karya tulisnya, dia tidak menggunakan nama samaran atau nama pena. Karena namanya sudah seperti nama seorang penulis, menurut temannya yang sempat mempertanyakan keengganannya menggunakan nama Janiar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Janiar yang hampir menjadi Janiar saja tanpa Nia, berasal dari nama kerabat ibunya. Nama seorang dari Padang yang pintar. Ingin anaknya menjadi pintar juga, maka Janiar ditorehkan dalam salah satu akte lahir yang terdaftar di Bandung. Tepatnya 27 Januari 1987. Tapi Janiar yang satu ini diawali dengan Nia, panggilan akrabnya sampai sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam hitungan hari Nia akan mengakhiri pekerjaan yang sudah dilakoni selama dua setengah tahun. Menjadi guru sekolah dasar untuk anak-anak berkebutuhan khusus. “Masih pengen sama Bu Nia ...” rengek salah seorang muridnya yang &lt;i&gt;dyslexia &lt;/i&gt;dan sudah terlanjur dekat. Tentunya berat memutuskan berhenti di dunia itu untuk  mengejar mimpinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mimpi menjadi seorang penulis. Tidak bisa tidak. Beberapa mimpinya sudah pernah dilupakan dan tidak dijabani. Tapi tidak yang ini, putusnya. Walau orang-orang sekitarnya banyak menentang. Masih dengan anggapan bahwa menjadi penulis bakalan susah, banyak diragukan terutama masalah penghasilan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tumbuh besar tanpa figur seorang ayah sempat mempengaruhi karya tulis fiksinya. Sempat menjadikannya sosok yang tertutup dan bersikap negatif terhadap banyak hal. Tapi keputusannya untuk memilih kuliah di UPI jurusan Psikologi membantu melepasnya dari sosok yang dulu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Justru waktu kuliah saya menemukan minat menulis, menemukan diri dan berobat diri.” Bayangan Nia Janiar yang tertutup dan negatif tidak pernah terbersit dari beberapa pertemuan saya dengannya. Yang ada Nia Janiar yang bisa dengan mudah berbaur dengan orang, bisa dengan enteng dan penuh tawa menanggapi banyak hal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diskusi adalah salah satu hobinya di antara sekian banyak kesukaannya yang lain. Beberapa komunitas diikutinya seperti Reading Lights Writer’s Circle, KlabKlasik Tobucil dan juga National Geographic Forum Regional Bandung. “Semua representasi kegemaran saya. Semua adalah seni, seperti juga menulis adalah seni bagi saya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Awalnya penggemar Dewi Lestari, Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono ini lebih suka menulis fiksi dan bercita-cita membuat novel. Tapi dengan hobi &lt;i&gt;travelling&lt;/i&gt;-nya Nia mulai menulis kisah perjalanan tidak dalam bentuk fiksi. Untuk memperkuat cara penulisannya, dia memilih untuk bergabung di Kelas Penulisan Feature (Non Fiksi) di Tobucil yang dipandu oleh tiga orang jurnalis sekaligus. “Kepingin jadi jurnalis,” aku Nia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sore itu Nia datang dengan senyum di wajahnya. Rambut sebahu yang bergelombang dibiar tergerai, diselipkan di kedua belah telinganya. Baju merah berkerah dipadunya dengan rok batik warna warni. Dibawanya wadah laptop yang juga bercorak batik warna warni. Memancarkan keceriaan dan menyiratkan kesukaannya akan hal yang tradisional.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kagum dengan orang Jawa katanya. Karena suka dengan filosofi mereka dan suka orang yang dekat dengan budayanya. Bahkan ingin cari suami yang orang Jawa dengan nama bagus di belakangnya. “Supaya nama belakang saya tambah bagus” kata Nia sambil tertawa terbahak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nia Janiar, dengan tambahan nama Jawa atau apapun di belakangnya atau Nia Janiar saja, &lt;i&gt;by any other name would smell as sweet. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bandung, 24 Juni 2011&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;---------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di atas adalah hasil latihan menulis &lt;i&gt;profile feature &lt;/i&gt;karya Mbak Jessisca Fam yang diposting di blog saya belum dengan izin. Latihan menulis &lt;i&gt;profile&lt;/i&gt; &lt;i&gt;feature&lt;/i&gt; itu adalah kami saling menulis para anggota pelatihan menulis (saya menulis tentang Pitra Moeis)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari semua hal yang saya ceritakan, ia menulis ini, dan saya bersyukur atasnya. Dengan disimpannya tulisan di blog ini, mudah-mudahan Mbak Jessis tidak keberatan :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-596577519385001821?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/596577519385001821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=596577519385001821' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/596577519385001821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/596577519385001821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/nia-janiar-saja.html' title='Nia Janiar Saja'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rzryQ91LPDY/ThW3dEJ9lkI/AAAAAAAABD0/kd0yIKZjlGI/s72-c/niaa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5276288733519837914</id><published>2011-07-06T10:11:00.003+07:00</published><updated>2011-07-06T10:41:22.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Fobia dan Saya</title><content type='html'>&lt;div&gt;Teman menulis saya, &lt;a href="http://lilalily.blogspot.com/"&gt;Neni Iryani&lt;/a&gt;, seringkali menulis puisi akhir-akhir ini. Dari semua puisi yang dibuatnya, saya lebih suka puisi-puisinya yang berbahasa Inggris karena lebih representatif. Tidak hanya membuat puisi, ia juga membuat cerita pendek (&lt;i&gt;flash fiction&lt;/i&gt;). Dari semua cerita pendeknya, saya paling suka cerita yang akan saya bagikan di bawah ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum baca karyanya tentang perempuan yang rela mengatasi fobianya untuk mendapatkan orang terkasih, saya mau bercerita sebentar. Ceritanya berhubungan dengan cerita yang akan saya bagi, saya janji. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemarin, saya menonton film proses terjadinya Danau Kelimutu pada gunung berapi yang ada di Flores. Di film tersebut, diperlihatkan danau dengan tiga warna: hijau, merah hati, dan hitam. Salah satu danaunya yang berwarna hijau memiliki kedalaman 125 meter. Airnya sangat asam dan tidak boleh terkena kulit. Dindingnya sangat terjal dan mudah longsor. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mendengar pernjelasan itu, saya membayangkan diri saya menginjak sisi dinding, lalu terperosok, lalu masuk ke dalam air asam yang dalam. Saya merinding, perut saya bergejolak, kepala saya pusing. Membayangkannya saja tidak mampu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ah, baca saja cerita di bawah. Kau akan tahu apa maksudnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;My Phobia and You&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yes we know exactly that I'm phobia of heights. Acrophobia, they call it. So, it's not a secret that I will avoid doing anything which will trigger my phobia. I hate balcony. I avoid looking through the window glass from a room in a second floor, not to mention in a 13th floor and so on. There's no strange that I hate apartment. I prefer spending more hours trip by bus to travelling by airplane. That's why I've never gone that far, unlike you, the most adventurous man and passionate backpacker I've ever known. Maybe, this is one reason of why I fall in love with you. People say we tend to fall in love with ourselves that we see in others, but apart from that we tend also to fall in love with someone who will complete us as persons.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;I don't know where you are right now. The last postcard I received from you telling me that you are somewhere in Asia. You said you fall in love to the beautiful scenery around you, the fresh air, the singing of birds you hear every morning, the tropical atmosphere, the local ladies, etc. You even wished that you could live there with me for the rest of your life. You also said that you can't wait to do climbing in the near mountain the next day. You showed me the track you will pass to that mountain; it is in the postcard picture. This bridge--I even couldn't believe people call this frail piece of wood and rope as a bridge--will lead your way to the mountain and find the climbing spot.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--4DNSEXcMIA/Tg5oHgdlfwI/AAAAAAAAARI/K_IIBeDlUIU/s1600/bridge-writing-prompt.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 490px; height: 368px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--4DNSEXcMIA/Tg5oHgdlfwI/AAAAAAAAARI/K_IIBeDlUIU/s1600/bridge-writing-prompt.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;The last line you wrote was a joke saying that next time I should pass this frail bridge to get me you. Smile emoticon. Full stop. Your name.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;It has been two months since I received your postcard. You've never made me this long waiting and wondering your story of where you are now, what you feel, where your next heading or plan, the local food and girls, what you do to get some money, how you get lost and find new adventure, how was the rock climbing, etc.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;This postcard is the most read since one month ago, although I suffer from a headache and I always tremble every time I see the picture. And those symptoms are getting worse when I read your last line words.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I don't know what happen to me this morning. When I stared at the bridge, I felt like I will be able to pass this bridge for you. I felt no more headache, trembling or nausea. Yes, for the first time in my life: I want to pass this bridge, a frail bridge. This thought made my blood rushed faster. I will be able to go by plane. Maybe I need to meet psychiatrist first, but it's not a big problem. I've never this brave; I will try my best to pass it, if this bridge really could get me to you.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;But, how could I know that you are there waiting?&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5276288733519837914?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5276288733519837914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5276288733519837914' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5276288733519837914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5276288733519837914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/fobia-dan-saya.html' title='Fobia dan Saya'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--4DNSEXcMIA/Tg5oHgdlfwI/AAAAAAAAARI/K_IIBeDlUIU/s72-c/bridge-writing-prompt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6026525020656058547</id><published>2011-07-05T19:50:00.007+07:00</published><updated>2011-07-05T20:53:59.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Empat Ratus Anak Tangga</title><content type='html'>&lt;div&gt;Awalnya saya hanya akan mengajak Eka saja ke trip bareng NGI Forum Regional Bandung ke Gunung Padang--gunung yang memiliki situs megalitikum terbesar se-Asia Tenggara. Namun Ari (yang kemudian mengajak Novi, Ana, dan Gege) mengendus calon perjalanan saya ke Cianjur--kota yang merupakan titik pusat pantai utara dan pantai selatan Jawa Barat. Maka, hayo kita berangkat saja!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kami janjian di DU pukul setengah empat subuh. Saat saya sms Eka pukul setengah empat, dia bilang baru mandi. Oh, Eka, maukah kau ditinggal oleh kami?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi, begini ceritanya ...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Telusur Lampegan, Gunung Padang, dan Curug Cikondang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Nia Janiar&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Minggu (03/07) merupakan tanggal yang perlu diingat karena ini adalah kali pertama NGI Forum Regional Bandung hunting ke luar kota. Saat itu kami tidak pergi sendirian karena ditemani teman-teman dari Teknik Sipil UNPAR. Total peserta sekitar 56. Waktu keberangkatan sempat mundur 15 menit dari pukul empat pagi karena ada hambatan mengenai jumlah peserta dan kapasitas mobil. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Satu jam dari Bandung ke Cianjur, kami menemui jalan berundak yang penuh bebatuan menuju Gunung Padang dan sekitarnya. Kondisi jalan yang buruk membuat beberapa teman yang menggunakan mobil rendah kesulitan. Mobil sedan tidak direkomendasikan untuk perjalanan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebelum ke Gunung Padang, kami pergi ke stasiun kereta Lampegan yang dilewati jalur Bandung-Sukabumi. Karena pernah terjadi longsor, stasiun yang dibangun dari tahun 1879 hingga 1882 ini direnovasi pada tahun 2010. Cat yang masih baru dan keadaan stasiun yang bersih membuktikan stasiun ini dirawat dengan baik. Wakil gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, sudah meresmikan stasiun Lampegan sebagai tempat wisata. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4xnUwTJZQw8/ThMRWw0qkwI/AAAAAAAABCk/wtw0a_lSv18/s1600/IMG_4821.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-4xnUwTJZQw8/ThMRWw0qkwI/AAAAAAAABCk/wtw0a_lSv18/s320/IMG_4821.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859442276471554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Stasiun Lampegan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Qqvu7MnxZ1s/ThMRWw2dHaI/AAAAAAAABCc/Ylaz2fo-LQA/s1600/IMG_4830.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Qqvu7MnxZ1s/ThMRWw2dHaI/AAAAAAAABCc/Ylaz2fo-LQA/s320/IMG_4830.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859442283978146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Yang di atas itu adalah periode pembangunannya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--gX48IcFBZk/ThMRWQ21NKI/AAAAAAAABCU/90DoV1CCPMM/s1600/IMG_4847.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--gX48IcFBZk/ThMRWQ21NKI/AAAAAAAABCU/90DoV1CCPMM/s320/IMG_4847.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859433695622306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Dari dalam terowongan kereta yang pernah ambruk karena longsor&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_ELY1Un2h00/ThMRWMd9O8I/AAAAAAAABCM/Qg0_gksjPwo/s1600/IMG_4852.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_ELY1Un2h00/ThMRWMd9O8I/AAAAAAAABCM/Qg0_gksjPwo/s320/IMG_4852.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859432517548994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;The Machine&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-D0naxbqYPCM/ThMRHk8FhHI/AAAAAAAABCE/ewODlJLvksM/s1600/IMG_4853.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-D0naxbqYPCM/ThMRHk8FhHI/AAAAAAAABCE/ewODlJLvksM/s320/IMG_4853.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859181388334194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;The Journal&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NjwGOXFWFIo/ThMRHQgpWkI/AAAAAAAABB8/SYKDmAYCydg/s1600/IMG_4856.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-NjwGOXFWFIo/ThMRHQgpWkI/AAAAAAAABB8/SYKDmAYCydg/s320/IMG_4856.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859175904533058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Kosong&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oVX-aRgLtzk/ThMRHGLJLvI/AAAAAAAABB0/d08yccczk_I/s1600/IMG_4869.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-oVX-aRgLtzk/ThMRHGLJLvI/AAAAAAAABB0/d08yccczk_I/s320/IMG_4869.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859173129989874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jalan yang curam sehingga harus mengantri dulu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-w3xUWqVa9T8/ThMRHGe2M0I/AAAAAAAABBs/VoHBYwbAQjM/s1600/IMG_4881.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-w3xUWqVa9T8/ThMRHGe2M0I/AAAAAAAABBs/VoHBYwbAQjM/s320/IMG_4881.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859173212631874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Tidak beraspal tapi berbatu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dAK8xENU6LQ/ThMRG7wFcfI/AAAAAAAABBk/MaWB97cQqhE/s1600/IMG_4959.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dAK8xENU6LQ/ThMRG7wFcfI/AAAAAAAABBk/MaWB97cQqhE/s320/IMG_4959.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625859170332144114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Setelah hunting foto dan tulisan di stasiun Lampegan, kami berangkat ke Gunung Padang yang letaknya 6 km dari stasiun dengan waktu tempuh sekitar 15 menit menggunakan kendaraan. Di sana sudah ada teman-teman dari NGI Forum Regional Jakarta yang sedari pagi datang untuk mengejar matahari terbit. Namun pagi itu matahari tidak muncul karena cuaca mendung.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum masuk, kami mendapatkan arahan dari Pak Dadi, perwakilan dari pengelola situs megalitikum ini. Ia menjelaskan bahwa situs megalitikum di Gunung Padang dikelola oleh tiga instansi yaitu kabupaten, provinsi, dan DPRD Serang. Selain itu ia mengingatkan agar pengunjung tidak mencoret, tidak memukul-mukul batu, dan membuang sampah pada tempatnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Empat ratus anak tangga yang berupa susunan bebatuan andesit ini harus kami lalui. Jarak setiap anak tangga cukup jauh sehingga harus mengerahkan banyak tenaga. Dengan nafas tersenggal-senggal,  kami berusaha menaikinya satu persatu hingga puncak. Selama perjalanan, tidak jarang ditemui teman-teman yang duduk atau berhenti sebentar untuk istirahat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-w4IoroGHEjw/ThMV1a5v3bI/AAAAAAAABDU/OeDkCfTweP4/s1600/IMG_4910.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-w4IoroGHEjw/ThMV1a5v3bI/AAAAAAAABDU/OeDkCfTweP4/s320/IMG_4910.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625864367014665650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Ari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mFpCAYcQNxo/ThMV082NOHI/AAAAAAAABDM/mIuuZ5n6FSI/s1600/IMG_4907.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-mFpCAYcQNxo/ThMV082NOHI/AAAAAAAABDM/mIuuZ5n6FSI/s320/IMG_4907.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625864358946748530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Nia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8Md3YoG9yZw/ThMV0_Kc9jI/AAAAAAAABDE/Pgl8gAIZgFo/s1600/IMG_4899.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8Md3YoG9yZw/ThMV0_Kc9jI/AAAAAAAABDE/Pgl8gAIZgFo/s320/IMG_4899.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625864359568537138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Novi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-z7HVJp-YdQk/ThMV0vqKB1I/AAAAAAAABC8/aVdHCHote-k/s1600/IMG_4898.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-z7HVJp-YdQk/ThMV0vqKB1I/AAAAAAAABC8/aVdHCHote-k/s320/IMG_4898.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625864355406546770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Ana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4U1L88E9ixI/ThMV0iX-mtI/AAAAAAAABC0/RqrFbWiPG3k/s1600/IMG_4890.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-4U1L88E9ixI/ThMV0iX-mtI/AAAAAAAABC0/RqrFbWiPG3k/s320/IMG_4890.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625864351840639698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Eka (biasa aja dong mukanya)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pak Nanang, pemandu situs ini, sudah siap di atas. Ia menjelaskan tentang sejarah keberadaan situs Padang yang mengarah ke barat laut. Situs diduga sebagai tempat peribadatan nenek moyang karena menghadap Gunung Gede sebagai simbol keagungan Tuhan. Bertepatan dengan kiblat, arah dimana kaum muslim juga beribadat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak hanya untuk mendapatkan pengetahuan mengenai situs megalitikum ini, kami melakukan aksi penanaman pohon di sekitar Gunung Padang yang bibitnya sudah dibawa dari Bandung. Pak Nanang memandu kami dimana saja kami harus menanam karena ada beberapa lahan yang sudah tertutup oleh pohon. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah makan siang, beberapa dari kami ada yang mencoba mengangkat batu seberat 80 kg. Mitos mengatakan bahwa barang siapa yang dapat mengangkat batu tersebut maka doanya akan dikabulkan. Pak Dani, yang juga seorang pemandu, memberi tahu teknik bagaimana cara mengangkatnya. Namun hasilnya nihil: mayoritas tidak bisa mengangkat—malah terjatuh atau tergencet batu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Curug Cikondang menjadi tujuan selanjutnya. Jalan menuju curug (air terjun) ini cukup jauh. Selain itu, jalannya tidak kalah rusak dibandingkan jalan menuju Gunung Padang. Lagi-lagi mobil yang rendah mengalami kesulitan sehingga harus dipandu harus melintas ke jalan bagian tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Air terjun berundak ini yang cukup tinggi ini banyak dipakai warga untuk main air, mandi, duduk-duduk menikmati keindahan curug dari kejauhan maupun dari dekat. Namun keindahan Curug Cikondang yang menghadap persawahan ini harus dirusak dengan sampah di sekitar air terjun. Juga tempat peristirahatan yang sangat tidak nyaman karena sampah kering dan sampah basah yang bertebaran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Naik dan turun tangga gunung, mendaki dan menuruni bukit, sepertinya harus dibayar dengan pegal-pegal, terutama di daerah paha dan betis. Namun kelelahan yang didapat tidak sebanding dengan kebersamaan dan serunya hunting bersama teman-teman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-s9F4Y94rY8s/ThMT4bPDRwI/AAAAAAAABCs/YfZy5pqG99k/s1600/1.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-s9F4Y94rY8s/ThMT4bPDRwI/AAAAAAAABCs/YfZy5pqG99k/s320/1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625862219620370178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Foto oleh Darmarianto&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6026525020656058547?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6026525020656058547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6026525020656058547' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6026525020656058547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6026525020656058547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/empat-ratus-anak-tangga.html' title='Empat Ratus Anak Tangga'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4xnUwTJZQw8/ThMRWw0qkwI/AAAAAAAABCk/wtw0a_lSv18/s72-c/IMG_4821.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2623716008838518535</id><published>2011-07-01T17:58:00.004+07:00</published><updated>2011-07-01T18:17:08.680+07:00</updated><title type='text'>Jejaring Tulisan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya &lt;i&gt;update &lt;/i&gt;ya jejaring tulisan saya yang tidak saya tulis di blog ini:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;1. Mapay Cikapundung: Dari Sumur Bandung hingga Curug Dago&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-Z-cpmU2rVOA/Tg2qHlsxvCI/AAAAAAAABBM/iK0BF11V_ws/s200/Curug%2BDago.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624338557011344418" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;blockquote&gt;Agenda ngaleut pada hari Minggu (26/6) adalah menelusuri sungai Cikapundung dengan jalan kaki sampai Curug Dago. Karena titik mulainya adalah Sumur Bandung, maka saya membayangkan jarak yang harus saya tempuh. Ah, tidak masalah – pikir saya. Maka berbekal sepatu dan ransel, saya bersiap untuk ngaleut (berjalan beriringan).&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Baca selanjutnya di:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/node/150504"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/node/150504&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;2. Liputan Event: Peraduan Para Domba&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-WLAC8cY2Vas/Tg2rHQzAciI/AAAAAAAABBU/oWyDmm6CYeo/s200/DSC05828.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624339650911957538" /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;Tiga puluh satu domba dipancang di sisi timur arena adu domba Babakan Siliwangi (Baksil) Bandung pada tanggal 05 Juni 2011, entah ada berapa domba yang dipancang di sisi baratnya. Domba-domba yang berasal dari Garut namun dibesarkan di berbagai daerah di Jawa Barat sengaja didatangkan dengan menggunakan mobil bak terbuka pukul 07.00 untuk diadu pada pukul 09.00. Sembari menunggu pertandingan dimulai, kami—anggota forum National Geographic Indonesia Regional Bandung—berkumpul sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Beberapa ada yang sudah mulai memotret dan wawancara. Jumlah anggota yang terkumpul adalah 27 orang.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Baca selanjutnya di:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/06/08/liputan-event-reg-bandung-peraduan-para-domba/"&gt;http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/06/08/liputan-event-reg-bandung-peraduan-para-domba/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;3. Liputan Event: Kampung Kecil di Balik Monumen&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-gzsIuPCt3bE/Tg2sZxHIkuI/AAAAAAAABBc/ZfQ3Z6dI6l4/s200/DSC05497.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624341068335583970" /&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;Adalah Kampung Seniman Bangun Pagi yang letaknya berada di belakang monumen dan berada di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Di dalamnya terdapat beberapa saung yang memiliki fungsi masing-masing. Saung pertama yang kami kunjungi adalah Karinding Buhun (Karuhun). Saat kami datang, beberapa pemuda yang memakai pakaian hitam sedang memainkan alat musik karinding serta beberapa anak yang sibuk menonton. Karinding adalah alat musik purba yang dibuat dari bambu dan karet yang berperan sebagai senar.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Baca selanjutnya di: &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/05/09/liputan-event-kampung-kecil-di-balik-monumen/"&gt;http://event.blog.nationalgeographic.co.id/2011/05/09/liputan-event-kampung-kecil-di-balik-monumen/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2623716008838518535?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2623716008838518535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2623716008838518535' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2623716008838518535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2623716008838518535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/jejaring-tulisan.html' title='Jejaring Tulisan'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Z-cpmU2rVOA/Tg2qHlsxvCI/AAAAAAAABBM/iK0BF11V_ws/s72-c/Curug%2BDago.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-147211034887744731</id><published>2011-07-01T17:36:00.003+07:00</published><updated>2011-07-01T17:39:59.863+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review tokoh'/><title type='text'>Pitra Moeis: Bekerja Untuk Visi Sendiri</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xIclrSA84i8/Tg2jR11ODAI/AAAAAAAABBE/YymjkJsFXDI/s1600/pitra.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xIclrSA84i8/Tg2jR11ODAI/AAAAAAAABBE/YymjkJsFXDI/s320/pitra.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624331036559019010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;“Saya capek bekerja di bawah visi dan misi orang lain,” ujar Pitra kepada saya pada 23 Juni 2011 di Tobucil. Saat itu Pitra habis mengikuti kursus penulisan &lt;i&gt;feature &lt;/i&gt;bersama para anggota Aliansi Jurnalis Independent. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Wanita yang lahir di Bandung, 13 Desember 1979 ini mengenyam pendidikan Planologi di Institut Teknologi Bandung. Sulung dari dua bersaudara ini hijrah ke Jakarta untuk bekerja di berbagai bidang seperti &lt;i&gt;medical assistant&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;account executive&lt;/i&gt; di sebuah perusahaan iklan, dan bekerja di bidang politik dengan bergabung bersama LSM Bung Hatta Anti Corruption Award untuk menyebarkan sikap positif terhadap anti korupsi tanpa kekerasan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bekerja di Jakarta yang memiliki ritme kerja yang cepat cukup menghabiskan waktunya. Ia seringkali harus bekerja dari pagi hingga malam. Setelah menikah dan memiliki anak, Pitra merasa terbebani untuk bekerja dengan pekerjaan yang terjadwal. Maka ia memutuskan untuk pulang ke Bandung dan bekerja untuk visinya: mengurus dan mendidik anak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keputusan Pitra untuk menjadi wanita yang tidak bekerja tidak mudah terutama hilangnya kemandirian finansial. “Kalau sudah berkeluarga, jadi harus serba hemat. Tidak boleh langsung belanja seperti dulu.” Namun keinginan agar kedua buah hatinya, Aleefa (2.5 tahun) dan Areta (7 bulan), mendapatkan pendidikan terbaik lebih besar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Waktu saya sekolah dulu, ada perasaan takut berpendapat. Pengetahuan terbatas dan kreativitas kurang tereksplor. Saya tidak ingin itu terjadi pada anak saya,” ujarnya wanita lulusan 2003 ini. Pitra merasa pengalaman-pengalamannya sekolah merasa semua seolah-olah diluruskan, menghilangkan mimpi-mimpi. “Saya ingin anak saya sudah tahu mau apa ketika ia besar nanti, memiliki perkembangan yang baik dalam kognisi.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sambil menjalankan aktivitas keseharian seperti belajar menulis, kini Pitra sibuk mencari-cari sekolah yang cocok untuk kedua buah hatinya dan kursus menulis. Wanita yang memakai kacamata ini bercita-cita menjadi travel writer. “Saya suka jalan-jalan dan banyak orang yang jarang menulis hasil jalan-jalannya. Saya tidak ingin menulis bagaimana cara menuju suatu tempat saja, tapi ingin cerita yang lebih bermakna agar lebih inspiratif.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum di Tobucil, ia pernah belajar menulis di PANTAU, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;---------------------------------------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tulisan di atas adalah revisi dari hasil latihan menulis&lt;i&gt; feature profile&lt;/i&gt; yang mana kurang data dan dikerjakan dalam waktu yang mepet. Foto juga diambil dari Facebook Mbak Pitra tanpa izin. Jangan ditiru ya ... :) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-147211034887744731?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/147211034887744731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=147211034887744731' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/147211034887744731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/147211034887744731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/07/pitra-moeis-bekerja-untuk-visi-sendiri.html' title='Pitra Moeis: Bekerja Untuk Visi Sendiri'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xIclrSA84i8/Tg2jR11ODAI/AAAAAAAABBE/YymjkJsFXDI/s72-c/pitra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1599666705916146121</id><published>2011-06-27T15:33:00.009+07:00</published><updated>2011-06-27T16:51:31.082+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Mapay Cikapundung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kali pertama saya dan Neni gabung di Komunitas Aleut, kami langsung basah-basahan dan sakit kaki karena jadwal ngaleut saat itu adalah menyusuri Sungai Cikapundung dari Sumur Bandung hingga Curug Dago. Kami bergaya ala Ninja Hatorri: Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir ke samudra. Bersama teman berpetualang!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Teknis menyusuri sungai adalah begini:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. Jalan di perkampungan di dekat sungai,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-ZndHJ9crlc0/TghPz2nqbyI/AAAAAAAABAs/_Zk-aPYert4/s320/DSC00270.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622831887025860386" /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-s8ynlEx9dZ4/TghPzyOqM4I/AAAAAAAABAk/9XaTKAw5xRQ/s320/DSC00273.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622831885847245698" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. jalan di daerah aliran sungai,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-ezoSDDy0YpM/TghPzlryReI/AAAAAAAABAc/em09NmDu2EU/s320/DSC00296.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622831882479748578" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. jalan di atas pipa air bersih,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-FKw0Pz549Vw/TghPzjfsCII/AAAAAAAABAU/g6jKWRUhEqI/s320/DSC00284.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622831881892137090" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. melewati gorong-gorong Ci Barani yang dibuat Belanda dan dipenuhi ekosistem laba-laba,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-6UaQs0dLFUg/TghOrMciW1I/AAAAAAAABAM/R7MsIbLj0ms/s320/kuke1.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622830638754323282" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-Hl5RdJO8rNA/TghOrAu1saI/AAAAAAAABAE/Jc8y9LUs5PM/s320/kuke2.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622830635609862562" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-1K-PuTLkoRk/TghOq4kzgjI/AAAAAAAAA_8/2e-NYe-oodg/s320/kuke3.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622830633420292658" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;5. melewati dan melawan arus sungai,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-ro4pyUZrslo/TghNuOx9hMI/AAAAAAAAA_0/IQ4eA2EbyvE/s320/DSC00331.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622829591409034434" /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-3apfwI2VbCU/TghNtnIdtgI/AAAAAAAAA_s/EY3WK_Uu7os/s320/DSC00339.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622829580766000642" /&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-tEgHmgrzWE8/TghNtctZcWI/AAAAAAAAA_k/DK95_5glD8c/s320/DSC00340.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622829577968120162" /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;6. berupaya melalui jalan yang tertutup,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-tShpiK1Y2Lo/TghMuMU6YtI/AAAAAAAAA_c/djoA7rqIGsw/s320/DSC00350.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622828491238695634" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;7. jembatan yang tidak aman,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-NGjHGYXbN_A/TghMt8Lt3hI/AAAAAAAAA_U/3zNLQSLDf2M/s320/DSC00351.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622828486905159186" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;8. melewati sawah,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-dvdtuhRDBVM/TghMtnM71QI/AAAAAAAAA_M/vPlgyIm-lIA/s320/DSC00352.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622828481273124098" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;9. berhenti di warung,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-xX9jmLaXaxQ/TghMtWPJ72I/AAAAAAAAA_E/nzAOzmeDM_Q/s320/DSC00360.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622828476719034210" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;10. hingga akhirnya sampai juga di Curug Dago yang kotor dan berbau tidak sedap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-fSw6RFQ-BPs/TghMtVS_uNI/AAAAAAAAA-8/cu5U7FJMjRU/s320/DSC00371.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622828476466706642" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perjalanan dilalui selama 5 jam. Padahal, jika menggunakan angkutan umum, mungkin hanya berkisar 10 menit dan jalan sedikit. Tapi jika kami naik angkot, maka tidak akan bisa melihat:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. Pintu air,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-QD7YyzF8qYQ/TghL3A6h8FI/AAAAAAAAA-0/0yQMi7yPZfg/s320/DSC00310.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622827543282446418" /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-Fnt10NOQV7A/TghLa7YWYyI/AAAAAAAAA-s/F3n3LU2FdwI/s320/DSC00298.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622827060760568610" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. arena adu burung,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-X6MOwjPmIx4/TghLareo4jI/AAAAAAAAA-k/SsViM_OaffU/s320/DSC00322.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622827056491979314" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. pesantren,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-EW0c1daeOVQ/TghLaCrBtyI/AAAAAAAAA-c/GzrI_F_PiVE/s320/DSC00317.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622827045538084642" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. jalanan yang melelahkan,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-fdb46r1C3V4/TghLaIOMKhI/AAAAAAAAA-U/SPdZKF0witU/s320/DSC00316.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622827047027747346" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;5. atau perumahan mewah di dekat pemukiman sekitar sungai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-bhSY9dQWAQk/TghLZ7bHFPI/AAAAAAAAA-M/F5QC_DII5VI/s320/DSC00323.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622827043592279282" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Juga tidak akan ada adegan kebersamaan seperti tolong menolong ketika teman mengalami kesulitan menghadapi jalan yang licin atau terpeleset di atas batu kali. Dan jika menggunakan angkot, mungkin tidak ada sesi sharing yang bermakna seperti ini. Mungkin sharingnya hanya sekedar, "Gimana, apa kamu bisa duduk 7-5?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-5_pGQokWLvA/TghRQrTbEuI/AAAAAAAABA0/rFrR8URK7g0/s320/DSC00375.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622833481716011746" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1599666705916146121?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://aleut.wordpress.com/' title='Mapay Cikapundung'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1599666705916146121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1599666705916146121' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1599666705916146121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1599666705916146121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/06/mapay-cikapundung.html' title='Mapay Cikapundung'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ZndHJ9crlc0/TghPz2nqbyI/AAAAAAAABAs/_Zk-aPYert4/s72-c/DSC00270.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5191316117628473253</id><published>2011-06-15T22:00:00.004+07:00</published><updated>2011-06-15T22:37:17.797+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Menghitung Mundur</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-DkxsvXT8qNo/TfjJMaRgyKI/AAAAAAAAA9g/Y1WwOSOdDz0/s1600/Dali%2BClock.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-DkxsvXT8qNo/TfjJMaRgyKI/AAAAAAAAA9g/Y1WwOSOdDz0/s320/Dali%2BClock.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5618461750193080482" /&gt;&lt;/a&gt;Sekitar 13 hari lagi, hubungan saya dengan pekerjaan akan mencapai batas kadaluarsa. Saya memilih untuk berhenti bekerja dan mengejar cita-cita saya menjadi seorang penulis.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gila, memang. Memutuskan menjadi penulis agaknya mirip seperti memutuskan jadi seniman: banyak diragukan, terutama tentang penghasilan. Kalau karya bagus dan cukup beruntung ya lancar, kalau karya bagus dan tidak cukup beruntung ya kurang lancar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jujur, karena saya tidak mau merendah untuk meninggikan mutu alias pasif agresif, saya cukup besar kepala untuk yakin bahwa tulisan saya tidak jelek. Saya banyak latihan. Artinya, ketika saya memutuskan untuk menjadi penulis, modal awalnya tidak nol besar. Beranjak di angka satu, setidaknya. Bahkan untuk non fiksi, saya mengambil sesi latihan dengan para jurnalis. Bisa dilihat, keputusan ini berdasarkan pertimbangan serius.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keinginan mengejar mimpi sebagai penulis muncul di akhir tahun 2010, ketika saya menulis artikel tentang zona nyaman dan atasan saya membahas bahwa ia sudah tidak mungkin kembali ke teknik sipil karena sudah tua dan tertinggal jauh. Saya tidak mau jadi kodok yang tidak sadar sedang direbus. Bagi saya, pekerjaan saya menjadi seorang guru itu zona nyaman karena berpenghasilan tetap dan pekerjaannya aman-aman saja. Namun, karena menjadi guru bukanlah cita-cita saya, maka saya tidak mau tiba-tiba sadar saya sudah tua dan tidak bisa mengejar mimpi saya. Intinya, saya tidak mau menyesal di hari tua. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu di awal tahun 2011, saya yakin betul dengan keputusan saya. Optimisme dan semangat begitu meluap-luap layaknya mahasiswa yang menjunjung tinggi idealisme. Hingga semakin dekat dengan hari H, optimisme dan semangat saya luntur. Saya mulai berpikir bahwa cita-cita ini hanyalah mimpi di siang bolong, terutama  saat melihat pencapaian-pencapaian yang terjadi tidak sesuai dengan rencana dan harapan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa minggu ini, saya terbayang pada perpisahan dengan anak-anak, rekan kerja, dan lingkungan, dan kesibukan itu sendiri. Saya tidak terbayang ketika saya memeluk mereka atau mengucapkan maaf lalu tidak bertemu sereguler kemarin-kemarin. Dapatkah saya mengatasi perpisahan? Tidak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perpisahan juga membuat saya teringat pada hari terakhir bersama Indra Permadi, teman yang bersekolah ke Australia. Juga teringat dengan Tegar Maulana, teman saya yang pindah ke Jayapura tanpa diketahui untuk berapa lama. Waktu itu kami (Tegar, saya, dan teman-teman) melakukan jamuan perpisahan. Saat Tegar akan pergi, teman-teman saya terlihat akan menangis dan suasana jadi bermuram durja. Saat itu saya coba menghibur bahwa di sana Tegar akan berkembang dan teknologi sudah maju sehingga kami bisa menghubungi Tegar kapan saja. Ya, dan sekarang, walaupun tidak bertemu, kami sering kirim-kirim komentar di Facebook. Toh walaupun dulu dia di Bandung, kami berkomunikasi via Facebook.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ucapan saya di atas sepertinya harus dikembalikan kepada saya. Selain itu perspektif harus diubah bahwa ini bukan akhir cerita, namun justru ini adalah titik pertama dari sebuah petualangan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5191316117628473253?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5191316117628473253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5191316117628473253' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5191316117628473253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5191316117628473253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/06/menghitung-mundur.html' title='Menghitung Mundur'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DkxsvXT8qNo/TfjJMaRgyKI/AAAAAAAAA9g/Y1WwOSOdDz0/s72-c/Dali%2BClock.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1054181494077936682</id><published>2011-06-11T23:14:00.004+07:00</published><updated>2011-06-11T23:20:24.733+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dua orang jurnalis, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, telah melakukan ekspedisi perjalanan mengelilingi Indonesia hanya dengan motor Honda Win 100 cc yang sederhana. Jalan darat dan laut telah mereka tempuh untuk menguntai Sabang hingga Merauke di negeri yang terkenal dengan sebutan Zamrud Khatulistiwa: Indonesia.  Sabtu sore (11/6) di Tobucil, Bandung, Farid Gaban—pernah menjabat sebagai redaktur pelaksana majalah Tempo—membagikan pengalamannya mengelilingi Indonesia selama  10 bulan dengan total 100 pulau pada 50 gugus kepulauan Nusantara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-gUUTYJkwOyg/TfOVJJ-OZyI/AAAAAAAAA9Y/mzIQAKkVNjk/s320/motor.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 204px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616997144789411618" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perjalanan mereka bukanlah perjalanan ilmiah, melainkan perjalanan jurnalistik yang sepintas. Dari 17.000 pulau yang dimiliki Indonesia, mereka hanya mengunjungi pulau-pulau yang dianggap representatif dari kepulauan sekitarnya karena terlalu banyak. Misalnya untuk Nias saja kepulauannya hampir terdiri dari 3.000 pulau. Perjalanan mereka begitu sederhana dan relatif murah. Farid Gaban menyayangkan dengan orang-orang yang sering berpergian namun tidak pernah menulis hasil perjalanannya. Oleh karena itu, ekspedisi mereka diabadikan melalui berbagai media termasuk foto, video, dan tulisan. Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa adalah ekspedisi interaktif yang pernah dilakukan karena setiap perjalanan, mereka posting foto atau tulisan di Facebook dan langsung mendapatkan umpan balik dari pembaca. “Seolah-olah sedang berjalan dengan ditemani banyak orang,” ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama ekspedisi dilakukan, pria yang berasal dari Wonosobo ini memperhatikan bahwa sanitasi, kesehatan, dan air bersih merupakan persoalan yang hampir merata di seluruh pulau yang ia kunjungi. Banyak penduduk pesisir yang ia temui dalam keadaan miskin padahal sumber daya di laut yang melimpah ruah. Nelayan hanya memiliki perahu kayu yang kecil sehingga hanya bisa memuat sedikit ikan dan kurangnya pengetahuan tentang mengawetkan hasil tangkapan sehingga mereka harus menjualnya di waktu yang cepat. Input ilmiah/riset tentang pemanfaatan laut dinilai masih kurang padahal banyak sekali pemanfaatan yang bisa dilakukan dari laut misalnya energi matahari yang diserap laut bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Selama ini, masyarakat masih tergantung dengan minyak (diesel) untuk membuat listrik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Walaupun kurangnya pengetahuan, terdapat sebuah kearifan tradisional yang dimiliki masyarakat dalam mengelola lingkungan. Misalnya mereka membuat peraturan tidak boleh memancing di teluk pada waktu tertentu karena pada saat itu ikan-ikan sedang menetas. Farid Gaban menambahkan bahwa kita (masyarakat modern) selalu menyebut mereka primitif, tapi yang mengaku modern pun lebih tidak beradab dalam mengelola lingkungan. Ada komunitas di daerah-daerah yang mengatur tentang lingkungan misalnya di Aceh ada sturktur ada yang di kalangan masyarakat nelayan bernama Panglima Laot. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah dianggap belum bisa menjangkau seluruh aspek di&lt;/div&gt;&lt;div&gt; setiap pulau di Indonesia. Misalnya pernah ada pelarangan penggunaan tattoo yang berimbas pada kebudayaan Mentawai yang kemarin-kemarin ini mulai dilestarikan kembali. Serta longgarnya peraturan illegal logging tidak hanya berdampak pada berkurangnya hutan melainkan rusaknya terumbu karang. Inilah yang terjadi terhadap rusaknya terumbu karang di Mentawai yang diakibatkan tanah yang seharusnya ditahan akar pohon kini harus langsung bergulir ke sungai dan dibawa ke laut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-Zk9KLN74aME/TfOVIlIbuCI/AAAAAAAAA9I/zSw1talF2Og/s320/bersama%2Bwarga.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616997134900115490" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu bagaimana dengan penerimaan penduduk terhadap dua orang asing ini? Baik itu di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, Farid Gaban mengakui bahwa ia dan rekannya tidak mengalami masalah dalam penerimaan masyarakat daerah.  Tidak ada hambatan bahasa yang ditemui karena di setiap daerah pasti ada penduduk yang bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu mereka juga bukan penduduk yang terisolir karena ada penerimaan informasi yang didapat dari radio atau televisi. Jejaring yang Farid dan Yunus miliki diakui bisa dijadikan jembatan agar bisa berbaur dengan penduduk lokal. Selain itu, pendekatan yang mereka lakukan bukanlah pendekatan antara penduduk dengan turis, melainkan pendekatan layaknya seorang teman yang mengajak berbagi. Belum lagi kemampuan Ahmad Yunus dalam memasak dan membuat makanan bersama di dapur warga dapat mencairkan suasana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-kgO5z10FStE/TfOVI5w8tNI/AAAAAAAAA9Q/MRw9oqTnIRY/s320/karimata-u000.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616997140438758610" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perjalanan antar pulau memberatkan ekspedisi ini dari segi biaya. Ketika di Makassar, Farid harus pulang ke Jakarta karena ia dalam kondisi sama sekali tidak punya uang dan harus bekerja mencari tambahan biaya. Selain harus menyewa kapal nelayan, scuba diving pun cukup menguras kantong. Sebelumnya, agar bisa mengeksplor bawah laut, pria yang bertubuh kurus ini sengaja mengambil kursus menyelam untuk mendapatkan sertifikat. Tidak di semua daerah ia bisa menyelam dengan peralatan memadai. Misalnya di Pulau Jinato, ia menyelam menggunakan kompresor yang dipakai nelayan untuk mencari teripang. Padahal resiko tidak menggunakan peralatan yang memadai sangat besar yaitu bisa mengakibatkan kelumpuhan dan bahkan kematian. Bahkan ada sebutan janda kompresor untuk beberapa istri yang ditinggal mati para suami yang menggunakan kompresor.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menemui daerah-daerah asing di Indonesia diakui tidak banyak membawa kejutan untuk Farid Gaban karena ia sudah melakukan riset dan melakukan outline apa yang akan ia cari. Outline yang diciptakan Farid Gaban dieksekusikan dalam sebuah buku naratif yang akan meluncur di akhir bulan Juni. Rekannya, Ahmad Yunus, juga menghasilkan sebuah buku. Lalu adakah perbedaan di kedua bukunya? Tentu saja karena pengalaman subjektif dan perspektif masing-masing tentunya akan menghasilkan output yang berbeda. Apalagi selisih usia mereka terpaut hampir 20 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keindahan alam daratan dan lautan bisa dituliskan atau diabadikan dalam 110.000 frame foto, dibentuk untuk dokumentasi atau keperluan komersil. Namun pengalaman pribadi akan selalu menjadi kekayaan untuk diri, terutama saat mengetahui eloknya negeri bahari ini namun maraknya eksploitasi sumber daya alam dan pembangunan yang belum mengindahkan harga sosial dan lingkungan. Berbagi pada kaum pelajar, komunitas, dan masyarakat luas diharapkan bisa menggerakkan aksi-aksi nyata dalam memanfaatkan sumber daya alam Indonesia dengan bijaksana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” ~ Soe Hok Gie&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Website: &lt;a href="http://zamrud-khatulistiwa.or.id/"&gt;http://zamrud-khatulistiwa.or.id/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1054181494077936682?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1054181494077936682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1054181494077936682' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1054181494077936682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1054181494077936682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/06/ekspedisi-zamrud-khatulistiwa.html' title='Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gUUTYJkwOyg/TfOVJJ-OZyI/AAAAAAAAA9Y/mzIQAKkVNjk/s72-c/motor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-3727949477323885673</id><published>2011-06-02T21:49:00.005+07:00</published><updated>2011-06-02T22:02:37.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Male Chauvinist</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-TUNhDQwZnVs/TeekMw2CZkI/AAAAAAAAA80/DI5CAoC-seM/s1600/DSC00171.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-TUNhDQwZnVs/TeekMw2CZkI/AAAAAAAAA80/DI5CAoC-seM/s400/DSC00171.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613635999717549634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Foto di atas saya dapatkan ketika saya pulang dari Pangandaran menuju Bandung. Saat saya menemani Eka shalat Maghrib, saya menemukan sebuah mushola di salah satu SPBU Nagrek dibagi menjadi dua bagian: laki-laki di dalam ruangan, perempuan di luar ruangan--tepatnya di pelataran mushola. Kesan pertama melihat pemandangan ini sangat membuat saya mengerenyitkan dahi karena saking terkejutnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entah siapa yang melakukan pembagian tempat shalat sebusuk ini, tapi saya memiliki prasangka bahwa orang yang membaginya adalah seorang &lt;i&gt;male chauvinist&lt;/i&gt; (kepercayaan bahwa pria itu lebih superior adanya) sehingga saking superiornya, mereka harus berada di dalam ruangan, bersajadahkan belasan baris sajadah, sementara perempuan hanya diberikan satu baris sajadah saja. Akibatnya, perempuan harus menunggu orang-orang yang selesai shalat agar bisa beribadah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kenapa, hey engkau si pembuat peraturan? Apakah kau takut masuk angin? Tidakkah kau melihat istrimu, anak perempuanmu, atau kekasihmu, menunggu lama di luar bersama angin malam sementara banyak ruang kosong di dalam mushola?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-3727949477323885673?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/3727949477323885673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=3727949477323885673' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3727949477323885673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/3727949477323885673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/06/male-chauvinist.html' title='Male Chauvinist'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-TUNhDQwZnVs/TeekMw2CZkI/AAAAAAAAA80/DI5CAoC-seM/s72-c/DSC00171.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1847106426848835100</id><published>2011-05-30T19:42:00.006+07:00</published><updated>2011-05-30T22:45:26.607+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Seribu Cerita di Pangandaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam rangka tugas meliput dan survey, saya pergi ke Pangandaran. Beruntung pada saat perencanaan, Eka juga berniat pergi ke sana bersama Sidik dan Woyo (teman bikers Eka). Maka, dengan dua buah motor besar dan bagasi di belakang, berangkatlah kami dari Bandung pukul 04.30 dan sampai pukul 10.30. Beberapa insiden yang terjadi di jalan membuat perjalanan ini berbiaya besar. Apa yang membuat biaya besar? Simak terus hingga selesai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sesampainya di sana, kami tidak langsung &lt;i&gt;check in &lt;/i&gt;ke penginapan, tapi langsung pergi ke (Cukang Taneuh) Green Canyon, 30km dari Pantai Barat Pangandaran. Di muka Green Canyon, tampak suasana yang begitu ramai. Harga sewa 1 perahu di sana adalah Rp75.000,00 dengan harga yang sudah ditentukan dan dikoordinir dengan baik (jadi tidak ada &lt;i&gt;bargain&lt;/i&gt;). Kami dapat urutan ke 160, harus menunggu sekitar 20 antrian yang kira-kira menghabiskan waktu 45 menit per perahu. Namun nyatanya kami tidak menunggu 900 menit karena perahu yang disediakan cukup banyak dan mobilitasnya cukup cepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-McryW5eF3GI/TeOoqknBjoI/AAAAAAAAA8E/dipOoYTpkXw/s320/DSC05590.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612515009969098370" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Membelah sungai. Ibarat Musa.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-gpSOj98pJK4/TeOoq_QWV3I/AAAAAAAAA8M/wP3SNzdojKI/s320/DSC05609.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612515017121748850" /&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sampai di ujung petualangan perahu. Sisanya ditempuh dengan berenang.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Membelah sungai menuju bebatuan tinggi laksana tebing belumlah sebuah klimaks hingga kami benar-benar masuk ke dalam gua yang penuh stalaktit dan mencucurkan air-air sehingga kami kebasahan. Setelah berhenti dan diam menikmati pesona Green Canyon selama 10 menit, kami ditawari oleh &lt;i&gt;guide&lt;/i&gt; perahu untuk berenang lebih jauh dengan menggunakan &lt;i&gt;life vest&lt;/i&gt; dan di-&lt;i&gt;guide&lt;/i&gt; olehnya. Sebetulnya ini tidak termasuk dalam &lt;i&gt;budget &lt;/i&gt;perjalanan, namun karena rasa penasaran yang bisa membunuh seekor gajah sekalipun, setelah negosiasi harga, hanya saya dan Eka yang berenang meneruskan perjalanan karena Sidik dan Woyo sudah mengalami perjalanan jauh dari Jakarta ke Pangandaran menggunakan motor dan takut sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oh, rupanya kami diajak untuk menaiki tebing dan loncat dari batu yang tingginya mungkin berkisar 15 meter. Dan kami melakukannya! Terutama saat loncat ke sungai, perut terasa mau ke luar sementara badan ditarik cepat ke bawah. Wohoo sensasinya! Sayangnya saya dan Eka tidak membawa kamera sehingga tidak bisa didokumentasikan. Setelah itu, kami pulang ke tempat awal sambil melakukan &lt;i&gt;body rafting&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu setelahnya kami ke Batu Karas yang mengecewakan (tidak bisa &lt;i&gt;skin diving&lt;/i&gt; karena anginnya besar dan tidak berniat untuk &lt;i&gt;surfing &lt;/i&gt;pula). Ternyata Batu Karas tidak indah-indah amat, hanya berupa teluk kecil yang pasirnya biasa-biasa saja. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-5REPPz3dHcQ/TeOoq2esKfI/AAAAAAAAA8U/7xJWowCudko/s320/DSC05649.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612515014765980146" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Persiapan menuju Pasir Puti&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;h.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-zJI4h2nxTbQ/TeOorGMlAJI/AAAAAAAAA8c/IjnJM-9QaU8/s320/DSC05654.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612515018984980626" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menerjang ombak. Perahu baru akan maju jika ombak sudah tenang.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keesokan harinya, kami pergi ke Pasir Putih. Saya dan Eka memutuskan untuk &lt;i&gt;skin diving&lt;/i&gt;. Kami diantar dengan &lt;i&gt;guide &lt;/i&gt;yang logatnya seksi abis (;p). Saat tahu akan diarahkan menuju tempat yang dalam, saya agak sedikit panik karena saya paling takut dengan kedalaman. Namun mencoba untuk tenang, akhirnya bisa oke juga di tempat dalam. Bahkan kami lepas&lt;i&gt; life vest&lt;/i&gt; dan belajar menyelam. Eka jagoan menyelam dan saya gagal terus, akhirnya si &lt;i&gt;guide &lt;/i&gt;yang tidak diketahui namanya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;memegang tangan saya lalu narik saya untuk menyelam. Ini patut dicoba! Sayangnya tidak ada &lt;i&gt;underwater camera. &lt;/i&gt;Saya sering minta "pura-pura" diajarin menyelam. Lumayan .. pegangan tangan :"&amp;gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pasca menyelam, kami diantar ke gua yang ada di Pasir Putih. Sidik dan Woyo tampak &lt;i&gt;excited&lt;/i&gt; sekali sementara kami (terutama saya) sudah banyak mengeluh karena tidak membawa sendal dan harus menjelajah daratan yang penuh dengan bebatuan dan ranting tanpa alas kaki. Tuhan memberkati siapapun yang menciptakan alas kaki!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama di sana, saya dan Eka makan makanan dengan &lt;i&gt;budget &lt;/i&gt;murah (hanya ikan dan nasi, misalnya). Maka, saat akan pulang ke Bandung, kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Timur dan makan &lt;i&gt;seafood&lt;/i&gt;. Mewah dan cukup menjadi penambah stamina untuk Sidik dan Woyo yang harus berenergi banyak dalam menyalip kendaraan-kendaraan di jalur yang harusnya tidak boleh disalip.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini dia, yang saya janjikan di awal kenapa biaya trip kali ini begitu mahal. Saya dan Woyo sempat jatuh dari motor saat berada Mekar Sari. Untungnya kami tidak apa-apa. Saya hanya luka sedikit di kaki yang tertimpa motor besar serta tangan yang sakit. Saat perjalanan dari Batu Karas ke Pangandaran pun kami jatuh lagi saat mau berbelok. Saat pulang, kami sempat oleng di tengah himpitan mobil dan truk. Roda ban motornya Woyo sempat 2x kempes dibelokkan jalan raya yang mungkin bisa saja tertabrak jika ada mobil/bis dari arah belokkan dan tidak tahu bahwa ada kami di sana. Biaya tambahan yang masuk ke &lt;i&gt;budget &lt;/i&gt;saya dan membuat sangat mahal yaitu hanya dua: nyawa dan &lt;i&gt;self-esteem&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-dzx8UPXMKJQ/TeO3f_r8QgI/AAAAAAAAA8k/fl86VBMAb0w/s320/DSC00170.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612531320933335554" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengalami semua hal itu, saat menunggu ban tubless, saya hanya bisa tertawa saja pada Eka (yang juga jatuh). Saat Eka bertanya mengapa saya tertawa, saya hanya menjawab, "Saya sedang menertawakan nasib."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-1847106426848835100?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/1847106426848835100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=1847106426848835100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1847106426848835100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/1847106426848835100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/seribu-cerita-di-pangandaran.html' title='Seribu Cerita di Pangandaran'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-McryW5eF3GI/TeOoqknBjoI/AAAAAAAAA8E/dipOoYTpkXw/s72-c/DSC05590.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6855027424167674527</id><published>2011-05-25T17:09:00.004+07:00</published><updated>2011-05-25T19:08:28.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Ibu Tua</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NyB3dYQ_XAA/Tdzn0UQptII/AAAAAAAAA78/5DH-n1onyck/s1600/MotherEarthNoText.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 152px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NyB3dYQ_XAA/Tdzn0UQptII/AAAAAAAAA78/5DH-n1onyck/s200/MotherEarthNoText.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5610614121774560386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Mother is God in the eyes of a child&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jika ibu adalah Tuhan, maka saya adalah seseorang yang jungkir balik untuk ia sebagai kiblat. Jika hidup adalah semesta, saya adalah planet, maka ibu adalah matahari saya. Saya mengorbit padanya. Walaupun hubungan kami kaku, bukan tipe ibu-anak yang penuh afeksi secara verbal maupun non verbal, tidak pula saling bercerita, namun kami nyaman berada di dalamnya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat saya kecil, saya sering menemaninya pergi ke pasar karena saya berharap akan dibelikan sesuatu seperti mainan, namun pada kenyataannya ibu jarang sekali membelikan mainan. Mau saya cemberut sejelek apapun, ia bersikeras untuk tidak membelikan. Hal lain yang saya ingat, ketika jalan di lorong pasar, ia berada jauh di depan sementara saya ada di belakang--tidak mampu melampaui langkahnya yang cepat. Kini keadaan jadi terbalik, di usia ibu yang beranjak tua, ia sering mengeluh bahwa saya berjalan terlalu cepat. Maka saya sering menggandengnya dan berjalan pelan untuk menyamakan langkahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ibu saya usianya sudah setengah abad lebih, beranak saya di usia yang tidak lagi muda. Ibu saya bukan model atau wanita karir, ia hanya wanita yang memiliki &lt;i&gt;skill &lt;/i&gt;membuat kue yang baik dan berjualan hingga ke Jakarta. Jadi tidak mungkin untuk berbicara tentang politik, sosial, atau budaya pada ibu saya. Namun tak apa, karena ia bukan seorang teman, ia adalah seorang ibu. Ia juga tidak pernah menuntut saya macam-macam seperti segera menikah lalu punya anak agar bisa menimang cucu. Tuntutan yang saya terima pun jarang berasal darinya. Syaratnya hanya dua: tanggung jawab dan bisa jaga diri baik-baik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemarin, di usia lanjutnya, ia baru jatuh di pasar dan kepalanya terbentur duluan. Saat beliau bercerita, saya bertanya ia ke pasar bersama siapa (karena biasanya ia pergi ke pasar bersama pembantu), namun saat itu ia sendirian. Ibu saya bilang sampai tidak bisa bangun dan harus ditolong tukang sayur. Ia juga mengeluh pusing dan diberi obat oleh sepupu saya. Makanya ketika saya baru pulang kerja, saya menemukan ia baru bangun tidur. Saat akan beranjak dari tempat tidur, ibu saya mengeluh kedua kakinya kram. Ia terus mengeluh hingga menangis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini adalah kali pertama saya melihat ibu menangis karena kesakitan. Biasanya ibu menangis karena sinetron. Seumur hidup, saya tidak pernah melihat ibu menangis karena sakit hati atau sakit betulan. Maka, saat itu saya mencoba untuk tidak panik dan mencoba menenangkannya. Karena ia terus menangis, saya memanggil kakak sepupu saya untuk bantu mengatasinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ibu saya sudah tua. Ia tidak pernah sakit tapi jika jatuh, itu begitu mengkhawatirkan saya. Walaupun pasca jatuh di pasar ia mengaku tidak ada sakit yang berarti, saya tetap khawatir: bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi padanya saat saya tidak ada disampingnya? Misalnya jika saya bekerja atau berada di luar kota. Bagaimana jika hatinya tersakiti pada saat saya tidak ada?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keluarga adalah hal penting walau kadang menjadi duri dalam daging dan pelindung itu sendiri. Teman juga penting namun jika ada teman yang tidak bisa menghargai ibu saya, dengan senang hati saya akan memutuskan hubungan. Namun betul-betul tidak ada toleransi untuk orang lain yang menyakiti. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ibu tua, saya akan terus mengorbit padanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6855027424167674527?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6855027424167674527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6855027424167674527' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6855027424167674527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6855027424167674527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/ibu-tua.html' title='Ibu Tua'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NyB3dYQ_XAA/Tdzn0UQptII/AAAAAAAAA78/5DH-n1onyck/s72-c/MotherEarthNoText.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8131597821942481850</id><published>2011-05-18T18:33:00.003+07:00</published><updated>2011-05-18T19:14:31.366+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Arogansi Para Anti-Mainstream</title><content type='html'>Banyak teman-teman saya yang &lt;i&gt;anti-mainstream&lt;/i&gt;. Mereka menyukai dan melakukan hal-hal yang tidak disukai &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;. Mereka tidak akan mendengarkan musik&lt;i&gt; mainstream&lt;/i&gt;, nonton film &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;, bergaya yang tidak &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;, cara berpikir yang melawan &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;, dan lainnya.  Mereka tidak akan menikmati beberapa produk industri sangat besar dan tidak akan memakai celana pensil warna-warni atau legging, dan lainnya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Agaknya menjadi &lt;i&gt;anti-mainstream &lt;/i&gt;bisa dibagi menjadi dua kelompok: 1) Mereka punya selera unik yang tidak sesuai dengan orang kebanyakan atau, 2) Eksklusivitas agar terlihat berbeda dan keren.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk kelompok pertama, saya pikir tidak ada masalah karena selera adalah hak asasi manusia. Namun untuk kelompok dua, ada tendensi negatif dari orang-orang &lt;i&gt;anti-mainstream&lt;/i&gt; terhadap orang-orang &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt;. Percayalah bahwa teman-teman saya pun banyak yang--menurut saya--berada di kelompok dua. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat Twilight atau Beiber ramai dibicarakan orang, para kaum &lt;i&gt;anti-mainstream &lt;/i&gt;kelompok dua pun juga ramai membicarakan orang. Twilight dibilang kisah percintaan yang &lt;i&gt;cheesy &lt;/i&gt;dan menertawakan jika ada yang menontonnya. Twilight punya &lt;i&gt;target market&lt;/i&gt; sendiri. Jika mereka bukan &lt;i&gt;target market&lt;/i&gt;nya, ya tidak usah menjelek-jelekkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kembali ke masalah selera bahwa itu adalah hak setiap orang, maka menjadi &lt;i&gt;mainstream &lt;/i&gt;juga hak setiap orang.  Untuk menjadikan diri berbeda dari kebanyakan, tidak perlu menjadi orang yang pandai mencela, 'kan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak apalah jika temanmu mendengarkan musik melayu yang mendayu-dayu. Kau tidak perlu menghabiskan energi. Sumpal saja kedua kupingmu dan sibukkan diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8131597821942481850?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8131597821942481850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8131597821942481850' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8131597821942481850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8131597821942481850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/arogansi-para-anti-mainstream.html' title='Arogansi Para Anti-Mainstream'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5687562699381518505</id><published>2011-05-16T14:40:00.003+07:00</published><updated>2011-05-16T15:07:53.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Travelmate</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya suka jalan-jalan ke tempat yang baru, eksotis, dan memiliki sebuah tantangan. Tentunya ketika jalan, jauh lebih enak jika ada teman karena: 1) bisa berbagi suka dan duka, 2) &lt;i&gt;share cost&lt;/i&gt;, 3) menjaga satu sama lain. Mencari teman jalan (&lt;i&gt;travelmate&lt;/i&gt;) juga harus satu ideologi: sama-sama nekat, sama-sama mau mencoba hal-hal baru, dan sama-sama mau diajak susah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa kali ini, saya jalan dengan Eka. Sejauh ini saya merasa cocok dan sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga ritme jalannya sudah diketahui. Jadi, boleh jika ia dibilang &lt;i&gt;travelmate&lt;/i&gt; saya. Eka juga orangnya nekat seperti saya, mau diajak dan mengajak susah, &lt;i&gt;aware &lt;/i&gt;terhadap situasi, dan oke banget dalam &lt;i&gt;budgeting&lt;/i&gt;. Saya dan Eka tentunya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun sejauh ini masih bisa ditolerir. Agaknya saya akan merekomendasikan Eka sebagai &lt;i&gt;travelmate &lt;/i&gt;saya, pun (mudah-mudahan) sebaliknya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-r9zRlmFvadk/TdDbI_zELPI/AAAAAAAAA70/bP3lEQ669RI/s320/IMG_0675.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5607222483687320818" /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keterpakuan dalam &lt;i&gt;travelmate &lt;/i&gt;juga membuat diri ini menimbang jika ingin mau jalan-jalan dengan orang lain. Apakah dia akan cocok sama saya? Apakah dia akan banyak mengeluh? Apakah dia tidak mau diajak susah? Wah, banyak sekali pertimbangan itu. Karena, &lt;i&gt;travelmate&lt;/i&gt; selain bisa menciptakan liburan yang menyenangkan, mereka bisa juga berperan dalam gagalnya sebuah liburan. Belum lagi jika sepasang atau sekelompok manusia yang tidak cocok itu berada di antah berantah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tentunya tidak akan tahu jika tidak dicoba. Ada juga saat saya mencoba jalan dengan orang lain, nyatanya tidak cocok. Tidak menutup kemungkinan untuk mencari &lt;i&gt;travelmate &lt;/i&gt;lain (misal, Eka adalah spesialis pantai dan ia tidak suka &lt;i&gt;climbing&lt;/i&gt;. Maka, untuk &lt;i&gt;climbing&lt;/i&gt;, saya harus mencari &lt;i&gt;travelmate &lt;/i&gt;lain). Perempuan atau laki-laki. Asal tidak rese (misalnya harus tidur di kamar berAC) atau genit saja. Saya juga pernah mencari &lt;i&gt;travelmate&lt;/i&gt; secara &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;melalui &lt;i&gt;mailing list&lt;/i&gt; indobackpacker tapi orangnya tidak memberi kabar sampai detik saya berada di tempatnya. Ya, saya sih enggak masalah, namun bukankah kalau orang tersebut mencari atau bersedia itu artinya ia membutuhkan &lt;i&gt;travelmate&lt;/i&gt;--untuk setidaknya--&lt;i&gt;sharing cost?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Travelmate &lt;/i&gt;sebetulnya hanya salah satu faktor penting dari &lt;i&gt;travelling &lt;/i&gt;itu sendiri. Apakah itu &lt;i&gt;high cost &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;low cost, &lt;/i&gt;apakah itu direncanakan atau go show, sebenarnya terserah. Karena esensi menyenangkan atau menyebalkan sebenarnya terletak pada tangan kita sendiri mau menciptakan yang mana.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5687562699381518505?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5687562699381518505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5687562699381518505' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5687562699381518505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5687562699381518505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/travelmate.html' title='Travelmate'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-r9zRlmFvadk/TdDbI_zELPI/AAAAAAAAA70/bP3lEQ669RI/s72-c/IMG_0675.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-9191362542331226894</id><published>2011-05-15T21:46:00.002+07:00</published><updated>2011-05-15T22:13:10.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Perspektif</title><content type='html'>"Daripada mengeluh bahwa mawar itu penuh duri, bergembiralah bahwa semak duri itu memiliki bunga mawar." ~ Proverb&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Agaknya hidup itu ibarat kertas putih yang sebetulnya flat-flat saja. Rutin. Linear. Stagnan. Lalu yang membuatnya berwarna adalah rutinitas diisi oleh kegiatan-kegiatan yang didorong oleh motivasi. Oleh kebutuhan. Oleh pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini dia: Pikiran. Pikiran yang pada akhirnya sudah terkontaminasi oleh pengalaman lalu dijadikan acuan untuk menilai sesuatu hingga disebut perspektif. Saking sudah dijadikan acuan, ia membentuk titik sudut untuk memandang sesuatu. Sifatnya subjektif. Kadang baik dan kadang buruk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalau si kertas ditulis dengan perspektif buruk, maka hasilnya akan buruk. Kalau si kertas ditulis dengan perspektif baik, maka hasilnya akan baik. Jadi, jangan-jangan, hidup itu sebenarnya biasa saja (tidak baik dan tidak buruk) tapi kita yang membuatnya demikian?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Proverb di atas itu sebetulnya hanya permainan perspektif. Kenapa kita harus mengeluh mawar itu berduri? Kenapa kita tidak bersyukur saja bahwa semak duri itu penuh dengan mawar? Dualitas sederhana ini agaknya menempatkan pikiran pada dua kutub yang sangat jauh namun berdampak besar pada eksekusi kegiatan setelahnya. Kuncinya hanya satu: merubah perspektif saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-9191362542331226894?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/9191362542331226894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=9191362542331226894' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/9191362542331226894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/9191362542331226894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/perspektif.html' title='Perspektif'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-8738700316498226900</id><published>2011-05-15T08:55:00.002+07:00</published><updated>2011-05-15T09:33:33.278+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal writing'/><title type='text'>Obituari Desi</title><content type='html'>Salah satu kerabat keluarga, Desiana (akrab dipanggil Mbak Desi), meninggal pada pukul tiga pagi ini (15/05). Istri dari Asmudjo,  seorang kurator seni kontemporer, meninggal karena kanker yang dideritanya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya enggak kenal-kenal amat dengan Mbak Desi. Saya enggak tahu lahirnya kapan atau apa saja pameran yang ia pernah ikuti, tapi dia sering main ke rumah semenjak saya kecil. Sepertinya ia adalah teman sepupu saya yang dulu kuliah di ITB dengan konsentrasi keramik. Ketika saya besar dan di rumah saya dibikin galeri seni, Mbak Desi juga pernah berperan sebagai kuratornya. Sempat ada pameran yang sempat mundur karena Mbak Desi sakit. Namun ia selalu menyempatkan diri untuk datang di tengah-tengah kesakitannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seingat saya, Mbak Desi pernah duduk di ruang tengah sambil merokok. Saat itu kerudungnya dibuka. Bukan kerudung yang dipakai untuk menutup aurat, tapi kerudung untuk menutupi rambutnya yang sudah tidak ada. Sepupu saya bilang kalau Mbak Desi juga sudah banyak berobat termasuk pengobatan alternatif. Perlu diingat, kanker bukan penyakit murah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hingga pagi ini, ibu saya bilang kalau Mbak Desi meninggal. Sepupu saya pun bergegas ke rumahnya, melayat kawan lamanya. Saya enggak tahu apakah sepupu saya menangis selama proses penguburannya. Mungkin tidak akan ada lagi sosok perempuan yang itu datang, tidak ada pula yang membantu proyek seni. Tapi saya enggak sedih karena saya yakin kalau ini adalah jalan terbaik buat Mbak Desi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust. &lt;/i&gt;Selamat jalan, Mbak Desi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-8738700316498226900?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/8738700316498226900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=8738700316498226900' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8738700316498226900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/8738700316498226900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/obituari-desi.html' title='Obituari Desi'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-6387925773046745924</id><published>2011-05-09T21:13:00.005+07:00</published><updated>2011-05-10T13:47:16.606+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review musik'/><title type='text'>Those Shocking, Shaking Days</title><content type='html'>&lt;div&gt;Saat saya datang di sekitar pukul 15.15, sudah terlihat Ismail Reza dengan piringan hitamnya karena agenda KlabKlassik hari ini adalah menyimak album &lt;i&gt;Those Shocking, Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978&lt;/i&gt; setengah harian. &lt;i&gt;Those Shocking, Shaking Days&lt;/i&gt; berisi grup di era 70an seperti The Panbers, Koes Plus, The Brims, Terenchem, dan lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekitar 15 lagu yang diputar sore itu. Dari semuanya, lagu yang paling berkesan pada saya adalah Haai dari The Panbers. Begitu kali pertama mendengar, saya langsung lupa bahwa ini grup Indonesia karena musiknya berbeda dari jenis lagu Indonesia yang saya tahu dan liriknya berbahasa Inggris. Kesan psikedelik langsung tertangkap begitu lagu ini diputar. Belum lagi ada penggunaan gema suara (&lt;i&gt;echo/reverb&lt;/i&gt;) sehingga suara terdengar “melayang” dan membuat lagu ini tidak terkesan kering. Kang Tikno, selaku penggemar musik-musik Indonesia, menjelaskan bahwa lagu The Panbers yang satu ini sungguh berbeda dengan lagu-lagu The Panbers lainnya yang &lt;i&gt;mellow&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/xhZTiQacrNk?rel=0" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ngomong-ngomong psikedelik, kebudayaan musik psikedelik tidak bisa terlepas dengan musisi yang berupaya agar pendengarnya berimajinasi menghadirkan alam bawah sadar (hal-hal surealis) di alam sadar. Selain kealaman itu sendiri, instrumen juga memiliki peran dalam musik psikedelik sebagai media atau fasilitator untuk mengantarkan alam surealis ke realita—Kang Diecky menambahkan. Selain itu, Budi Warsito berpendapat bahwa dalam musik psikedelik, ada perpanjangan kesadaran sehingga ada eksplorasi instrumen dengan bantuan  apa saja dan LSD itu hanya salah satu cara. Pada sesi ini, sedikit banyak pertanyaan saya mengenai musik psikedelik (lihat tulisan &lt;a href="http://mynameisnia.blogspot.com/2011/04/psychedelic-party.html"&gt;Psychedelic Party&lt;/a&gt;) terjawab.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lagu lainnya yang saya suka adalah Shake Me dari AKA yang dibuka dengan yel-yel ‘Do you like LSD?’ atau ‘Do you like sex?’ yang cukup membuat kami tertawa mendengarnya. AKA banyak mengambil &lt;i&gt;pattern &lt;/i&gt;lagu dari James Brown yang musiknya dipakai untuk orang dansa sehingga ia membutuhkan &lt;i&gt;groove &lt;/i&gt;yang banyak dari drum dan bass. Bahkan tak tanggung, James Brown pernah menggunakan dua drum sekaligus. Ucok Harahap sendiri juga sampai mengimitasi gaya omongan James Brown namun ia masih memiliki kekhasan sendiri. Selain itu, dalam aksi panggungnya, AKA begitu teatrikal sehingga mata dan telinga begitu terpuaskan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-lIuO8cMHRes/Tcf2sgbnxVI/AAAAAAAAA7s/eJXx1nEq23k/s200/those_shocking_shaking_days_various_artists.jpg" style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604719505766335826" /&gt;&lt;div&gt;Jeritan Cinta karya Terenchem membawa pada sebuah diskusi mengenai tema-tema yang dibawakan tahun 70an ini yang rentangnya sungguh luas—dari hal remeh temeh seperti mobil tua (Koes Plus), uang (Duo Kribo), hingga hal besar seperti kritisisme terhadap Orde Baru dalam lagu Evil War karya Shark Move. Keberagaman di zaman dulu tentunya menjadi pembanding dengan zaman sekarang yang temanya begitu sempit: cinta dengan segala kreativitasnya. Kreativitas yang dimaksud contohnya cinta orang yang berbalas, cinta orang yang tidak berbalas, cinta segitiga, selingkuh, dan lainnya. Perbandingan ini membawa pada pertanyaan; ‘mengapa dulu yang kondisi menciptakan lagu itu sangat sulit, mereka bisa membuat musik sebagus dan seberagam ini, namun di kondisi yang serba mudah seperti sekarang justru membawa ke keseragaman?’&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diskusi pun berlanjut pada generasi sekarang yang hilang link dengan apa yang terjadi tahun 1960-1970 sehingga terlihat sebagai &lt;i&gt;timeline &lt;/i&gt;yang terputus dan musiknya saling tidak berkesinambungan. Untuk mengetahui apa yang diketahui pada tahun 1970 juga tidak mudah karena minimnya sumber/literasinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Album ini dibuat dalam beberapa format yaitu CD, MP3, dan piringan hitam. Toko musik independen mengeluarkan piringan hitam lagi dengan argumen agar musisi lebih dihargai (karena ada usaha karena melakukan “ritual” membuka piringan hitam dari &lt;i&gt;cover&lt;/i&gt;, menaruh dengan hati-hati, dst) dan pendengar lebih dihargai (musik terdengar lebih “penuh”). Piringan hitam itu “terbatas” dan menawarkan suara yang analog dengan &lt;i&gt;range bass&lt;/i&gt;-nya yang lebih rendah sehingga memberikan kesan &lt;i&gt;intimate &lt;/i&gt;atau seolah-olah orang yang nyanyi itu benar-benar ada di dekat yang mendengarnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lagu-lagu lain yang diputar adalah Rollis, Arista Birawa, Superkid, dan lainnya. Di antara lagu-lagu tersebut, ada warna lain yang ditawarkan oleh Black Brothers yang berjudul Saman Doye. Lagu ini kental dengan nuansa timur dan bernyanyi dengan bahasa Papua. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bahasa—dalam referensi saya—menjadi keluhan pribadi dimana lirik lagu yang digunakan pada grup-grup di atas itu kebanyakan berbahasa Inggris. Namun bahasa dapat menjadi salah satu faktor untuk membuktikan bahwa, tidak hanya sekarang, pengaruh budaya Barat juga sangat kental di era 70an.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-6387925773046745924?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/6387925773046745924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=6387925773046745924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6387925773046745924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/6387925773046745924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/those-shocking-shaking-days.html' title='Those Shocking, Shaking Days'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/xhZTiQacrNk/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-710219560650146083</id><published>2011-05-08T22:58:00.003+07:00</published><updated>2011-05-08T23:11:50.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><title type='text'>Kampung Kecil di Balik Monumen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Satu jam lima belas menit menunggu satu per satu orang yang berdatangan dari waktu yang ditentukan, akhirnya acara dibuka oleh Rika—koordinator &lt;i&gt;gathering &lt;/i&gt;forum regional Bandung. Langit saat itu serta merta terang, menghilangkan kemurungan di pagi hari karena rintik-rintik hujan sempat berjatuhan di atas Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Di bawah tenda bambu besar yang dibuat permanen dan mungkin ditujukan untuk ruang publik atau pelindung penonton jika tidak hujan, kami duduk melingkar untuk mendengar &lt;i&gt;briefing &lt;/i&gt;singkat dari Rika. Beberapa wajah baru muncul di tengah-tengah peserta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Adalah Kampung Seniman Bangun Pagi yang letaknya berada di belakang monumen dan berada di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Di dalamnya terdapat beberapa saung yang memiliki fungsi masing-masing. Saung pertama yang kami kunjungi adalah Karinding Buhun (Karuhun). Saat kami datang, beberapa pemuda yang memakai pakaian hitam sedang memainkan alat musik karinding serta beberapa anak yang sibuk menonton. Karinding adalah alat musik purba yang dibuat dari bambu dan karet yang berperan sebagai senar. Dulu alat musik ini dipakai oleh para petani untuk mengusir hama. Selain itu, dipercayai bahwa getaran yang diciptakan karinding bisa mendatangkan jodoh. Cara memainkannya adalah alat musik ini ditempelkan di mulut yang terbuka, salah satu ujungnya dipukul, dan menggunakan ruang pada rongga mulut untuk menciptakan suara. Suaranya tidaklah besar sehingga ini cukup menyulitkan jika mereka ingin melakukan aksi panggung karena jika mereka harus membawa 15 orang dengan masing-masing instrumen, maka harus ada 15 &lt;i&gt;microphone &lt;/i&gt;yang disediakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain karinding, ada beberapa alat musik lain seperti celempung (gendang yang terbuat dari bambu), kecrekan, suling, saluang, dan petir. Lagu yang biasa mereka mainkan adalah tembang Cianjuran. Tidak hanya musik, mereka juga melakukan ruwatan (lagu dan aksi teatrikal) untuk hiburan. Mereka menunjukkan pada kami ruwatan mengenai Dasamuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dasamuka—berangkat dari kisah pewayangan Rahwana—yang mereka tampilkan terdapat intervensi terhadap hal-hal kekinian seperti bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Aksi mereka mengisahkan tentang Rahwana, si Raja Setan, yang ingin berubah menjadi baik karena sejahat apapun sebuah makhluk pasti memiliki keinginan untuk menjadi baik. Namun hakikatnya sebagai makhluk jahat yang tidak mungkin berubah baik, maka manusia menghujatnya. Disini masuk kritisisme bahwa mengapa manusia menghujat sifat Rahwana yang jahat tapi mereka juga meniru sifat-sifat buruk tersebut. Hal-hal kekinian pun menjadi nasihat dalam aksi teatrikal ini dimana bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, banjir, adalah salah satu contoh balasan kepada manusia karena telah serakah pada alam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ace Karuhun, pemeran Dasamuka, menjelaskan bahwa Dasamuka itu sebenarnya adalah diri sendiri. Refleksi diri bahwa sadar ketika diri salah dan berusaha untuk memperbaikinya adalah salah satu nasihat yang ingin disampaikan dalam aksi teatrikal ini. Ia berkata, “Tutup mata lahir, buka mata batin. Mata lahir seringkali menipu, tetapi mata batin tidak. Seperti lidah yang seringkali berbohong, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sambil mengambil gambar dan mengobservasi untuk bahan tulisan, kami melihat-lihat saung lain diiringi musik reggae yang dimainkan para pemuda sebagai bentuk kolaborasi antara musik modern dengan musik tradisional. Rupanya selain bermain alat musik, warga kampung Seniman Bangun Pagi ini pandai membuat cenderamata buatan tangan yang terbuat dari biji-bijian, potongan kayu, bambu, taring, dan lainnya. Selain itu terlihat beberapa hasil pahatan dan ukiran yang dibuat dengan peralatan sederhana. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-zPSDyjssImU/TcbAFMop7wI/AAAAAAAAA7k/0aZf0muoRBk/s400/NGI.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604377981832785666" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Foto oleh Mas Anto&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah mengadakan agenda sendiri untuk pembentukan kepengurusan Forum Regional Bandung dan membagikan &lt;i&gt;doorprize &lt;/i&gt;serta &lt;i&gt;souvenir&lt;/i&gt;, maka sampailah pada sesi pamitan warga Kampung Seniman Bandung Pagi yang dipimpin oleh Rika. Menurut saya, pertemuan yang berkisar dua jam itu cukup membuka khazanah budaya bagi siapa saja yang melihatnya. Selain itu, pertemuan ini diharapkan dapat menyadarkan bahwa budaya—dengan segala komponennya—bukan ketika diklaim negara lain barulah beraksi namun sementara itu tidak dilestarikan, karena budaya adalah hal yang diturunkan dan berkelanjutan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekitar pukul 12.30, &lt;i&gt;gathering &lt;/i&gt;resmi ditutup. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-710219560650146083?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/710219560650146083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=710219560650146083' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/710219560650146083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/710219560650146083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/kampung-kecil-di-balik-monumen.html' title='Kampung Kecil di Balik Monumen'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zPSDyjssImU/TcbAFMop7wI/AAAAAAAAA7k/0aZf0muoRBk/s72-c/NGI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-694251628545520884</id><published>2011-05-06T22:13:00.004+07:00</published><updated>2011-05-06T22:35:18.595+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Mengkonkretkan Tuhan</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh kakak sepupu saya bahwa sebaiknya manusia jangan pernah menggantungkan diri kepada manusia lain. Sandarkanlah diri pada Tuhan YME karena Tuhan tidak akan mengecewakan hambanya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kata siapa? Toh saya baru dikecewakan Tuhan ketika ia bilang &lt;i&gt;tidak. -- &lt;/i&gt;ujar saya dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejenak diri ini meragukan keberadaannya. Jika saya berdoa, hati saya bertanya&lt;i&gt; '&lt;/i&gt;emang Dia beneran ada?&lt;i&gt;' &lt;/i&gt;Lalu saya buru-buru meralat dan menyakini bahwa Dia memang ada. Dia &lt;i&gt;harus &lt;/i&gt;ada. Karena kalau Dia tidak ada, maka saya harus lari dan memohon kemana pula? Saya perlu Dia untuk menggantungkan harapan dan juga untuk berkeluh kesah jika sesuatu tidak berjalan dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu saya berdoa sambil ternangis-nangis, memohon supaya dikabulkan. Atau setidaknya Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya melalui mimpi atau apalah. Saya ingin Dia &lt;i&gt;berbicara&lt;/i&gt; pada saya. Rupanya kognisi saya masih pada tahap konkret karena saya menginginkan Tuhan betul-betul ada. Saya tidak bisa membaca tanda-tanda alam disekitar saya yang begitu multitafsir.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengkonkretkan Tuhan dilakukan dengan cara terus menerus mengingat dan menyebut namanya. Saya mengkonkretkan Tuhan dengan cara menghadirkan Ia&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dalam diri saya. Misalnya saat saya bingung, saya bilang, "Duh, Tuhan!" Kadang diri berharap ada yang menjawab, "Apa?" Tapi ya tentunya tidak mungkin. Nyatanya Dia menjadi hadir bukan dalam wujud yang nyata, tetapi dalam sebuah keyakinan bahwa saya tidak sendiri dan Dia ada.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tuhan tidak boleh tidak ada. Dia &lt;i&gt;harus &lt;/i&gt;ada.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-694251628545520884?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/694251628545520884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=694251628545520884' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/694251628545520884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/694251628545520884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/05/mengkonkretkan-tuhan.html' title='Mengkonkretkan Tuhan'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2710837142324569360</id><published>2011-04-30T23:17:00.006+07:00</published><updated>2011-05-01T06:08:20.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review musik'/><title type='text'>Psychedelic Party</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Berbekal niat yang tinggi, saya datang ke Ruku yang tidak mudah ditempuh oleh pejalan kaki karena letaknya sangat jauh sekali. Belum lagi saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, membuat perjalanan terasa berat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lantas apa yang membawa saya harus bersusah payah menuju Ruku yang letaknya nun jauh di sana? Adalah &lt;a href="http://zekekhaseli.com/"&gt;Zeke Khaseli&lt;/a&gt; yang membawa saya ke sana. Terang terus saya belum pernah mendengar namanya dan juga musiknya. Embel-embel dan klaim pembawaan psikedelik pada Zeke Khaseli membuat saya penasaran seperti apakah musik psikedelik (walaupun saya sudah disarankan mendengarkan The Great Gig in The Sky dari Pink Floyd) atau setidaknya menurut Zeke Khaseli?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-vka1937P7hw/TbyN97dkh4I/AAAAAAAAA7U/hRjwd7vfA5o/s320/DSC05155.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601508131615311746" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dibuka dengan Midget Couple Role Model dan diakhiri dengan Pig Paranoia, pada akhirnya saya tidak bisa menyimpulkan sesuatu tentang musik psikedelik. Saya hanya bisa mengkorelasikan nada-nada yang dikeluarkan instrumen Zeke Khaseli dengan pengalaman psikedelik yang saya miliki; sebuah repetisi instrumental visual yang panjang yang kadang mengalir tidak diketahui. Pedar di sana, pendar di sini. Absurd di sana, absurd juga di sini. Jadi subjektif tentunya karena saya sudah pernah mengalami pengalaman psikedelik. Lalu bagaimana dengan yang belum?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Rupanya Zeke Khaseli pintar dalam menciptakan ambience psikedelik dalam tata panggungnya. Ia membawa alien, presiden Obama, penyihir, robot, dan makhluk-makhluk ganjil, bahkan ada beberapa benda lain seperti bola, kursi goyang, dan mainan kuda-kudaan yang belakangan diketahui itu idenya Ariani Darmawan dan Budi Warsito. Selain itu juga ada dukungan visual yang ditembak dari infokus berisi gambar-gambar surealis--bukan pendar warna-warni yang bergemintang di sana sini. Juga empat lampu sorot ditutup kertas minyak berwarna merah sehingga menciptakan suasana tersendiri di atas panggung.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-l5VyUlxyYKA/TbyN9fFN-SI/AAAAAAAAA7E/xIAW-WdECc8/s320/DSC05147.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601508123996977442" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Neowax&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-w1IreOdkCbc/TbyN9OwAsQI/AAAAAAAAA68/gvsNbCWGOSY/s320/DSC05139.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601508119613059330" /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-61oZhuunvjY/TbyN9hSFaNI/AAAAAAAAA7M/_xtLClkGqLI/s320/DSC05184.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601508124587813074" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Zeke Khaseli dan Laudya Cheryl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mendengar Zeke Khaseli agaknya membuat saya rindu untuk mengalami pengalaman psikedelik lagi. Musik-musik menjadi tipis, menjadi sebuah serat-serat yang saling berjauhan. Dunia menjadi serba detail dan apa yang dilihat oleh mata menjadi seraba hidup dan absurd. Sementara badan memberat, pikiran terasa keluar meninggalkan rada. Namun, jauh dari kerinduan, saya lebih sebal jika harus kehilangan kontrol pada diri sehingga mengurangi kenikmatan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Alam sudah ada di dalam dirimu, tinggal kamu keluarkan saja," ujar Haris K Gumelar, sang vokalis.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2710837142324569360?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2710837142324569360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2710837142324569360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2710837142324569360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2710837142324569360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/04/psychedelic-party.html' title='Psychedelic Party'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vka1937P7hw/TbyN97dkh4I/AAAAAAAAA7U/hRjwd7vfA5o/s72-c/DSC05155.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-5985544378632665275</id><published>2011-04-27T21:53:00.008+07:00</published><updated>2011-04-27T22:48:31.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Otoritas Ada Pada Pemilik Gedung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Beberapa belakangan ini, rumah menjadi topik yang menarik perhatian saya. Mungkin karena:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. Teman saya menulis di statusnya; Otoritas ada pada pemilik gedung. Saya tidak tahu maksudnya tapi saya pinjam kalimatnya sebagai judul utama blog ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. Giuliana Rancic, seorang presenter acara gosip E! di Amerika, pernah mengeluhkan ini di acaranya karena merasa kondominium suaminya itu bukan rumahnya. Guliana kesulitan menata barang-barangnya, misalnya saat memasukkan pakaiannya ke lemari pakaian dan malah disimpan di koper karena dia merasa sedang "menginap" di rumah suaminya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. Kakak sepupu saya merasakan hal yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-ShyDOtbuXTM/TbgykCHzHwI/AAAAAAAAA60/OLGCFK4-C1c/s320/green-home.jpg" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600281731261472514" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya belum berkeluarga namun saya tahu rasanya sebagai &lt;i&gt;nebengers&lt;/i&gt; dan hidup di dalam bangunan yang dimiliki oleh seseorang. Rasanya serba terbatas dan tidak enak untuk mengembangkan kreativitas (misalnya mengecat dinding). Tapi saya sadar bahwa saya ini hanya saudaranya, bukan dalam hubungan yang lebih intim seperti suami atau istri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hal yang paling menarik pada Giuliana dan kakak sepupu saya adalah mereka sama-sama seorang istri yang tinggal di bangunan milik suami. Mungkin rumahnya atas nama suami, dibangun dengan biaya suami, dan direncanakan pembangunannya oleh suami. Dalam &lt;i&gt;reality show&lt;/i&gt;-nya, Guiliana sendiri jelas-jelas ditunjukkan bahwa ia tidak diberi peran untuk ikut menyumbang ide pembangunan rumahnya. Kakak perempuan saya pun demikian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oke, mungkin suami lebih paham dengan tata ruang. Jadi sebaiknya istri yang mengisi pernak-pernik interiornya saja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi ternyata suami pun lebih pandai mengisi interior ketimbang istri. Oke, istri boleh mem-&lt;i&gt;booking&lt;/i&gt; dapur sebagai kerajaan kecilnya. Karena bukankah takdir istri yang sering kau sebut-sebut itu adalah melakukan pekerjaan domestik seperti memasak atau mencuci?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya tidak tahu nasib teman saya atau Guiliana, yang pasti kakak sepupu saya pun tidak mendapat wilayah kecilnya. Tidak dapur, tidak pula menghias--menjejak sedikit saja barang kesukaannya untuk memberi tanda bahwa ia juga tinggal di situ, hidup di situ. Ketika ia mau menata ulang atau mau melakukan sesuatu dengan dapurnya, ia tidak berani karena suami tidak memperbolehkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang menjadi permasalahan di sini adalah jika perempuan tidak dilihat dilihat sebagai partner hidup yang tinggal bersama, yang diberi kebebasan berpendapat dan didengar pula, yang juga dijalin komunikasi dua arah, maka penanggungjawab ada dipihak yang memiliki gedung tapi tidak otoriter. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun jika begitu caranya, maka perempuan tidak boleh ongkang-ongkang kaki dan berharap penuh pada suami. Pertama, mungkin bisa udunan biaya rumah (namun akhirnya akan ada peributan itu rumah milik siapa jika mau bercerai). Kedua, jika memang suami sudah keburu kaya dan keburu mampu membuat rumah, maka perempuan juga harus punya rumah/tanah/investasi di tempat lain untuk kasus terburuk. Tidak bermaksud mendoakan, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika kau memang bernasib kurang baik (sudah tidak kaya, punya suami otoriter pula), maka terima dan ikhlaskan sajalah. Jika harta dan tahta bisa membikin ego suami terpenuhi, maka beri makanlah sekali-kali namun bukan berarti kau meniadakan egomu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lagipula, suruh siapa kau menikahinya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-5985544378632665275?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/5985544378632665275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=5985544378632665275' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5985544378632665275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/5985544378632665275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/04/otoritas-ada-pada-pemilik-rumah.html' title='Otoritas Ada Pada Pemilik Gedung'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ShyDOtbuXTM/TbgykCHzHwI/AAAAAAAAA60/OLGCFK4-C1c/s72-c/green-home.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-2940330249284817680</id><published>2011-04-24T20:51:00.010+07:00</published><updated>2011-04-25T19:57:49.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review tokoh'/><title type='text'>Gloomy Sunday</title><content type='html'>Jika kau duduk di depan sebuah kotak warna-warni barang beberapa hari saja, kau akan melihat seorang polisi yang menjadi bintang televisi karena &lt;i&gt;lipsync &lt;/i&gt;lagu India di internet. Dalam sekejap, ia diundang kesana-kemari, dielu-elukan layaknya seorang &lt;i&gt;legend&lt;/i&gt;, bahkan masuk ke program berita prestisius di salah satu stasiun televisi. Lalu industri, ibarat mercusuar, langsung menyorot lampu ke arahnya. Pemuda itu ditawarkan uang banyak dan dilelang ibarat barang.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aksinya hanya satu. Tidak, ia tidak membuat lagu maha jenius. Ia hanya pemuda biasa menyanyikan ulang lagu India. Dan ibarat jamur yang diganggu lalu tumbuh jamur-jamur lain, maka sebentar lagi akan muncul di televisi orang-orang yang bernasib seperti si pemuda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Melihat keadaan seperti ini, agaknya para penikmat musik yang ... (saya agak kesulitan menulis disini: berkualitas? &lt;i&gt;non-mainstream?&lt;/i&gt; agaknya label itu terlalu eksekutif. "Berbeda selera" terdengar lebih baik) dan tidak melihat musik sebagai hiburan datar, harus mengurungkan cita-cita bahwa para pemuda dan pemudi negara ini akan berkumpul di suatu tempat untuk mendengarkan piringan hitam atau berjejal di depan auditorium untuk mendengarkan musik klasik.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi mungkin ini, komunitas kecil yang terselip di balik rerimbun pohon di Jalan Aceh yang mungkin bisa memercikkan api kecil untuk mewujudkan cita-cita itu. Ruang kecil disediakan untuk mengapresiasi musik-musik yang tidak digandrungi banyak orang. Memang pernah tergaung musik-musik klasik dan piringan hitam, tapi komunitas mecoba membuka terhadap keberagaman selera (namun tetap dalam rel yang sama)  lalu mencoba mengapresiasinya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kali ini saya membawa &lt;i&gt;Gloomy Sunday&lt;/i&gt; karya Billie Holiday dalam kegiatan KlabKlassik Edisi Playlist #5. Awal saya tertarik dengan lagu ini adalah penasaran pada kisah dibalik lagunya. Sebelum saya berkisah, coba tolong kau dengarkan dulu lagunya:&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;iframe title="YouTube video player" width="480" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/zBIqLqUenz0?rel=0" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lagu ini disebut-sebut sebagai &lt;i&gt;Hungarian suicide song&lt;/i&gt;. Memangnya benar-benar pernah ada bunuh diri massal yang pernah terjadi gara-gara lagu ini?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Gloomy Sunday &lt;/i&gt;diciptakan oleh seorang pianis dan juga komposer Hungaria bernama Rezső Seress (1933) yang lirik lagunya ditulis oleh László Jávor. Jávor memasukkan tema duka seseorang yang kehilangan orang yang dicintai dengan memutuskan untuk bunuh diri agar bisa bertemu dengan kekasihnya di kehidupan nanti. Seress sendiri mati bunuh diri pada tahun 1968 karena depresi dan trauma setelah dipenjara dan kematian ibunya di kamp konsentrasi Nazi pada Perang Dunia II.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mitos menyatakan lagu ini berdampak secara signifikan terhadap meningkatnya jumlah kasus bunuh diri sehingga dilarang diputar dimana-mana. Ada juga yang bilang bahwa ini hanya strategi marketing agar lagu ini bisa hit.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-uI07_grpnEk/TbVpCPKhXZI/AAAAAAAAA6s/-tzXhRwW39Y/s200/220px-Billie_Holiday_0001_original.jpg" style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 155px; height: 200px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599497198856396178" /&gt;&lt;div&gt;Dari semua penyanyi yang menyanyikan lagu ini, saya memilih Billie Holiday--seorang penyanyi Jazz Amerika--karena ia adalah penyanyi yang berelasi kuat dengan lagu ini. Selain itu, dalam diskusi KlabKlassik, Billie Holiday disebut-sebut mampu membawakan emosi yang kuat di dalam lagu sehingga tanpa mendengar kisah dibalik lagunya pun, orang akan mendengar bahwa ada suatu pesan yang ingin disampaikan di dalam lagu. Selain itu mungkin emosi tercermin dari bass yang berdebam sepanjang lagu--tidak dikurangi walaupun vocal atau instrumen lain yang masuk--menggambarkan sisi gelap manusia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Juga bisa jadi lirik lagu dalam &lt;i&gt;Gloomy Sunday &lt;/i&gt;ini membawa musik hanya sebagai pengiring layaknya musikalisasi puisi. Namun kadang musik juga membawa dorongan bawah sadar yang membawa emosi-emosi agar semakin kuat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Gloomy Sunday&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;with shadows I spend it all&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;my heart and I&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;have decided to end it all&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Soon there'll be prayers &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;and candles are lit, I know&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;let them not weep&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;let them know, that I'm glad to go&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;---- Gloomy Sunday&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-2940330249284817680?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/2940330249284817680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=2940330249284817680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2940330249284817680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/2940330249284817680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/04/gloomy-sunday.html' title='Gloomy Sunday'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/zBIqLqUenz0/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-4916365488097763765</id><published>2011-04-10T21:20:00.005+07:00</published><updated>2011-07-24T20:51:05.135+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review musik'/><title type='text'>Hikayat Piringan Hitam: Digital vs Analog</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Pbts3JdBR8I/TaG9xj7Et2I/AAAAAAAAA6Q/dMxTrtYxDKQ/s1600/DSC05070.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Pbts3JdBR8I/TaG9xj7Et2I/AAAAAAAAA6Q/dMxTrtYxDKQ/s320/DSC05070.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593960871325120354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cQkW-R4-AuY/TaG9x2Woi1I/AAAAAAAAA6Y/RgF4D9sYIdE/s1600/DSC05074.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-cQkW-R4-AuY/TaG9x2Woi1I/AAAAAAAAA6Y/RgF4D9sYIdE/s320/DSC05074.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593960876272552786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hari ini (10/04) adalah hari yang bersejarah bagi saya--yang mestinya patut dirayakan dengan tumpengan--karena saya mendengarkan musik dari piringan hitam untuk pertama kalinya. Sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;player &lt;/span&gt;dan beberapa piringan hitam yang dibawa Ismail Reza untuk acara Klab Klassik di Tobucil, membuat yang datang terkagum-kagum dengan keganjilan dan keklasikkan di dunia serba digital seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sambil menunggu yang lain datang, satu per satu piringan hitam diputar di atas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;turn table&lt;/span&gt;. Namanya sama dengan yang dipakai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;disc jockey, &lt;/span&gt;bedanya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;turn table disc jockey &lt;/span&gt;memiliki karet yang kuat sehingga bisa dibuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scratching&lt;/span&gt;. Setelah mendengarkan lagu-lagu dari Louis Armstrong, Getz/Gilberto, Stanley Clarke, Azimuth, Sunn O)))/Boris, dan lain-lainnya, membuat teman-teman berkomentar bahwa mendengarnya seperti sedang menyaksikan pertunjukkan secara langsung dan karakter atau atmosfir lagu lebih terasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diiringi sayup lagu-lagu di piringan hitam, Kang Tikno menceritakan proses pembuatan dari format analog menjadi digital. Dalam musik yang keluar dari piringan hitam, terasa betul detail-detail alat musik dan bahkan suara nafas manusia yang hilang dalam format digital karena tidak bisa menangkap frekuensi yang dibuat akibat suara dikompres habis-habisan dan karakter alat musik menjadi tidak diperhatikan. Detail dari alat musik menjadi hal yang penting karena dapat membuat ciri khas sebuah band. Koes Plus, misalnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam proses digital, rekaman dipisah per &lt;span style="font-style: italic;"&gt;track. &lt;/span&gt;Misalnya untuk menciptakan sebuah lagu, maka orang tersebut merekam vokalnya dulu, gitarnya dulu, atau alat musik lainnya sehingga jika ada kesalahan, hanya salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;track &lt;/span&gt;yang dihapus. Sementara proses rekaman analog itu dilakukan secara keseluruhan. Jika ditengah-tengah vokalis melakukan kesalahan, maka semua instrumen harus diulang dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-6CZPe48g9Jo/TaG9x3xUOBI/AAAAAAAAA6g/LFW8h72Tbko/s1600/DSC05077.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6CZPe48g9Jo/TaG9x3xUOBI/AAAAAAAAA6g/LFW8h72Tbko/s320/DSC05077.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593960876652902418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya mengapa jika piringan hitam sedemikian berkualitasnya karena dapat mengeluarkan detail-detail dari musik harus diturunkan derajatnya menjadi serba digital. Jadi Kang Tikno berkisah seperti ini: piringan hitam itu awalnya ada di Perang Dunia I dan dibuat di Jerman. Awalnya piringan hitam dipakai militer sebagai alat rekam atau penyadap (lihat film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;King's Speech &lt;/span&gt;dimana piringan hitam dijadikan alat rekam). Diawali dari Les Paul di tahun 1954 yang meminta agar piringan hitam diperbanyak. Karena produksinya susah dan mahal, lalu--semata-mata mencari kemudahan--lalu industri meyakinkan bahwa piringan hitam sudah usang dan sudah tidak zaman. Maka, di tahun 1985-an, piringan hitam sudah jarang ditemukan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-style: italic;"&gt;Jangan-jangan selera ditentukan oleh industri, bukan industri yang menentukan selera.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ismail Reza juga bilang bahwa kedatangan CD pertama kali diiringi promosi besar-besaran bahwa CD dapat merekam suara 20Hz - 20.000Hz. Namun belum tentu potensi CD ini bisa dimaksimalkan terkait dengan kemampuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;engineer &lt;/span&gt;untuk menciptakan suara seperti itu. Selain dari kemampuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;engineer, &lt;/span&gt;jelas terjadi penurunan kualitas dari piringan hitam, kaset, CD, MP3, atau lagu-lagu yang diunduh. Semua detail terkikis seiring perjalanan dan sudah--menurut istilah Kang Tono--tidak berat dan tidak kering. Kesan-kesan visual, seperti yang dikatakan Kang Diecky, bisa dikomunikasikan dengan baik oleh analog yang disebut-sebut lebih humanis. Detail-detail yang diberikan bisa membantu pendengarnya membayangkan dimana si drummer berada, bagaimana si gitaris memainkan gitarnya, dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-style: italic;"&gt;Omong-omong tentang visual, apa ya rasanya berada di bawah pengaruh mushroom sambil mendengarkan piringan hitam? Sepertinya efek visualnya lebih menggila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://www.metalrarities.com/images/cover_483201692008.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" alt="" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cover &lt;/span&gt;piringan hitam yang menyediakan ruang besar untuk menceritakan setiap detail yang ada di musik, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cover design &lt;/span&gt;pun masuk ke dalam satu kesatuan penceritaan dari sebuah lagu seperti Tarkus (1971) yang covernya diisi dengan cerita bergambar tentang makhluk Tarkus yang beregenerasi setelah berperang dengan makhluk lain yang diceritakan dalam musik selama 25 menitan tanpa jeda. Selain itu pun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cover &lt;/span&gt;memberi ruang untuk musisi bercerita sehingga pendengar bisa merasa dekat dengan musisinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu piringan hitam hanya berisi beberapa buah lagu untuk menunjukkan jelas kualitas diutamakan ketimbang kuantitas. Kualitas baru bisa didapat jika pendengar mau duduk dan mendengarkan. Sementara itu biarkan musik memberikan jeda-jeda untuk pendengar agar bisa memaknai di setiap rincian nada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba kau tengok ratusan atau ribuan musik digital yang telah kau unduh dengan cuma-cuma. Tidakkah sekali-kali kau ingin merasakan duduk berlama-lama untuk menghayati setiap detail barang satu lagu saja?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-4916365488097763765?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/4916365488097763765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=4916365488097763765' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4916365488097763765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/4916365488097763765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/04/hikayat-piringan-hitam-digital-vs.html' title='Hikayat Piringan Hitam: Digital vs Analog'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Pbts3JdBR8I/TaG9xj7Et2I/AAAAAAAAA6Q/dMxTrtYxDKQ/s72-c/DSC05070.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-7972270529741381609</id><published>2011-04-10T14:42:00.005+07:00</published><updated>2011-04-10T15:16:59.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Single</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ehm, jadi begini, saudara-saudara ... jadi begini. Jadi saya akan menghabiskan beberapa menit ke depan mengeluh, marah-marah, dan protes terhadap apa yang sudah saya lalui beberapa jam ke belakang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alkisah saya baru diminta menjadi pager ayu pernikahan keponakan saya yang usianya 3 tahun lebih muda. Harusnya yang menjadi pager ayu itu abege-abege SMP atau SMA, bukan tante-tante yang sudah dewasa di usia 24 seperti saya (masih muda, namun saya kepingin sarkas). Namun karena saya &lt;i&gt;single &lt;/i&gt;(bisa diartikan belum menikah dan belum punya pacar), maka dinobatkanlah tante ini sebagai ketua pager ayu (yang akhirnya membawahi dua pager ayu dan pager bagus anak sekolahan) dan berlagak layaknya mucikari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-1CIDIwqyDJ0/TaFlm5QXaAI/AAAAAAAAA6I/2Whj37bew6I/s320/DSC05065.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593863931049764866" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu selanjutnya kejadiannya begini: Nia, kamu dong yang bawa seserahannya. Nia, bawanya satu-satu aja, jangan langsung tiga. Nia, kamu bagiin dong &lt;i&gt;snack-&lt;/i&gt;nya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;(nih gue kasih &lt;i&gt;snake &lt;/i&gt;sekalian) ke orang-orang yang datang pas akad nikah. Nia, kamu jaga di depan. Nia, apa sudah dicek tempat resepsinya. Dikit-dikit Nia, dikit-dikit Nia. Nia, Niaa, Niaa!!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begini. Bukannya saya tidak mau menolong saudara saya yang nikahan.&lt;b&gt; Bagi saya aturan mainnya di sini tidak adil.&lt;/b&gt; Yang membuat saya tidak suka ada dua hal: pertama, saya tidak suka diperintah. Tidak ikhlas? Emang! Menyebalkan? Baru tahu? Kedua, kenapa &lt;i&gt;single &lt;/i&gt;ini membuat saya jadi harus melakukan ini itu sementara yang tidak &lt;i&gt;single &lt;/i&gt;bisa berbeha-beha (berleha-leha maksudnya, tapi ya tadi.. saya lagi ingin sarkas)? Ini namanya sudah jatuh ketimpa tangga. Ini apaan sih?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini sangat tidak adil. Kalau yang namanya acara pernikahan itu dilakukan oleh sebuah keluarga besar sebagai tim, maka semuanya terlibat dong! Mau yang janda, duda, &lt;i&gt;single&lt;/i&gt;, kumpul kebo ... semua mendapat tugas yang sama. Kalau gini ngerjain namanya! Gila, saya paling enggak suka konstruksi sosial yang satu ini!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lucunya, kalau saya kemukakan ini ke saudara saya, yang terjadi hanyalah misinterpretasi. Dianggap sirik-lah, dianggap ingin keburu nyusul-lah. Bukaaan, bukan itu. Justru saya bangga saya belum menikah karena kesempatan saya mengeksplor potensi saya lebih besar. Lagian kalau nyuruh saya cepet-cepet nikah, emang situ mau biayain resepsi dan kehidupan setelahnya? Enggak ,'kan? Diam saja, gimana? Kalau saya enggak mau nikah, gimana?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan tadi pun saya sudah di-&lt;i&gt;booking &lt;/i&gt;untuk bulan Mei. &lt;i&gt;Yea, rite.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21986600-7972270529741381609?l=mynameisnia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mynameisnia.blogspot.com/feeds/7972270529741381609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21986600&amp;postID=7972270529741381609' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7972270529741381609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21986600/posts/default/7972270529741381609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mynameisnia.blogspot.com/2011/04/single.html' title='Single'/><author><name>Nia Janiar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06889048216888269160</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-iiFEvRIlUWE/TsSN4-fMmeI/AAAAAAAABPE/8qPQT7tfXqg/s1600/66258_137361342977690_100001114758966_165261_6894177_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1CIDIwqyDJ0/TaFlm5QXaAI/AAAAAAAAA6I/2Whj37bew6I/s72-c/DSC05065.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21986600.post-1716931860628234525</id><published>2011-04-09T23:39:00.005+07:00</published><updated>2011-04-11T08:04:37.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saksi mata'/><title type='text'>Hunting Heritage Bersama NatGeo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadi, tadi pagi adalah kali pertama saya &lt;i&gt;hunting &lt;/i&gt;(berburu foto dan tulisan) bersama forum National Geographic Indonesia regional Bandung. Tema yang diusung saat itu adalah &lt;i&gt;heritage&lt;/i&gt;, oleh karenanya kegiatan dilakukan dikisaran Braga dan kawasan Pecinan. Maksud awalnya adalah peserta &lt;i&gt;hunting &lt;/i&gt;membidik foto atau membuat karya tulis tentang bangunan-bangunan kelas A (bangunan bersejarah yang boleh direnovasi namun yang fisiknya sama sekali tidak boleh berubah), B (sama dengan A tapi boleh berubah sedikit), dan C (boleh berubah bahkan digusur).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Awalnya peserta janjian di The Kiosk Braga pukul 8 pagi namun akhirnya pindah ke Alfamart juga. Saat saya, Rulli (saudara laki-laki), dan Ratih (pacarnya Rulli) datang, baru beberapa orang yang berkumpul. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya &lt;i&gt;briefing &lt;/i&gt;dan pembagian kelompok dimulai: beberapa orang ke kawasan alun-alun dan beberapa orang ke kawasan Pecinan. Awalnya saya, Rulli, dan Ratih memilih ke Pecinan. Namun yang ke alun-alun hanya tiga orang, akhirnya kami memilih gabung ke alun-alun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-7HFKwIH0WYk/TaCSpYVdHbI/AAAAAAAAA54/Q4Gk5uagTFk/s320/DSC04992.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593631976798887346" /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kami (saya, Rulli, Ratih, Mas Christ, Mbak Rika, Cipoet, Ryan, satu orang dari WALHI) melewati kawasan padat, disambung ke pertokoan eks Yogya Banceuy, lanjut ke Sumur Bandung, naik ke menara Mesjid Agung yang setinggi 19 lantai, dan berakhir di Gedung Indonesia Menggugat untuk &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt;. Sambil menunggu &lt;i&gt;sharing &lt;/i&gt;dan membaca ulang tulisan saya di kertas, agaknya perjalanan tadi menyimpang tema &lt;i&gt;heritage &lt;/i&gt;yang dimaksud karena saya jadinya menulis tentang kepadatan terselubung, kotornya jalanan, dan mistisisme di Sumur Bandung. Betul, ternyata. Ketika menulis atau memotret, peserta harus memiliki pedoman batasan-batasan agar masih di dalam rel tema. Selain itu tulisan saya jadinya hanya berupa hasil observasi kasat mata saja dengan data yang didukung dari opini masyarakat yang terkadang tidak valid juga (tapi bisa untuk me
